
Bergaya kenes dengan penampilan seksi, gaun malam merah darah yang lembut dan patuh membalut tubuh seksi Michelle membuatnya berada dalam pandangan mata pria-pria bergengsi dan berdompet tebal di area fashion show top model Surabaya.
Senyum sensual dan kibasan rambutnya ketika berkelok di ujung cat walk membuat decak kagum para pria dan menghadirkan tepuk tangan meriah.
Paijo menyembunyikan semua tangannya dalam saku celana jins-nya. Nyalinya menikahi Michelle rupanya adalah bentuk dari kenekatan yang benar-benar nekat. Dikelilingi banyak pria berduit tebal, tampan, rupawan, dengan perusahaan yang mentereng di bidang-bidangnya, bisa saja Michelle memilih salah satunya untuk dimiliki dan menjadi pelabuhan terakhirnya. Bisa di banggakan dengan suka cita dan percaya diri. Tidak perlu menjalani cinta yang penuh sengketa rasa dan mengorbankan segalanya hanya demi ia.
Sadar bukan berada di kalangan hedon yang bergelimang harta, Paijo menghela napas.
“Ngeri juga Dom jadi bagian keluargamu.” katanya sembari mengulurkan tangan, menerima anggur merah dingin yang diulurkan Dominic di lantai dua club yang menjadi ajang pamer kemolekan tubuh-tubuh top model untuk menggaet brand-brand ternama untuk menggunakan jasa mereka. Tidak dengan Michelle, ia hanya menjadi tuan rumah penyelenggara. Sebagai opening sebelum para model lainnya satu persatu keluar dari back stage.
“Ngeri-ngeri gereh?” seloroh Dominic sembari bersulang. “Pengen ngerti kon adikku kenapa nggak mau sama pria-pria yang duduk itu?”
“Ri gereh marai gulu loro, adikmu juga marai gulu loro. Ngerti maksudku?” ( Duri ikan gereh bikin tenggorokan sakit, adikmu juga bikin tenggorokan sakit)
Paijo menatap pria-pria yang menggunakan pakaian semi formal dengan kaki yang tersilang elegan. Dia meneguk anggur merah dingin itu sekali teguk.
Gak bisa aku seperti mereka.
Dominic mengikuti arah pandang Paijo dan menepuk pundaknya.
“Santai, mereka cuma karyawan. Tugasnya mantaww model mana yang memenuhi kriteria perusahaan mereka.” Dominic menepuk pundaknya sekali lagi.
“Bos besar rata-rata sudah tua seperti bapakku. Sedangkan anak-anaknya biasanya lagi merintis karir koyo aku. Rata-rata yo, pengusaha sukses memang duitnya uakeh, teng tlecek. Wes ganteng, terkenal, sugih, keren, tapi yo kui, setia pada satu wanita itu susah. Cewek-cewek seliweran terus dari pagi sampai malam, dari yang seksi lugu sampai binal koyo setan. Joh... Joh... Mumet Jon dadi wong ganteng lan sugih.”
“Kemaki.” Paijo menjotos lengan Dominic sambil terkekeh. “Ojo sampai kamu selingkuh dari Rastanty, rugi kamu jadi penjaga hati tahunan tapi ngelarani ati.”
“Aku pria sejati yo. Cangkemmu, Jon.” Dominic memiting leher adik iparnya kuat-kuat sampai kedua pria itu terlibat perkelahian yang di sengaja.
“Jancuuk, kurang ajar kamu sama kakak ipar!” Dominic mengusap tangannya yang dicubit kecil Paijo.
“Salahmu dewe.” sungut Paijo. Dia meraih botol anggur merah dingin yang mereknya baru ia tahu dan menuangnya ke dalam dua gelas.
“Jadi maksudmu apa tadi bahas-bahas itu?” tanya Paijo, mengulurkan gelas Dominic.
__ADS_1
Kembali mata mereka mengarah ke bawah, model berambut curly rapi dengan gaun malam panjang hitam tanpa lengan berlenggak lenggok tanpa alas kaki. Gerakannya sensual hingga membuat Dominic cengengesan.
“Rastanty nggak mungkin mau pakai gaun kayak gitu, Dom?” tanya Paijo tiba-tiba.
“Dasteran cukk, pakai baju tidur semrawang dia ngomel-ngomel. Masuk angin mas, aku isin. Ujungnya ribut. Hess...” Dominic menghabiskan anggurnya.
“Beda sama adikku to? Gaunnya banyak yang nggak jelas. Udah pakai yang mana saja dia?”
Anggur yang baru saja Paijo teguk mendadak ingin menyembur keluar.
“Nggak perlu aku sebutkan to yoo... Kamu sudah ngerti mana saja kamu kirim dulu! Joh... Joh...” Paijo menyentakkan dagunya ke bawah.
“Ayo ketemu, Icel.” ajaknya tidak sabar.
“Sek... Sek...” Dominic menutup botol anggur itu dan memasukkannya ke dalam tas selempang kulitnya. “Aku wegah rugi.” Cekikikan ia merangkul Paijo yang kikuk-kikuk.
“Michelle lebih milih kamu karena aku jujur Jon, dia nggak mau punya laki yang setara keuangannya dengan dia. Icel pengen lakinya bisa dikuasai dan menganggapnya adalah segala-galanya dan ini yang paling penting, nggak selingkuh wong nggak ada uang.”
Paijo meliriknya tajam. “Tapi awal mulanya dari perselingkuhan lho. Aku selingkuh. Harus gimana kalo gitu? Nggak mungkin di anggap baik sama bapakmu.”
“Tetap nggak berani aku ngaku-ngaku di keluargamu sudah jadi suami siri Michelle. Aku cuma...”
“Halah, kecut.” Dominic mengajaknya menyelusuri lorong dan anak tangga rahasia yang langsung tembus ke ruang back stage tanpa harus terlihat di kerumunan.
“Rastanty di terima di keluargaku karena kamu saling mencintai dan ingin menetap bersama selama-lamanya. Itu kuncinya, harus saling cinta, bucin, cuma ibuku agak anu sama kamu Jon.”
“Agak ngopo?” sahut Paijo ngegas. Kekhawatiran tampak di wajahnya.
“Agak... agak ngopo yoo...” Dominic cengengesan. “Ibu-ibu yang exited sama ketampananmu yang lokal membumi.”
“Asyuuu... wes gawe woro-woro sampean?”
( Asyuu... sudah bikin pengumuman kamu? )
__ADS_1
Dominic terkekeh-kekeh sambil menarik daun pintu. Sorot cahaya lampu yang lebih terang dari sebuah lorong membuatnya tambah girang.
“Sudah lah, di interogasi aku siapa guide yang jaga Icel waktu di Jogja sama mama. Ya aku jawab sejujur-jujurnya.”
“Yungalah. Bukannya kemarin rahasia?”
“Michelle nggak bisa bohong.”
Dominic lagi-lagi perlu menertawakan ekspresi Paijo yang harap-harap cemas.
“Santai ajalah, kamu hanya perlu cinta sama adikku. Jadikan dia hidup dan matimu, kalau perlu tabungan berjalan nggak masalah. Dia malah seneng kamu nggak sungkan sama Michelle, anaknya memang kenthir dari lahir.”
Dominic terbahak-bahak mengingat masa kecil adiknya bersama sang adik sembari mengetuk ruang pribadi tuan rumah yang menyewa club itu.
Asisten Michelle menarik gagang pintu dan terkejut melihat dua pria berseragam batik lengan panjang meringis pada pria kenes yang memakai vest merah muda tanpa kemeja.
“Sel... Kakang datang niyyy...” ucapnya manja dan kenes seperti tingkahnya.
Di meja rias Michelle yang menunduk memainkan ponselnya sontak langsung menatap cermin. Dua pria memakai batik itu masih nyengir.
“OMG... Kakang prabu...” Tergesa-gesa Michelle berdiri dan berlari kecil ke arah Paijo dengan gaya slow motion.
“Kakang...” Michelle menarik tangan Paijo dan mendorong asistennya keluar dari ruangannya seraya menutup pintu.
Dominic mendesis tajam melihat pria kenes itu tersenyum malu-malu kepadanya sembari ingin meraba dadanya.
“Najis... cong.” Ia menyerahkan botol anggur merahnya sebelum melengos pergi. “Mending lihat yang kinyis-kinyis di depan daripada di sini. Lebih seger dan luwes.”
Pria kenes di belakangnya mendesis tajam seperti ular kesetanan.
“Aku bilangin yeyyy sama preman Jogja. Mampus yeyy besok pagi!” Pria kenes itu memukul-mukul udara lalu belok kiri.
“Kakang prabu? Siapa cowok itu?” Matanya melebar lalu menempelkan daun telinganya ke daun pintu.
__ADS_1
...----------------...