
Tiba di Malang. Rumah mewah yang menyambut Michelle dengan kekokohan yang sempurna membuat wanita itu mendesah lega.
Tengah malam yang sunyi, udara di kota Malang yang dingin tak menghalau keceriaan di wajahnya seakan pulang ke tanah kelahirannya seperti kembali ke dekapan bunda. Hangat, nyaman, di terima.
“Tuhan, sampai juga aku di sini dengan selamat. Papa... aku pulang dengan segala kerinduan dan kegalauan tingkat dua.” gumamnya sembari membuka pintu samping sementara mobilnya ia tinggal di jalan.
Michelle membuka pintu utama dengan kunci yang ia bawa, pada sunyinya rumah ia mengendap-endap masuk seolah tidak ingin mengejutkan seisi rumah dengan kedatangannya. Tetapi Dominic dan Rastanty yang masih terjaga karena bayi mereka begadang berbondong-bondong keluar kamar setelah mengira suara mobil yang baru saja berhenti di sekitar rumah adalah Michelle.
Dom, adikmu pulang ke Malang?
Titip Icel bentar kalo di sana. Lagi ruwet di sini. Aku nyusul Jumat malam. Kabari kalo dia pergi ke SBY.
Itu pesan dari Paijo ke Dominic karena nomernya kedapatan di blokir Michelle demi tidak mengganggu konsentrasinya dalam mengemudi.
Michelle tersentak kaget saat lampu gantung yang terang benderang mengeksposnya di samping lemari pajangan.
“Eh Tante, Icel.” ucap Rastanty sembari melambaikan tangan Budiman ke arahnya. “Darimana aja, Budi kangen.”
“Shut up, stttt...” ucap Michelle sembari menaruh jari telunjuknya di depan mulut. Matanya mendelik memperingati.
Aku nggak siap mama dan nenek tanya-tanya panjang lebar aku ke mana selama ini! Lagi capek-capeknya aku. Michelle mendesis tajam.
Dominic menghela napas. Sedikit masalah dia mengerti kenapa Michelle pulang, tidak dengan Rastanty maka yang ia lakukan hanyalah menghampirinya dan memeluknya.
__ADS_1
“Dramatik!”
Michelle mengeratkan pelukannya. “Jangan bilang papa ya. Kasian nanti Paijo di bawa ke algojo.”
Dominic nyengir sembari mengelus kepalanya. Di tatapannya sang adik yang kusut berantakan.
“Lagian cari masalah sama ASN. Dari tujuh hari kan kuberikan engkau dua hari, Sabtu Minggu kau bersamaku. Senin Jumat dia miliknya.” ucap Dominic dengan nada.
Michelle mencubit pinggang kakaknya dengan mangkel hingga pria itu mangap tanpa suara.
“Bisa-bisanya mas malah nyanyi, nggak lucu ini. Michelle mengeratkan kakinya di lantai. “Aku tuh pusing, tapi aku harus profesional. Mas masak sana, aku lapar. Capek.”
“Itu saja? Kamu nggak kangen Paijo?” goda Dominic sembari mengalungkan tangannya di lehernya dan mengajaknya ke dapur.
“Nasibmu, Jon.” Dominic terbahak-bahak. “Terus-terus kamu sudah lihat Jonny cilik?”
“Belum lah. Belum boleh, nunggu putus dulu sama Puspita. Makanya aku pulang, biar dia nggak pusing ngurus aku apa Puspita gitu.”
“Yang bener?” timpal Rastanty yang mengikuti keduanya ke dapur.
Michelle menoleh dengan wajah masam. “Mbak diem!”
Rastanty menjulurkan lidahnya yang langsung di sambut bibir Dominic.
__ADS_1
Michelle menggeram sambil menaboki punggung kakaknya. Mangkel dia disuguhi pemandangan seperti itu.
“Jancuklhooo... Cukup, cukup... Aku jijik lihatnya mas, aku jijik.” Michelle menangis dibuat-buat sambil menarik kaus kakaknya agar menjauh dari Rastanty.
”Udah to, aku lagi LDR. Nggak bisa kecup-kecup manja begitu. MAS!” Michelle menendang belakang lutut Dominic sampai pria itu tak seimbang dengan sebelah lutut yang tertekuk. Alih-alih marah, kedua pasangan muda itu terkekeh-kekeh senang.
“Kamu blokir nomernya Paijo, aku telepon dia sebentar mau laporan kamu kangen.” gurau Dominic seraya merangkak menjauhi Michelle yang ingin menyerangnya.
“Pokoknya nggak boleh, biar dia juga kangen banget sama aku. Kangen berat. Jangan ngomong apa-apa! Biar dia kepikiran aku terus.”
Kekehan Dominic yang terjadi di dapur membuat orang tua Michelle bergegas keluar kamar.
“Michelle, baby. Where are you go?” seru Marisa dari lantai atas sebelum menuruni anak tangga dengan lincah.
Michelle langsung tengkurap di samping Dominic. Kepalanya menoleh, menatap kakaknya.
“Bantu aku bohong sama mama, mas. Plis!”
“Michelle, jawab mama!”
“Icel dari Jogja, Ma. Cari jodoh di sana biar sama mas Domi.”
Prambudi memukul keningnya dengan kepalan tangan. “Badai sedang menuju tempat penghancuran.”
__ADS_1
...----------------...