Saat Bertemu Kamu (Romantic Scandal)

Saat Bertemu Kamu (Romantic Scandal)
Ambyar mashee


__ADS_3

Meninggalkan gegap gempita bintang tamu ibu kota, Michelle mengemudikan mobilnya sambil memanyunkan bibirnya.


“Lanangan model apa kalian ini, bukannya jadi sopir buatku dan kakang Paijo yang di landa rindu, kalian malah enak-enak numpang! Ganggu kemesraan kami lagi.”


Dominic dan Bobby sama-sama memalingkan wajah dengan senyum yang merekah sempurna. Mereka semobil pura-pura tak mendengar ocehan sopir cantik sampai akhirnya mereka tiba di apartemennya yang nyaris membuat Paijo kembali insecure bersanding dengannya.


“Nanti kalian minggat dari apartemenku. Paijo cuma di sini dua hari. Nggak cukup sweetie coco untuk kita berduaan saja. Letupan rindu ini masih besar untukmu.”


Michelle mengalungkan tangannya di lengan Paijo sembari merebahkan kepala di bahunya. Mereka berjalan menuju lift untuk menuju lantai lima belas apartemen.


Di belakang mereka, Dominic dan Bobby tertawa telak. Segala tentang keduanya menggelikan bagi Dominic yang mengenal mereka sejak lama. Sementara bagi Bobby, pasangan yang seperti keju dan singkong itu tidak sampai membuatnya yakin keduanya memiliki cinta yang tulus. Melihat betapa jauh kondisi sosial ekonomi keduanya, Bobby menduga sesuatu hal telah terjadi di Yogyakarta.


“Icel..., Eike penasaran gimana kamu bisa ketemu kakang prabu?” tanyanya manjalita setelah tiba di pintu apartemen Michelle bernomor 1578.


Michelle menekan pin apartemennya tanpa melepas sedikit pun genggamannya Paijo sampai pria itu pucat pasi.


Sekalinya punya istri semangat kawinnya melebihi birahiku sendiri.


“Panjang ceritanya, tapi aku senang-senang aja punya laki model begini. Ciumannya kikuk-kikuk dan lugu.” ucapnya semringah sembari mendorong pintu bercat putih kinclong itu hingga keramaian yang terjadi di apartemennya terdengar sampai ke kupingnya.


Michelle menoleh secepat kilat. Matanya mengarah pada orang-orang yang santai-santai di ruang tamunya yang lengang sembari nonton televisi.


“Mama, papa, Oma, mas Ren... Pak Tedy... Pada ngapain di sini?” sentaknya mangkel. Tangannya yang memegang lengan Paijo mengerat sampai pria itu meliriknya gemas.


Nggak jadi berduaan, piye to iki cah? Mahal sekali kesempatan untuk berduaan saja.


Marisa mengerjapkan mata melihat pria yang di puji-puji Dominic sebagai tempat curhat dan sahabat terbaik putranya dengan jelas.


Tangannya melambai sambil tersenyum lebar. “Paijo, sini... Salim sama Tante, om dan Oma rambut silver.”


Paijo dan Michelle sontak saling tatap, kecemasan melanda keduanya.


Siapa yang ngundang mereka? batin keduanya sama, mereka lantas kompak menoleh pada Dominic yang menyandarkan tubuhnya di kusen pintu.


“Bukan aku yoo... Nggak usah nuduh. Ma!” Dominic berseru... “Kalian pada datang ngapain to, ganggu Icel sama Paijo mau dua-duaan di kamar lho.” akunya sembari menyingkirkan kedua bahu Michelle dan Paijo yang menghalangi langkahnya.

__ADS_1


Michelle dan Paijo kembali saling pandang dengan mata yang lebih melebar. Setiap satir yang diucapkan oleh Dominic membuat getaran di dada mereka semakin pesat.


“Udah sana salim sama mama dan papa dulu, jangan lupa oma.” pungkas Michelle menyudahi ketegangan mereka.


Mata Paijo tertuju pada Dominic yang menjangkau Budiman dari gendongan Rastanty dan menimang-nimangnya.


Aku di jebak. Dombret!


Paijo berdehem sembari memasang senyum pemandu acara-nya, senyum ramah yang terlatih dia lakukan.


“Om, Tante... bercanda saja lho tadi si Dominic.” ucap Paijo setelah bersimpuh di depan Marisa dan Prambudi yang duduk berdampingan. Dengan luwes ia mencium punggung tangan mereka sebab bukan hanya sekali dua kali ia bertemu dengan orang tua Michelle. Zaman ia masih kuliah dulu, orang tuanya sering ke Jogja untuk menjenguk Dominic dan bertemu dirinya.


Marisa tersenyum sementara Prambudi menjureng serius kepadanya.


“Kamu itu ya jangan sungkan-sungkan sama kami, sudah kenal lama juga masih malu-malu.” ucap Marisa gemes.


Prambudi menggerakkan bola matanya agar Paijo mundur dari hadapan Marisa yang nampaknya senang-senang saja Michelle dan Paijo ingin berdua-duaan di kamar.


Paijo tersenyum sembari mundur beberapa langkah tanpa berdiri sebelum mencium punggung tangan nenek silver yang duduk di kursi roda.


Nenek silver yang melihat gandengan cucunya serupa anak mantunya menghela napas.


“Kenapa semuanya menyukai produk lokal? Tidak ada yang suka dengan produk murni seperti Oma?”


“Mas Reno itu sukanya produk murni seperti Oma, Icel sukanya pria seperti papa. Bagus, njawani, patuh, penyayang, nggak ada yang suka lagi karena saingannya berat. Aku.” Michelle menepuk dadanya bangga.


“Iya kan, Jo? Kamu limited edition.”


Paijo menarik kedua sudut bibirnya, tersenyum bahagia hingga giginya terasa kering harus bersikap normal di hadapan keluarga mertuanya meski dalam hati ia mengutuk kelakuan Michelle.


Patuh jarene, semprul tenan.


Marisa menyunggingkan senyum. “Kamu memang seperti mama, Icel. Tos dulu baby.”


Ibu dan anak itu mengangkat tangan dan bertos-tos ria di atas tawa yang di sembunyikan para penontonnya.

__ADS_1


“Wanita-wanita lain tidak ada yang berani bersaing dengan kita. Kecuali wanita itu lebih seksi, cantik, dan kaya raya. Tapi itu pasti tidak ada... Ora mampu saingan sama kita.”


Kembali ibu dan anak itu tos-tosan sambil terkekeh manja dan bangga.


Prambudi menatap Paijo yang mengulum senyum sembari menundukkan kepalanya.


“Begitu itu namanya posesif, tapi asal bisa menyenangkan hati dan ragawi luar dalam ya terima-terima saja. Wong sejatinya wanita itu cuma satu, butuh laki-laki setia dan tahan banting dengar ocehannya.” ucap Prambudi seakan membicarakan suara hatinya hingga Paijo mengangguk-anggukkan kepala. Setuju.


“Nah itu dengar, Jon. Kamu ada temannya.” timpal Dominic setelah terbahak-bahak seorang diri di sana. “Prinsip papa cuma satu, dengarkan saja dan terima saja. Enak to, Pa?”


“Euenak, nggak usah minta jatah sudah di kasih. Ayo, Pa. Ayo, Papa... Duel sama mama.”


Paijo semakin menundukkan kepala bahkan kalau bisa wajahnya menempel saja di karpet merah muda daripada harus di tonton semua orang di sana. Bapak pasti mumet kalo kumpul-kumpul sama wong-wong setengah waras begini.


“Ah, papa. Mama jadi malu tahu.” Marisa bermanja-manja dengan Prambudi sekejap lantas menatap heran Paijo dan Michelle yang duduk berjejeran tapi membuat jarak aman.


“Memangnya betul Paijo punya hubungan spesial dengan Icel? Sejauh mana?”


“Sejauh Jogja dan Malang, tapi dekat di Surabaya Tante.” jawab Paijo ngawur, tetapi hal itu justru membuat Marisa, Dominic dan Rastanty tertawa bersama.


Michelle menggigit bibirnya kuat-kuat, mati-matian ia tidak menyerang bibir Paijo yang menggemaskan sekarang.


“Ya ampun... Paijo, Pinter banget to jadi pelawak. Jadi pingin di kasih gombalan sama kamu.” Michelle mengepalkan tangan dan pura-pura terbatuk.


“Coba deh rayu anak Tante, Jo.” pinta Marisa.


“Kamu cantik.”


Makin menjadi-jadilah suara tawa di apartemen itu. Sementara bagi Paijo yang penting lancar jaya urusannya dengan keluarga Michelle. Yang penting mengikuti arus di tengah gempuran keluarga edan agar tetap hidup dan pulang dengan selamat.


“Mboh piye carane sing penting sanggup jawabi. Liyane pikir keri.”


(Nggak peduli bagaimana caranya, yang penting sanggup ngasih jawaban. Lainnya pikir belakangan )


...----------------...

__ADS_1


...🤣...


__ADS_2