Saat Bertemu Kamu (Romantic Scandal)

Saat Bertemu Kamu (Romantic Scandal)
Lebih dari perkenalan


__ADS_3

Paijo mencampakkan rokok lintingannya ke pot bunga hias yang menghiasi sisi pintu kamar di penginapan oyo tempat mereka menghabiskan malam dengan kamar terpisah.


Paijo sengaja memberi jeda waktu sebelum mengetuk keributan dan kekacauan batin yang akan menyusahkannya. Kamar Michelle.


Selaras dengan panggilan yang melambungkan angan-angan, Michelle membuka pintu kamarnya tanpa ragu.


Sudah mandi, pakai jins panjang dan kaus sopan serta wangi-wangian yang membuat Paijo tersedot mengendusnya dalam-dalam, Michelle tersenyum. Matanya memelototi penampilan Paijo yang menggunakan seragam dinas kelurahan dari atas ke bawah.


“Ganteng banget ih, keren.” Michelle berdecak kagum dengan mata berbinar-binar, tangannya yang gatal terjulur, menautkan kancing paling atas seragamnya seraya merapikan rambutnya. “Wangi lagi... Mas Domi pelit banget ngumpetin sahabatnya yang ini dari aku.”


Pura-pura Michelle mengerucut bibir setelah melonggarkan jarak.


Paijo memperhatikan wajah Michelle yang lebih cerah dan jelas saat di timpa cahaya matahari. Kulitnya yang resik, pori-porinya yang kecil dan bibirnya yang merah muda menarik pikatnya lebih banyak.


“Masmu tahu kelakuanmu kayak apa kalau ketemu aku, Sel!” Paijo menonyor keningnya. “Sembrono.”


“Aduh...” Michelle mengorek telinganya tiba-tiba dengan ekspresi cengengesan. “Ngomong apa kamu tadi, ulangi. Nggak dengar aku.”


Budeg, alih-alih menurutinya, Paijo menarik kuping Michelle untuk mengajaknya ke kamarnya.


Paijo menghela napas kemudian. Hatinya bertengkar dengan isi kepalanya sendiri, segenap hatinya mengerti kenapa ia merasa senang Michelle memujinya ganteng, segenap pikirnya ingat kapan terakhir kali Puspita memujinya ganteng. Satu bulan setelah mereka pacaran, yang berarti dua tahun lalu. Ia butuh pengakuan.


“Aku nggak paham niatmu apa ke sini. Cuman, ya, aku perlu menyelesaikan masalahku dengan bapak.” kata Paijo melepas kupingnya.


Michelle mengangguk cepat sambil meraba wajah Paijo. ”Kamu ganteng banget, kulitmu bagus, terus itu tanganmu kapalan kenapa. Kerja keras?”


Adikmu, Dom. Sudah sembrono sekarang ngomong ngawur. Gusti... gimana ini, aku rugi kehilangan Michelle, tapi Puspita gimana? Pusing... kepalaku.


Paijo mengayunkan kakinya ke belakang, menendang pintu agar tertutup sementara Michelle sudah duduk di tepi kasur.


Paijo terlihat serius. “Gini ya... Berhubung aku harus kerja dan masalah kita belum selesai bahkan belum diskusi sama sekali, kamu lebih baik ke rumah Rastanty, ikut mertua kakakmu dulu biar aku yakin kamu ndak kabur. Setuju?”

__ADS_1


“Kok ngegas...” Michelle cemberut. ”Mas Domi aja ngomong kamu bijaksana, sabar, terus penyayang. Masa sama aku nggak bisa begitu...”


Paijo lekas-lekas mendongak, batinnya mengutuk Dominic yang mempromosikannya tanpa izin.


“Yakin kamu bisa di ajak kompromi?” tanyanya sambil berpegangan pada tepi meja.


“Aku nggak bakal kabur, Jo. Aku bakal antar kamu kerja, kalau perlu aku tunggu kamu sampe rampung cari nafkah buat kita.”


“Ora usah!” Paijo menyilangkan kedua tangannya di depan Michelle, sangat guawattt kalau rekan sejawatnya tahu skandal yang ia lakukan. Mampus nasib dan jabatannya. Ia sama sekali tak ingin hal itu terjadi, tak ingin ada daftar hitam di sepanjang karirnya sebagai pegawai negeri sipil.


“Terserah kamu mau ke mana, tapi jemput aku jam empat. Ngerti?”


“Aku tunggu sampai jam empat di kantormu pun aku mampu.” sahut Michelle lebih tegas dari suara Paijo. “Tapi kalau kamu lebih tenang aku jalan-jalan dulu sebelum jemput kamu, aku turuti. Enak?”


Nak nan. Paijo mengangguk cepat, ekspresinya yang tegang melunak menjadi ekspresi penasaran. “Kepalamu yang kena tamparan bapak tadi malam sakit tidak?”


Michelle meraba kepalanya seraya menggeleng. “Kamu jangan ngomong sama mas Domi, apalagi sampai nenekku tahu. Lebih gawat dari bapakmu kalau marah urusannya.”


”Di Malang kemarin aku cuma kagum sama kamu, bukan sampai seperti ini balasannya. Rungkad aku, Sel. Bingung.” ucapnya emosional.


“Lho... Itu tandanya aku pinter. Aku balas rasa kekagumanmu langsung tanpa kamu minta. Kurang bagus gimana aku?” Michelle mengistirahatkan dagu di bahu Paijo. “Aku sebelas dua belas sama mas Domi, kamu pasti gampang kenal sama aku, Jo. Lagian gini, walau pun aku cantik terus setengah bule dan dandananku sedikit seksi, kamu juga ciuman pertamaku.”


Waduh... Tambah pusing kepalaku


Paijo menepuk-nepuk keningnya seraya menoleh, matanya terisi oleh wajah Michelle yang dekat.


“Minta Dominic datang ke sini secepatnya.”


”Iya... Buru-buru banget minta aku tanggung jawab.” Michelle menusuk sisi tubuh Paijo dengan telunjuknya. “Gak sabar pingin seperti Mas Domi dan Mbak Rasta? Putusin dulu Puspita.” ledeknya sembari mendekatkan wajah.


“Aku yakin kamu pernah lihat film twilight di warnet. Terus bayangin Bella Swan cium kamu? Ya to?” tukas Michelle ngawur, tapi bagi Paijo yang mengalami masa-masa indah dalam kesederhanaan rumah tangga bapak ibunya, menghabiskan waktu di sudut warnet adalah rutinitasnya.

__ADS_1


“Tidak segampang itu, kenthir.” Paijo memejamkan mata kala bibir mereka kembali beradu mesra meski hanya satu tarikan napas panjang.


Malu, Paijo memalingkan wajah seraya mengambil tas ranselnya dan menggendongnya. “Ayo berangkat.”


Michelle yang paham arti dari berubahnya sikap Paijo memungut plastik berisi pakaian kotor idolanya di lantai.


“Puspita memang harus putus sama kamu, Jo. Kamu kurang ajar ih, sama kayak aku.” Michelle menyunggingkan senyum seraya menghalau Paijo yang hendak check out di tengah daun pintu.


“Yakin pertemuan kita di rumahku akan berlanjut kayak gini? Tanpa cinta, rasa sayang? Hanya karena kepergok dan kepepet sudah ketahuan bapakmu?” Michelle menyelipkan jarinya lubang ikat pinggang Paijo seraya menariknya mendekat. “We need purpose.”


Paijo membuang napas kasar, giginya gemeletuk seolah ingin mencaplok Michelle dan mengunyahnya kuat-kuat.


Cakep-cakep kok pikirannya cupet. Yungalah...


Paijo menatapnya serius. “Bawa dulu kakakmu ke depan wajahku! Baru setelah itu aku bisa memutuskan harus gimana! Bapakku juga pasti tidak tinggal diam?”


Michelle mengiyakan dengan anggukan, ia membuka pintu dan membiarkan Paijo melangkah lebih dulu ke meja resepsionis untuk check out sementara ia mengambil kopernya di kamar.


Di halaman parkir yang sepi pengunjung penginapan dan suasana pagi yang belum ramai, Paijo yang dilanda was-was masuk ke mobil terburu-buru.


Michelle mendesis sambil merenggangkan otot-otot badannya di samping mobil.


Lagian pakai acara pura-pura pingsan terus ngintip aku, Paijo kira cuma aku yang harus tanggung jawab? Dih, aku juga minta tanggung jawab kali... Sudah di lihat-lihat masa nggak dinikahi... Di kira badanku ini pameran gratis. Mahal ini.


Masuk ke dalam mobil, Michelle tersenyum meledek sewaktu wajah Paijo gelisah bukan main.


“Jalan sama bule harusnya bangga kamu, Jo. Ini—”


Cerewet. Paijo menyumpal bibir Michelle dengan bibirnya. Ia berhasil membungkam ledakannya dan menemukan satu celah tipis dan memenuhinya dengan telak.


...------------...

__ADS_1


__ADS_2