
Paijo Halim Pradana sangat paham, seorang polwan yang memboncengnya sedang berkubang pada tanda tanya yang berbayang-bayang keresahan. Serupa tugas negara, mungkin Puspita sedang menerka-nerka ia kenapa? Berbuat apa? Sejak kapan dan siap-siap menginterogasinya saat terduga sudah di depan mata.
Mobil merah? Cewek pirang? Rumah sakit? Tahu dari mana tunangannya itu tidak lagi penting baginya. Ia akan menganggap itu sebagai jalan keluar yang menggiringnya pada momen paling getir dan penuh risiko.
Motor melewati tpr yang tidak di jaga petugas dengan mulus di atas jalan aspal halus yang sepi kendaraan. Suasana sore khas pedesaan tepi pantai terasa nikmat di rasakan oleh dua sejoli jatuh cinta. Namun tidak dengan keduanya yang terbelit belenggu cinta. Susah hati terlihat dari wajah keduanya sepanjang perjalanan ke pantai Pandansari yang ikonik dengan mercusuarnya.
Memarkirkan motor di depan pagar wisata kebun buah naga wonoroto. Sepoi-sepoi angin sore yang menerpa deretan pohon cemara laut di sepanjang pesisir pantai itu membuat Paijo menghela napas.
Kemarin rasanya datang ke pantai slalu terasa istimewa, duduk di pasir pantai, merasakan hangatnya matahari sore, berdua saja sembari memandangi lautan yang membentang luas sudah romantis dan syahdu. Bahunya berguna sebagai sandaran Puspita yang lelah bekerja. Kupingnya mendengar segala kesuh kesahnya. Tangannya merangkul bahunya. Tapi hari ini untuk menggandeng tangan Puspita, Paijo rasanya perlu berpikir lama.
Sadar Paijo rupanya hanya diam saja alih-alih gegas mengajaknya mencari tempat untuk bicara. Puspita melepas jaketnya dengan keangkuhan yang terlatih. Penampilannya yang di saksikan beberapa orang yang menanti matahari terbenam berdecak ngeri.
“Jadi bicara nggak mas?”
Paijo tersentak seraya meraih tangannya dengan keraguan yang membuat Puspita mengernyit.
“Kenapa gugup mas?”
Paijo menunjuk pantai dengan tangan kirinya. “Ke sana dulu.”
__ADS_1
Terbiasa mengiyakan tanpa protes, keduanya berjalan sembari bergandengan tangan. Ekspresi tanpa warna, datar dan tidak berselera. Kendati begitu, setibanya kaki menginjak pasir pantai dan deru ombak semakin terasa dekat di ujung sepatu.
Puspita menoleh ke arah Paijo dengan tatapan serius.
“Aku hanya butuh kejujuranmu saja mas. Serius. Ngomong seadanya. Kita sudah sedekat permukaan air dan tanah.”
Paijo menghirup aroma laut seraya melepas tangannya. Bersedekap ia menatap debur ombak.
“Aku nggak tahu harus mulai darimana, Pus. Tapi satu yang bisa aku katakan. Aku buat salah.”
“Salah yang bagaimana?” sahut Puspita seraya pindah ke hadapan Paijo. Tatapannya menentang pria itu dengan penuh selidik.
”Penjelasannya bisa di mulai dari cewek pirang itu dan sebabnya kenapa kamu bisa menyimpulkan salah.”
Puspita tercengang bersamaan dengan ombak yang lumayan deras menerjang kakinya. Celana panjang basah namun hatinya panas.
”Kamu selingkuh?” Puspita memasang kuda-kuda saat pasir yang dia pijak terbawa air. Berulang kali dia kerap mendapati pasangan-pasangan di luar pernikahan, open bo dan kesalahan satu malam di hotel-hotel melati yang di laporan warga menjadi tempat maksiat.
Paijo salah satunya? Pikiran itu bersemayam. Terlebih ia jarang pulang? Paijo tinggal dimana terusan? Tiga bulan berpisah dan itu mengubah segalanya?
__ADS_1
Puspita meraih tangan Paijo dan menggenggamnya.
“Aku mau kamu cerita semuanya mas. Jangan cuma epilog. Aku butuh prolognya.” kata Puspita menggebu-gebu.
Paijo menyingkir dari tepi pantai saat ombak besar terlihat datang.
“Kalau kamu tahu prolognya, kamu sudah tahu epilog-nya.” kata Paijo sembari menari Puspita.
“Katakan, apa aku perlu menggunakan caraku seperti di kepolisian?”
Paijo berbalik setelah berada di bawah pohon cemara laut. Berada jauh dari orang-orang yang bisa mendengar perdebatan mereka.
“Cincin di jariku adalah simbol pertunangan kita. Dan ini sudah tidak ada artinya lagi, Pus. Selamanya hanya akan menjadi simbol.” Paijo berusaha melepas cincinnya sebelum menaruh di telapak kanan tangan Puspita.
“Kamu berhak mendapat yang terbaik, seperti komandan Wisnu tentunya. Seperti harapan orang tuamu. Bukan bajingan sepertiku. Jangan tanya lagi apa prolognya, aku melepasmu.”
Paijo mengangkat kedua tangannya. Menyerah. Dia tidak sanggup mengatakan yang sejujurnya seolah ada dua perasaan yang dia jaga. Dia lindungi namun dengan cara yang salah.
Paijo menggenggam cincin itu dalam diam yang berlarut-larut sampai matahari hilang dalam kegelapan awan sebelum melemparnya ke pasir pantai.
__ADS_1
“Cewek pirang, mobil merah, rumah sakit? Aku bakal cari sendiri siapa dia.”
...----------------...