
Paijo membawa mangkuk berisi bubur sumsum dengan juruh air gula aren ke kamar yang sebentar-sebentar beraroma pewangi otomatis ruangan dan kentut Michelle.
“Nggak masmu, nggak kamu hobby-nya sama. Ngisingan.” Paijo mendengus mengamati Michelle yang meringkuk sedih di kasur.
“Diare adalah karma buatmu yang jalan-jalan sama cowok kuburan!” ucapnya sebelum bersila di depan Michelle. “Duduk dulu, makan!”
Bibir pucat tanpa gincu, wajah melas tidak mandi di depannya mendengus. “Aku nggak selingkuh kok, aku cuma balas budi ngajak Fauzi jalan-jalan. Kebetulan dia mau oseng-oseng mercon, katanya pedesnya lebih dahsyat dari diselingkuhi mantan!”
“Halah.” Paijo menyergah sambil membantu Michelle duduk. “Makan yang banyak biar cepat sembuh. Ada Puspita yang nunggu aku!”
“Iya, sorry. Icel lagi kena musibah juga. Tolong di maklumi.” katanya setengah manja sembari mengapit hidung Paijo.
Brottt... Secantik-cantiknya ia, diare membuatnya kacau balau. Ketut itu laksana aibnya sendiri hingga membuatnya malu.
“Doain istrinya cepat sembuh, ya. Sweetie, choco.” ucapnya dengan nada merayu.
Paijo menghela napas. Mau di doakan nanti sembuh tambah ngelunjak. Di biarkan saja tambah parah. Mendua rupanya tak seindah drama yang penuh gairah dan sensasi yang luar biasa menyenangkan. Mendua baginya sangat-sangat penuh risiko.
__ADS_1
“Aku doakan kamu cepat sembuh, cepat balik ke Surabaya biar aku tenang waktu ngurus Puspita.”
“Good idea.” Michelle mangap dan Paijo yang melihatnya seperti induk ayam yang mengasihi dengan telaten.
“Minum obat, sekalian besok ngurus BPJS waktu kamu pulang ke Malang. Bisa tekor aku, diare aja habis dua ratus ribu. Gimana kalau kamu—” Paijo berjeda. Batal mengucapkan bagaimana kalau kamu hamil nanti dan punya anak... Padahal buat saja masih persiapan mental dan fisik.
“BPJS kelas satu aku sudah punya sekeluarga.” kata Michelle sembari menganggukkan kepala. “Cuma nggak bisa di pakai di sini, faskes 1 di puskesmas Malang sana. Apa kita lepas KK aja ya, mau?”
“Belum waktunya.” Paijo meraih tissue, menghapus sisa bubur yang terbuat dari tepung beras itu di bibir Michelle. “Aku hari ini cuti kerja, besok harus berangkat. Kamu banyak-banyak istirahat, minum air putih yang banyak!”
“Aku pikir kamu lebih memilih kencan sama Puspita ke pantai terus lihat matahari tenggelam dari pada urus aku. Itu romantis, Jo. Sebelum balik ke Suroboyo mau ke sana aku?”
Paijo menumpuk piring dan gelas bekas menyajikan hidangan sederhana buatannya untuk tuan putri.
“Sembuh dulu baru mikir kencan. Tapi jatahmu habis aku pergi dengan Puspita.”
“Yoi, my man.” Michelle mengacungkan jempolnya. “Udah nyuci piringnya nanti aja, sekarang peluk aku dulu biar hangat terus cepat sembuh.”
__ADS_1
Paijo berdiri sembari menatapnya sinis. Walah sejatinya dia begitu senang dipuja-puja dan dibutuhkan oleh wanita itu sebab seberapa sering dia kencan dengan Puspita, keduanya sama-sama memiliki batas yang tinggikan.
“Kamu itu mambu banget, mandi dulu kalau mau di peluk.” ucapnya sembari melengos keluar kamar.
Sekuat tenaga, Michelle membawa tubuhnya yang lemas ke dapur, tempat Paijo mulai mencuci piring dan gelas.
“Coba aku aja. Biar tanganmu nggak kasar banget.” ucapnya sembari melingkarkan tangannya dari belakang.
Tubuh Paijo yang mepet lengket di wastafel cuci piring menaruh spon cuci piring dan gelas ke tangan Michelle dengan kepala terangkat.
“Ati-ati, perlakukan mereka seperti hatimu. Jangan sampai pecah!” kata Paijo mengingatkan.
Michelle menyandarkan kepalanya di punggung pria itu dengan nyaman. “Aku siap pecah asal kamu bahagia.”
Jakun Paijo bergerak, ada perasaan janggal yang mulai mengelabui isi hatinya sendiri.
...----------------...
__ADS_1