Saat Bertemu Kamu (Romantic Scandal)

Saat Bertemu Kamu (Romantic Scandal)
Terciduk


__ADS_3

Putaran detik, menit dan jam yang Paijo habiskan di kontrakan menggelisahinya setiap kali memikirkan nasib Puspita sekarang. Ia yakin sekarang tak cuma cemberut, Puspita pasti tidak semangat bekerja.


Hatinya tersiksa sendiri, sudah jauh dari sempurna selingkuh lagi. Apa yang bisa ia banggakan?


Paijo tidak mungkin mengabaikan kata hati. Semakin lama, semakin perasaannya kalut. Hubungannya harus di sudahi secepat mungkin. Walau pun segala yang ia pikirkan masih ruwet tak terkendali.


“Semangat, Jon. Hidupmu sudah susah, jangan nambah susah dengan punya dua wanita. Ribet, modal nggak cukup. Istanamu cuma dari gedek yang di upgrade jadi joglo dari hasil jual tanah. Gak usah bangga, nggak usah ngerepotin bapakmu lupakan harga diri.”


Paijo menundukkan kepala dengan bahu merosot. Helaan napasnya keluar dengan kasar. Ia dan Puspita tidak mungkin bersama. Sudah jelas. Tetapi ia dengan Michelle juga belum jelas apakah bisa di terima di keluarganya.


Paijo memikirkannya dan masih berharap jenjang sosial yang sangat berbeda itu tidak menimbulkan masalah serius. Dan sekarang ia hanya perlu sedikit keberanian untuk bergerak.


“Sel... Aku pergi dulu ke kantor Puspita. Dua jam paling lama.” kata Paijo setelah masuk ke kamar.


Michelle menaruh ponselnya di kasur seraya mengangguk. “Mandi dulu, yang cakep. Bawa hadiah, dia pasti kecewa kalian batal kencan kemarin. Maaf ya.”


Paijo berjongkok sembari membelai rambutnya. Wajahnya tanpa ekspresi, bukan baru sekali-dua kali dia menghadapi situasi yang membuatnya putus asa. Tapi ia tahu, jika ia menunjukkan emosi terdalamnya, Michelle pasti ikut patah semangat.


“Aku juga minta maaf, harusnya memang aku tidak terbawa nafsu waktu itu dan membawamu ke duniaku.”


Michelle menggeleng cepat. “Jangan begitu, kamu kelihatannya jadi menyesal. Jangan pura-pura, kamu memang sudah menginginkan lebih dari sekedar pacaran. Bahasa tubuhmu, aku mengerti waktu pertama kali bertemu aku. Di rumah, kamu melihatku terang-terangan seperti menaruh ketertarikan padaku. Makanya aku ke sini. Aku suka kamu.”


Michelle mengembuskan napas lega, ia tampak puas sudah memberitahu alasannya datang ke Jogja. Dia dilema sudah menjadi yang kedua, tetapi darah baratnya yang sudah biasa mendengar skandal-skandal dan kisah tak sampai di ujung harap membuatnya sudah mengikhlaskan segalanya.


Paijo membelai pipi Michelle dengan punggung jemari.


“Aku saja yang tertarik atau kamu yang gampang terpancing?”


“Kita sehati.” pungkas Michelle. “Sana pergi, jangan khawatir aku sudah mendingan. Aku juga nggak lupa minum obat, makannya aku tinggal beli.”

__ADS_1


Setuju.


Paijo mengangguk. Firasatnya yang tajam mengisyaratkan agar segera menghampiri Puspita.


“Aku siap-siap lanjut pergi.” Sekilas ia mencium kening Michelle sebelum beranjak. Mengambil jaket, celana jins dan kaos.


Tampaknya Paijo tak perlu mandi, semangatnya minggat entah ke mana barang lima menit saja menyentuh air di bak mandi. Dia hanya ingin cepat menemui Puspita dengan atau tanpa mandi dan hadiah.


***


Polres.


Hari sudah menjelang sore, serangkaian kegiatan yang terlihat di kantor sub-unit struktur komando di wilayah kabupaten Bantul itu nampak lengang meski di parkiran ada kendaraan dinas terparkir rapi.


Paijo yang tidak mempunyai ketenangan yang sempurna turun dari motor seraya menghela napas. Ia mengenal semua teman satu tim Puspita, semuanya pun mengenalnya sebagai tunangan Puspita. Sebab acara pertunangan mereka menjadi ajang silaturahmi Paijo dengan satu tim Puspita karena sang tunangan perlu mengenal baik orang-orang yang akrab dengannya.


Paijo menyapa polisi jaga seraya menanyakan keberadaan Puspita.


Setelah mengucapkan terima kasih, Paijo masuk ke dalam gedung. Di dalam, kedatangannya yang memancing atensi membuat komandan Wisnu yang keluar dari ruang Wakapolres tersenyum lebar.


“Mas Paijo? Cari Pita?” tanyanya akrab dan ceria.


Pita?


Paijo mengangguk berusaha menepikan rasa penasarannya kenapa nama tunangannya memiliki panggilan berbeda.


“Ada mas?”


“Jelas.” Komandan Wisnu merangkul Paijo seakan benar-benar akrab dengannya dan sikapnya yang sok akrab itu kian membuat Paijo risi.

__ADS_1


“Tapi Pita sibuk, awal-awal tugas. Biasa. Mau ngopi dulu? Setengah jam lagi rampung dia. Laporan harus on time.”


Paijo yang sudah bertekad harus ketemu dengan Puspita mengiyakan tanpa ragu sekaligus dia ingin mengenyahkan rangkulan komandan Wisnu yang menambah beban di pundaknya.


“Aku tunggu di luar saja, mas. Ngeri aku di kepung polisi.”


“Ya wajar, walau pun sama-sama melayani masyarakat situasinya lebih ngeri di sini. Apalagi buat orang-orang yang melakukan tindakan kriminal.”


Rahang Paijo seketika mengeras. Apakah perselingkuhan termasuk kriminal?


Paijo tidak mengerti, tetapi komandan Wisnu sangat-sangat tahu. Kohabitasi bisa terjerat dalam pasal 412 dengan hukuman enam bulan penjara atau denda 10 juta.


”Ayo mas, saya temenin. Kebetulan aku belum ngopi.”


Lagi-lagi harus pasrah dengan keadaan, Paijo mengiyakan. Keduanya pergi ke angkringan yang berjualan di sebrang jalan. Langganan komandan Wisnu dan Puspita jika malas pergi mencari kudapan.


Keduanya memesan kopi hitam dan merokok sambil terdiam. Sementara Puspita yang mendengar kabar bahwa Paijo datang gegas menghampiri mereka.


“Ingat aku, mas?” tanya Puspita tiba-tiba setelah masuk ke bawah tenda merah. Terasa udara panas dari bara yang membara.


Paijo menganggukkan kepala seraya membuang rokoknya ke saluran air di belakang angkringan. Dia nampak tak terkejut dengan kedatangan Puspita karena ia hafal dengan hentakan sepatunya.


“Aku harus ngomong sama kamu.”


“Berkaitan dengan cewek pirang? Mobil merah? Rumah sakit.”


Kontan Paijo langsung melebarkan mata. Tenggorokannya tercekat biji salak. Bagaimana bisa dia tahu?


Puspita nyengir santai sembari melipat kedua tangannya.

__ADS_1


“Ayo kalau gitu. Ke pantai!”


...----------------...


__ADS_2