
Puspita tersenyum kecil saat mulut Michelle terus mengomeli Paijo yang tampak tidak berkutik sebagai seorang suami. Pria itu hanya mengangguk-anggukkan kepala sambil menjawab iya sayang, iya baby, maaf, mataku salah. Hoo, hoo, aku nggak aku ulangi lagi.
Paijo menoleh sekilas ke arah Puspita yang duduk-duduk santai di depan rumahnya sambil mengunyah arem-arem.
Jangan sampai kamu bersekongkol dengan Icel. Awas.
“Cookies, ingat mantan lagi, iya?” kata Michelle sembari menarik telinganya.
Paijo mendengus. ”Nggak usah akrab-akrab sama dia, Puspita masih benci sama kamu dan cuma terpaksa bersikap baik. Jangan ngelunjak!” ucap Paijo sembari mengalungkan tangannya di pinggang istrinya.
Puspita meringis lalu memberi hormat perpisahan pada pengantin yang memeriahkan hatinya sesaat.
“Selamat menikah mantan. Semoga tidak tertekan.”
Michelle mencium pipi Paijo kemudian setelah mendengar kata tertekan.
”Paijo tertekan karena senang. Puspita juga bisa, tapi jangan sama Paijo ya, bapak aku galak, mama aku nyebelin, repot kamu kalau mereka yang maju.”
Komandan Wisnu menatap Puspita yang hanya menganggukkan kepalanya dengan senyum tenangnya.
“Saya bisa cari yang lain, yang lebih tegas, berani dan tidak selingkuh karena penyakit perselingkuhan itu bisa kambuh-kambuhan. Ingat itu, Michelle!” ucap Puspita dengan nada sarkasme.
Michelle dan Paijo kontan melebarkan mata lalu melirik ke arah Puspita bersama-sama.
“Setelah pesta ini kami akan janjian bikin surat, janji tidak menggoda pria lain, atau menerima godaan wanita. Betul, sweetie Paijo?” ucap Michelle sembari menangkup rahang Paijo.
“Kamu mau berjanji?” tanyanya dengan lembut.
__ADS_1
Dihadapkan pada suatu gengsi dan situasi yang menjadi tekanan batin. Paijo menganggukkan kepala.
“Boleh atau kalau perlu ikat aku di tulang belikatmu. Biar lekat dan hangat.”
Puspita, Dominic, Rastanty, dan komandan Wisnu berbarengan tersenyum aneh sembari menatap bergantian pasangan yang rela tak rela terima di anggap sebagai pasangan aneh bin pd.
“Ya sudah, berhubung acara sudah mau di mulai kalian buruan ke sawah. Biar jadi artis kampung.” seru Dominic sembari mengibaskan tangan.
“Puspita dan polisi-polisi lainnya jadi saksi.” ucap Michelle dengan tenang, “Sekarang Icel mau nonton Jathilan dulu terus jadi ratu, di tandu nanti.”
Semua penonton yang mendengarnya menyunggingkan senyum tanpa bisa di cegah. Dan ketika pengantin itu berjalan lenggak-lenggok dengan sabar menuju tempat penyelenggaraan hajatan Jathilan yang menjadi warisan budaya tak benda provinsi DIY semua terbahak kecuali Puspita dan Rastanty.
Puspita menghela napas seraya menundukkan kepala.
“Cinta beneran adikmu sama Paijo, Dom. Sampai segitunya mereka berdua.” katanya lemah.
“Paijo pura-pura pingsan terus ngintip Icel pakai baju waktu dia ngumpetin adikku di kamarnya setelah mandi karena takut ketahuan pak Kus bawa cewek masuk rumah.”
“Serius?” tanya Puspita langsung dengan mata melebar seakan fakta baru itu membuatnya tercengang.
Dominic mengangguk pelan. “Adikku peluk dia karena takut, pas betul Pak Kus dobrak pintu kamarnya. Ndilalah malah terus ciuman karena kesambet setan. Abis mereka, Pus. Langsung di suruh nikah siri.”
Komandan Wisnu menepuk-nepuk punggung Puspita yang mendadak menunduk dengan raut wajah tak bersemangat.
“Sudah tahu semuanya sekarang kenapa Paijo selingkuh, masih mau kamu terbayang-bayang pengkhianatan Paijo? Lupakan dia dengan mencari kebahagiaanmu, Pita. Tim Ranger Gudeg bilang, you deserve better.”
Puspita meletakkan cake gulungnya yang habis di gigit separo di atas sepatunya seraya menghela napas.
__ADS_1
“Padahal aku kemarin berharap banget bisa lebih dekat setelah tugas negara. Ternyata, Paijo tergiur perawan pirang.”
Dominic menghela napas sambil menepuk-nepuk punggungnya. “Maafin adikku, Pus. Kita yakin kok mereka bakal dapat hukuman setimpal.” Dia menatap komandan Wisnu lalu menghentakkan dagunya.
“Bawa Puspita jalan-jalan saja, Ndan. Kasian dia daripada lihat Jathilan tapi hati sendiri lagi ruwet.”
“Gak usah, Dom. Justru aku mau ke sini, aku mau lihat seberapa jauh Michelle dan Paijo saling menggenggam. Kalau emang pada cinta ya udahlah, gak masalah. Bapakku juga gak suka-suka banget sama Paijo dan itu bakal jadi masalah nanti kalau aku masih lanjut.”
“Yakin?” tanya Dominic.
“Yakinlah, aku bawa pistol.”
Komandan Wisnu langsung sigap mencari pistol yang sebenarnya tidak ada di sarungnya. Dia menyunggingkan senyum malu.
“Bercanda kamu?”
“Siapa yang ngajak bercanda? Komandan saja yang sepertinya tidak mau aku membuat masalah.”
“Bubar... Bubar...” seru Dominic. ”Ada yang mau dua-duaan.”
Puspita menghabiskan cake gulungnya seraya berdiri.
“Yuk. Kita lihat Jathilan sambil jaga keamanan.”
Komandan Wisnu menyambut baik keinginan Puspita, dia memberi hormat padanya seraya berjalan dengan gagah berani di hadapannya dengan sengaja.
...----------------...
__ADS_1