Saat Bertemu Kamu (Romantic Scandal)

Saat Bertemu Kamu (Romantic Scandal)
Sabar


__ADS_3

Dua Minggu yang lama bagi Michelle.


Dua Minggu yang cepat bagi Paijo.


Dua keluarga mempersiapkan pernikahan dengan segenap rasa di dada. Cemas, gugup, insecure dan penuh perhitungan terjadi di keluarga Kusumonegoro. Bahagia, penuh suka cita dan kegilaan terjadi di keluarga Prambudi Dwayne.


“Semua sudah siap?” tanya Agus dengan toa yang di bawa dari kelurahan tepat di depan teras Paijo. Teman Paijo yang kebelet ikut pesta kawinan sahabatnya itu nampak mempersiapkan diri untuk tebar pesona di kalangan bule-bule nanti dengan memangkas rambutnya dengan rapi dan membuat kulit eksotisnya wangi dengan menggunakan hand body.


Di sampingnya, sebagai pengantin pria agaknya Paijo yang ahli sebagai koordinator acara di beragam bidang kegiatan di pedesaan atau pun kelurahan masih di sibukkan dengan mengecek segala seserahan yang hendak di berikan untuk Michelle dan keluarga sambil berkeliling.


“Komplit, Gus.” Paijo mengacungkan jempolnya di samping seserahan terakhir—jadah tempe Kaliurang—yang di pegang pak RT.


“Oke... Monggo bapak, ibu, mas, mbak, adik-adik sedoyo... Monggo ngatos-atos mlebu bus.” ( Baik... Silakan bapak, ibu, mas, mbak, adik-adik semuanya. Silakan hati-hati masuk bus ) ucap Agus memberi instruksi.


Rombongan keluarga Kusumonegoro dan tamu undangan berbondong-bondong pergi ke bus yang terparkir di jalan tengah persawahan.


Paijo menatap sekilas rumahnya sambil memakai tas ransel berisi pakaiannya sebelum merangkul pundak Kusumonegoro yang telah menemaninya berjuang mencari dan mendapatkan seserahan.


“Kalau ada apa-apa bapak jangan sungkan telepon Paijo lho.”


“Itu sudah jelas, Jon... Emang bapak sanggup bayar non KPR sendiri! Mikir!!!”

__ADS_1


“Bapak mending nikah lagi wes biar ada yang ngurus, sama janda kampung sebelah yang guru itu boleh wes... Biar nggak nesu-nesu terus.”


“Cangkemmu. Terus mamakmu gimana? Mikir!”


Paijo menghela napas, kendati ngegas terus dari kemarin. Kusumonegoro memandu acara dengan mengajak semua sanak keluarga dan tamu undangan untuk berdoa bersama di dalam bus pariwisata dengan takzim.


Agus meringis setelah bus melaju perlahan keluar dari jalan perkampungan menuju ring road selatan ke arah timur menuju gerbang tol colomadu di Karanganyar, Jawa tengah.


“Pokoknya nanti bojomu wajib ngenalin aku sama saudaranya yang bule, Jo.”


Paijo meraih ponselnya dan menerima telepon dari Michelle.


“Sayang, cookies... Udah berangkat belum?” tanya Michelle yang baru akan melaksanakan upacara siraman di kediamannya. Wanita itu cantik berkebaya hijau pupus dengan rambut yang sudah di hitamkan.


“Sungguh? Aku udah nggak sabar ketemu kamu.”


“Saya juga Mbak...” sahut Agus lalu menatap layar ponsel Paijo. “Ya Allah, ayu tenan bojomu, Jo.”


“Jelas dong, istrinya Paijo kok elek. Lagi ngerti, ta?” sahut Michelle dengan dialek Malang.


“Jancuk...” sahut Agus hingga membuat Michelle tertawa dan Paijo menarik ponselnya, menjauh dari wajah Agus yang rupanya ingin menelan bulat-bulat pesona Michelle.

__ADS_1


“Uis, Gus. Jatahmu keri.” ucap Paijo mangkel.


“Iyo... Iyo... sayang cookies.” seloroh Agus sampai Paijo pindah ke bangku kosong, itupun di dekat kernet bus.


Paijo menatap lagi ponselnya, menatap wajah wanita yang puas tertawa.


“Seneng?” tanya Paijo mangkel. “Tunggu aja aku di Malang, nggak usah telepon-telepon terus.”


“Ya elah, sayang... Cuma sebentar aja, aku deg-degan mau siraman sama mama papa. Aku nggak bisa kalau nggak tersenyum terus, Jon. I marry you today.”


“Wajar, kalau kamu nggak deg-degan aku batal ke Malang!”


“Kenapa?”


“Harus tanya kenapa?” Paijo mencengkram pegangan tangan saat bus mulai melaju dengan kecepatan tinggi.


“Aku sudah bawa semua seserahan yang ibumu minta berserta bonusnya. Sekarang kamu yang tenang.”


“Aaa... Paijo... kiss dulu. Virtual.” Michelle memanyunkan bibirnya dan Paijo yang melihat di sampingnya ada kernet yang asyik bersiul-siul mengikuti irama musik yang jedag-jedug tidak punya keberanian memberi kiss virtual menyudahi sambungan telepon mereka.


Paijo menyembunyikan ponselnya ke dalam tas selempangnya. “Di anggap nggak wajar aku nanti, joh... Bentar lagi, sabar... Jonny, sabar...”

__ADS_1


...----------------...


__ADS_2