Saat Bertemu Kamu (Romantic Scandal)

Saat Bertemu Kamu (Romantic Scandal)
Mau Kasih Sayang


__ADS_3

Kehadiran Paijo di Malang membuat semarak di hati wanita yang mengemudikan mobilnya sendiri dari Surabaya ke Malang melewati tol Pandaan - Malang selama kurang dari dua jam meningkat. Sungguh bersuka cita sekali Michelle setelah mengetahui kabar bahwa mahar yang diajukan keluarganya di genapi Paijo tak kurang dari satu bulan. Cuma dua Minggu, aji mumpung atau jagat asmaranya sedang bagus-bagusnya Michelle enggan mengira-ngira sendiri faktanya sebab alangkah bagusnya ia tanyakan langsung pada suaminya yang sedang leyeh-leyeh di halaman belakang.


Michelle menghentikan mobilnya tepat di belakang mobil SUV off-road kakaknya dan sedan hitam bapaknya yang berbarengan memasuki jalan perumahan. Tiga mobil itu tidak bisa masuk ke dalam halaman rumah. Dan secara nyaris bersamaan empat orang dewasa dan satu bayi keluar mobil.


Michelle menghamburkan pelukannya ke arah Prambudi yang merentangkan sebelah tangan agar diisi pelukan anaknya yang tampak berseri-seri bahkan tak sabar melihat 21 ekor sapi yang di umumkan Pak Tedy melalui grup keluarga.


“Papa... i wanna be your forever daughter, but i will be a wife of Paijo ndeso, forever.” ucap Michelle sembari mendongak menatapnya.


Prambudi menghela napas. Kali ini tanggung jawab akan putrinya betul-betul lepas, Paijo dengan sungguh-sungguh meminta Michelle menjadi istrinya secara serius dengan tempo yang secepat-cepatnya bahkan ia tidak menyangka hanya perlu sesingkat itu mewujudkan impiannya?


Kendati ia kaget dan tidak menyangka, Dominic selaku sumber informasi terpercaya memang sudah mengumumkan bahwa Paijo meskipun wong ndeso dan sederhana, dia memiliki harta yang cukup untuk memenuhi keinginan Marisa, bahkan tanpa sepengetahuan Dominic, warisan dari ibunya yang berada di wilayah sekitar pegunungan sewu cukup luas untuk dijadikan kebun binatang mini.


“Papa tahu, tapi masalahnya 21 ekor sapi itu harus di taruh di mana Icel. Mamamu minta mahar sapi, tapi gayanya selangit. Pasti ndak mau ngurus dia!”


“Biar mama pikir sendirilah, aku ke sini cuma mau ketemu Paijo, mau kasih sayang ke dia.”


Diikuti Dominic dan Rastanty di belakangnya, Prambudi melempar tatapan jenakanya.


“Angel iki, Dom. Angel. Paijo ketoke nganggo ajian pemikat.” ( Susah ini, Dom. Susah. Paijo sepertinya menggunakan ilmu/mantra pemikat )


“Nggak mungkin, Pak. Pak Kus bakal ngamuk Paijo nekat dukun bertindak.” sahut Dominic sembari mendorong pintu gerbang.


Di saksikan langsung dengan mata telanjang, orang-orang yang di tunggu Marisa dengan gusar itu begitu takjub melihat sapi-sapi yang mulai mengeluarkan aroma khasnya.

__ADS_1


“Paijo serius, Pa... Paijo sayang sama Icel. Lihat sapinya lucu-lucu, lebih lucu dari Budiman!”


Euforia melanda wanita yang dibanjiri kadar serotonin itu, ia mulai bergerak menyentuh kepala 20 ekor sapi tanpa rasa takut sembari menghela napas lega di depan teras.


Aku pikir Paijo nyerah. Hampir 30 tahun aku menunggu pria yang berani nembung aku sama mama dan papa, ternyata hanya perlu sedikit skandal dan menurunkan kriteria.


Michelle berbalik, dengan lincah dia menarik kedua gagang pintu yang sebesar lengannya. Sementara Michelle berteriak memanggil nama suaminya, Dominic, Prambudi dan Rastanty melihat sapi-sapi pemberian Paijo dengan ekspresi geli.


“Bapak nggak nyangka, Dom. Kelihatannya Paijo ogah-ogahan sama Michelle kemarin. Ternyata ngeri juga dia.”


“Tentu to, Pak. Paijo udah lepas Puspita, mana mungkin dia lepas Icel juga. Nyesel seumur hidup dia.”


Prambudi menghela napas, sapi-sapi yang diberikan Paijo terlihat sehat dan gemuk-gemuk meskipun ada yang masih anakan. Dari kacamata pengamatannya yang ikut mencari informasi harga sapi, Prambudi bisa mengira habis berapa keseluruhan biaya itu.


“Mending bapak temui Paijo langsung, anaknya kebangetan jujur kok.”


Di dalam rumah, dua pasang mata yang terlihat berbeda ekspresinya saling bertatapan.


Michelle menyeringai sambil melangkah dengan cepat menuju Paijo yang cemberut di gazebo taman. Tetapi keberadaan Kusumonegoro, sopir dan kernet yang duduk-duduk santai di pinggir kolam dengan seekor sapi cilik yang baru diketahui Michelle membuatnya bermanuver dengan cepat.


Michelle menghampiri Kusumonegoro dengan senyuman rikuh seraya bersimpuh di belakangnya.


“Bapak.” katanya setengah manja sambil mengatupkan kedua tangan.

__ADS_1


Kusumonegoro membalikkan tubuhnya tetap dengan posisi bersila. Entahlah pikirnya, mempunyai mantu dari kalangan atas tetapi tetap menghormati wong cilik sepertinya lumayan membuatnya mendapatkan bonus tambahan. Mantu kenthir tapi sopan.


Michelle mencium punggung tangan bapak mertuanya dengan geli.


“Bapak sudah makan?” tanyanya rikuh.


“Belum...” Kusumonegoro menunjuk kopi dan roti-rotian di nampan sebesar tampah. “Ibumu ngomong nunggu makan siang bareng-bareng.”


“Kalau gitu ayo masuk ke dalam, Pak. Semua udah datang tuh di dalam.”


“Makan di sini aja, pakai tikar. Nggak mau orang-orang ini ke dalam rumahmu, takut khilaf terus nggak mau pulang.”


Tatapan Michelle beralih ke sopir dan kernet yang memang terlihat seperti sopir-sopir truk pada umumnya, gahar, anti mandi kalau tidak kepepet, dan urakan.


“Icel bilang mama dulu kalau gitu nggih, pak. Kalau pada mau makan pakai tikar di taman.”


“Ya kalau makan ya pakai nasi sama lauk pauk terus sayur sambel, tempatnya piring, bukan makan pakai tikar!” sahut Kusumonegoro setengah mangkel.


Michelle menahan tawanya seraya berdiri.


Mirip Paijo, suka ngegas tapi pasti penyayang.


...----------------...

__ADS_1


__ADS_2