
Michelle bertolak ke apartemennya di Surabaya selang dua hari tinggal di rumah orang tuanya.
Kembali menapaki kehidupan sebagai model dan designer, tukang jahit dan bos besar rupanya tak membuatnya lupa akan tanggung jawabnya sebagai istri Paijo.
Saban hari dia mengirimkan makan untuknya baik pagi, siang, dan malam melalu delivery online.
Paijo betul-betul merasa wanita itu mengoyak seluruh kerinduannya siang ini di hari Jumat. Ia menerima sop buntut dan kopi cappucino dengan selarik pesan yang di tulis si ojek daring.
...“Happy launch, sweetie coco. Muach... Muach... Kangen.”...
Jelas saja selain jengah dengan si ojol yang pringas-pringis saat mengantarnya dan mengumumkan perihal tulisannya yang acak kadut itu. Muach... muach... dalam tulisan itu membatalkan fantasinya pada bibir Michelle.
Paijo justru ngeri membayangkan si ojol saat menulisnya.
Mengambil ponsel ia menulis pesan untuk Michelle yang sudah membuka blokir nomernya.
“Lain kali gak perlu pakai muach... muach. Jijik!”
Sementara dari luar, Agus tunggang langgang masuk ke dalam kelurahan dan menggebrak-gebrak meja kerjanya tiba-tiba.
“Jo... Di luar ada pak Bakri, nyari kamu sambil marah-marah.”
“Joh...” Paijo menyembunyikan surat cinta dari Michelle di kantong celana seraya menyedot kopi cappucino dingin dari kopi kenamaan. Alih-alih sigap mendatangi Pak Bakri di halaman depan, Paijo masih sempat menyendok kuah sop buntut dari wadahnya dan mengunyahnya.
“Sini kamu, Jo!”
Dengan tegap, marah memang terlihat di wajah dan suaranya. Tetapi Paijo masih bersyukur komandan senior itu tidak mengacungkan senjatanya.
“Assu kamu!” Tamparan keras mendarat di pipi Paijo. “Anakku nangis setiap hari gara-gara kamu! Kurang ajar.”
__ADS_1
Satu tamparan lagi mendarat di pipi satunya.
Mendapatkan perlakuan yang menyita banyak perhatian pegawai kelurahan bahkan pengunjung yang masih menanti jam buka kantor. Di depannya, Paijo tak lupa memberi hormat seperti yang dilakukan bawahan ke atasan di berikan.
Wajahnya tak marah, kesal pun tidak, ia justru lega ada balasan dari keluarga Puspita untuk kelakuannya. Setidaknya rasa benci tersalurkan daripada menjadi dendam berkepanjangan.
“Saya minta maaf. Segala kekhilafan saya memang tidak mudah Puspita terima.”
Pak Bakri menghela napas, tangannya mencengkeram tepi meja.
“Sejak awal saya memang tidak setuju Puspita milih kamu.” Pak Bakri menunjuk dada Paijo. “Gajimu lebih sedikit dari anakku. Bagaimana mungkin kamu bisa membahagiakan anakku satu-satunya!” ucapnya dengan bahasa Jawa kasar.
“Kalau gitu di ikhlaskan saja pertunangan kami batal, Pak.”
“Yo jelas.” Pak Bakri menatap sekeliling sembari seraya mencondongkan tubuhnya ke dekat Paijo. “Matur nuwun sudah selingkuh, anakku pasti aku doakan punya suami yang lebih bucin dan penyayang lebih dari kamu.”
Joh... Joh.... Untung batal jadi mantu komandan. Salah dikit dikaploki setiap hari. Yungalah.
Pak Bakri menepuk bahu Paijo dengan semangat. “Jangan tenang dulu. Selama Puspita belum bahagia saya doakan juga kamu susah.”
Nauzubillah.
Paijo amit-amit dalam hati. Doa anak piatu sepertinya semoga diijabah oleh Tuhan bahwa dia akan bahagia bersama bule yang saban habis mandi mengirim fotonya untuknya sementara dia perlu mengirim fotonya yang berseragam ke Michelle setiap sampai depan kelurahan.
“Saya doakan kalau perlu saya buatkan pengajian agar Puspita lekas bahagia, Pak. Komandan Wisnu suka itu sama Puspita. Pak Bakri bisa itu ngasih tugas negara ke mereka biar witing tresno jalaran saka kulino amor.” Paijo memberitahu hal yang belum seratus persen betul, tapi setidaknya itu lumayan bikin Pak Bakri kepikiran.
“Akan saya atur.” Pak Bakri menepuk-nepuk bahunya seraya melengos pergi.
Di saat ia sudah keluar kantor kelurahan, barulah Paijo terduduk sembari memegang pipinya.
__ADS_1
“Sakit banget, Joh... Joh...”
“Kok bisa Pak Bakri nampar kamu, Jo? Beneran kamu selingkuh?” tanya Agus tiba-tiba dari bawah meja. Dia tiarap saat Paijo di tampar-tampar tadi.
Paijo mengelus pipinya. ”Biasanya di cium Icel ini malah di kaplok tangan komandan. Pakai tenaga dalam pasti tadi.”
“Di cium Icel? Maksudmu Michelle, bule yang dulu datang ke sini? Nggak mungkin!” Agus geleng-geleng kepala. Tidak percaya.
Paijo hanya menarik kedua sudut bibirnya sembari pamer foto Michelle yang mencium pipinya.
“Joh... Garangan kurang ajar kamu, Jo. Tapi aku juga mau itu.” Agus setengah merengek seraya memandangi foto Michelle lebih cermat.
“Pakai baju tidur. Ajegile... Dapat pelet dari Ndoro bei Kusumonegoro kamu?”
Paijo memamerkan keindahan telapak tangannya yang kerap ia ajak bekerja keras di sawah dan kantor.
“Tangan kapalan dan kulitku yang eksotis peletnya.” katanya bangga.
“Nggak mungkin!” Agus menggelengkan kepala kuat-kuat.
“Nggak percaya tidak masalah, wong aku saja juga nggak percaya.” Paijo terbahak-bahak sembari menonyor kening Agus.
”Jangan takut jomblo, sapa tau jodohmu masih di luar negeri.”
“Halah.” Agus menyahut kopi cappucino Paijo. “Tak minum, itung-itung cicipi kopi mahal daripada gonduk.”
Paijo mengangguk dan menghela napas setelahnya.
...-----------...
__ADS_1