
Di panggung pengantin, di hiasi karangan bunga-bunga dan dedaunan serupa taman tropis di tengah ballroom hotel, dengan bermandikan lampu sorot Paijo dan Michelle berhadapan.
Paijo tersenyum sembari merangkul pinggang Michelle seraya mendekatkannya dengan lembut. Keduanya saling bertatapan dengan lekat selagi lagu yang mengalun merdu dan mesra masih terdengar memenuhi gedung bertingkat itu.
Kilat kamera foto menghujani mereka kala Paijo menyapukan bibirnya ke bibir Michelle.
Dari apa yang di lihat, lekatnya bibir keduanya dan manjanya mereka mengadu lidah sampai membuat Marisa bersorak kegirangan sambil meraih tangan Prambudi.
“Ayo papa, mama juga mau.”
“Malu sama pak Kusumo mama!” balas Prambudi sambil mendelik gemas.
Marisa tersenyum sembari menatap besannya yang memangku piring berisi buah-buahan yang dilumuri coklat. Kusumonegoro tampak santai dan tak menggubris acara resepsi apalagi adegan ciuman anaknya. Batinnya ora penting, aku sudah lihat pertama kali.
Kusumonegoro menyantap stoberi coklat sembari mengibaskan tangannya. “Saksenengmu, sak madya.”
Alhasil Marisa hanya menyandarkan kepalanya di bahu suaminya sembari mengeluskan kemesraan pengantin baru.
Paijo menarik wajahnya seraya memeluk Michelle yang tampak berwajah malu.
Di dada pria itu, Michelle berkata pelan. “Kamu ternyata dokoh juga, Jon.”
Paijo mengusap punggung Michelle dengan lembut. Batinnya mengutuk mulut Michelle yang mengatainya dokoh.
Nggak dokoh nggak enak.
“Daripada dianggarkan, malah berdosa aku.”
Reflek Michelle yang gemas menepuk pantat Paijo.
“Wes wani ta saiki. Ngeri...” ucap Michelle sambil menarik wajahnya seraya mengerling nakal.
“Wani dong, aku menikahimu dengan prosedur yang tepat. Bukan karena kesalahan semalam!”
__ADS_1
“Ah, sayang.” Michelle kembali memeluk pria itu dengan penuh semangat.
Pembawa acara meringis saat lampu sorot yang mengarah ke pengantin meredup dan menyorot ke arahnya. Ia mengungkapkan suka cita menjadi mc hari ini walaupun cukup kaget ketika Paijo sendiri yang membuka acara resepsi dengan menjadi pembawa acara sebelum mengumumkan bahwa pesta resepsi selesai. Tanpa mengurangi rasa hormat tamu undangan di persilakan pulang ‘Kecuali rombongan Kusumonegoro.’
Pesta resepsi berakhir, perempuan-perempuan anggun dan pria berdasi satu persatu meninggalkan acara resepsi dengan bahagia sambil membawa parfum dalam botol berwarna silver sebagai souvernir pernikahan.
Semua orang tampak bahagia termasuk Kusumonegoro yang enjoy melewati kemeriahan acara tanpa menunjukkan gelagat ingin muntah atau marah-marah.
Di panggung pengantin terpaksa Paijo dan Michelle mengurai pelukan saat Marisa menoel-noel pinggang Michelle.
“Pindah ke kamar saja sana, jangan di sini.. Malu ih, bikin baper.”
“Jam segini ngamar, makan-makan dulu to, Ma. Biar stamina jreng...” seloroh Paijo meski dari dasar hati yang terdalam dia sungguh-sungguh ingin makan malam dengan bebas setelah di tuntut jaga image selama menjadi pengantin super star.
Marisa dapat mendengar nada gurauan Paijo yang mengenakan setelan serba hitam untuk menegaskan kegagahannya.
”Papa... we need private dinner.” rayu Marisa.
Prambudi menghela napas sambil melonggarkan dasinya. “Tinggal ke kamar terus minta pelayan ngantar makan malam komplit kalian apa susahnya, Jon.” ucapnya setengah ngelu.
“Rombanganku balik ke rumah sampean sekarang, mas. Titip Paijo nggih. Rodo mbladog bocahe.”
Prambudi nyengir sembari mengangguk. “Pokoknya anggap seperti rumah sendiri, pak. Besok Dominic sama Rastanty bakal nemenin piknik.”
“Siap... Jon, bapak tinggal dulu. Kamu jangan lupa pesan bapak!”
Paijo mengangguk seraya mencium punggung tangan bapaknya, Michelle pun ikut-ikutan tetapi alih-alih mendapatkan petuah bijak dari mertuanya Kusumonegoro mendengus.
“Besok pas ngunduh mantu nggak usah pakai baju begini. Jadi tontonan sekampung dan tetangga-tetangga kamu, nduk.”
“Nggih, Romo.” Michelle mengepalkan tangan kanannya dan meninju telapak tangan kirinya dengan sebelah lutut yang tertekuk.
Kusumonegoro menepuk lengan Prambudi dan berdehem pada Marisa.
__ADS_1
Besan perempuannya itu melambaikan tangan sambil berseru. “Hati-hati Pak Kus, jangan lupa sin kiri belok kanan.”
“Ngomong opohh...” gumam Kusumonegoro seraya turun dari panggung pengantin.
Paijo dan Michelle tertawa geli meski mata tersirat penuh makna.
“Udah ah, aku capek...” Michelle bergelayut manja. “Mase, ke atas yuk.”
“Hayuk...” Paijo mengiyakan dengan semangat perjuangan. Perjuangan melepas keperjakaan dan merespon gairah tak terbendung istrinya.
Paijo melingkarkan tangannya di pinggang Michelle. “Izin ke atas dulu, Ma, Pa. Nobarnya cukup dilihat hasilnya saja. Ndak perlu live streaming.”
Prambudi mengibaskan tangannya dengan kerutan di wajah. “Hati-hati... Princess papa...”
Prambudi mengangkat tangannya ke udara seakan hendak menggapai putrinya yang memasang senyum untuk di tonton khalayak umum sebelum sampai ke lift.
Michelle dan Paijo berbalik sekilas seraya melambaikan tangan kepada saudara-saudaranya yang menunggu buket pengantin yang Michelle genggam di lemparkan.
Agus tampak bersiap di antara para jomblo dan pasangan-pasangan internasional yang ingin segera melangsungkan pernikahan.
“Ready? One... Two...” Mak werrr... Bunga itu melayang, Agus pontang-panting melesat ke arah mendaratkan bunga itu dengan menyikut lawan-lawannya tanpa sengaja.
Agus melompat, bule wanita jomblo pun sama. Keduanya meraih bunga itu dengan bertubrukan badan.
Agus tersentak kaget saat bule itu jatuh dengan sengaja menimpa tubuhnya di lantai.
Paijo dan Michelle tertawa seraya masuk ke lift. Keduanya berdiri berhadapan sambil menggenggam kedua tangan.
“Siap kamu menjalani kehidupan rumah tangga dengan lebih berarti?” ucap Paijo.
“Astaga.” Michelle bergidik. “Tentu aku siap, sayang.”
Paijo beringsut lebih dekat agar lebih mudah mencium keningnya dengan lembut sebelum membopongnya keluar dari lift. Menuju puncak kejayaan malam pertama yang tertunda berminggu-minggu.
__ADS_1
...----------------...