Saat Bertemu Kamu (Romantic Scandal)

Saat Bertemu Kamu (Romantic Scandal)
Party terakhir


__ADS_3

“Sayang, baby, sweetie. Buka pintunya dong. Icel bisa jelasin... Sumpah...” seru Michelle seraya mengetuk-ngetuk pintu kamar tanpa jeda.


“Sayang, Paijo... Honey, cookies. Plis...”


Paijo memutar kenop pintu seraya menarik tangan Michelle dengan cepat dan mengunci pintunya lagi.


“Aku jijik, Sel. Jijik banget aku.” ucap Paijo dengan tubuh yang merinding disko.


“Jijik piye ta? Jijik sama aku?” ucap Michelle ngegas.


“Bukan Ya Allah.” Paijo berusaha membuat tubuhnya berdiri stabil lalu memegang kedua lengan atas Michelle dengan wajah serius.


“Itu cowok semalam yang nemenin aku minum dan ternyata dia lekong! Nyadar nggak kamu dia bilang aku tampan sekali. Juoh... amit-amit, Sel. Aku perlu mandi.”


Belum sempat Michelle mengiyakan, Paijo sudah gegas mengambil handuk dan menghilang di balik tembok kamar mandi tanpa pintu.


Michelle menarik kedua sudut bibirnya dengan ragu-ragu setelah melihat aksi Paijo tak seperti dugaannya.


“Ini kok jadi runyam gini ta? Apa Paijo mengira Richard gay terus bantuan Richard semalam waktu antar pulang jadi jijik gitu. Widiww, jauh sekali dari ekspektasi Icel. Haduh.”


Michelle melangkah dengan lemas ke arah kamar mandi sambil menyampirkan handuk di bahu.


“Sweetie, join.”


Paijo mematikan kran shower seraya mengambil handuk dan membungkus tubuhnya.


“Kamu mandi sendiri saja, aku tunggu di kamar.” ucapnya sembari keluar kamar mandi.

__ADS_1


Michelle menendang bathtub mendapati penolak Paijo, dan ia mandi secepat agar bisa menjumpai suaminya yang dilanda rasa cemas.


“Sweetie...” ucap Michelle sembari memeluknya dari belakang.


Paijo berdehem sembari menyisir rambut sebelum berbalik dan mengambil handuk kecil yang membungkus rambut basah Michelle.


“Ceritain kenapa kamu mabuk, kenapa?” tanyanya dengan mengangkat sedikit dagunya.


Paijo mengering rambut Michelle sembari menghela napas.


“Ya minum aja, kebanyakan.”


“Nggak ada pengeluaran tuh semalam di m-banking kamu.”


Paijo menghela napas seraya menyampirkan handuk di bahu.


Richard!


Michelle memanyunkan bibir. “Pantesan kamu takut banget waktu dia bilang kamu tampan banget, sweetie. Kasian, untung dia baik antar kamu ke vila ini bukan ke kamarnya.” ucapnya sembari mendekap Paijo.


“Untung aku sudah bilang punya istri, jadi... Gimana bisa kamu ketemu dia?” Paijo mundur selangkah, mengambil sisir lalu menunggu Michelle bicara dengan membuka berbagai vitamin rambut istrinya dari pouch bergambar kelinci-kelinci kecil.


Michelle tersenyum mendapati suaminya masih memanjakannya.


“Aku yoga di pinggir pantai, ketemu dia, temen aku. Model.”


“Lekong?” tanya Paijo dengan berat hati.

__ADS_1


Michelle nyengir sambil meraih pinggang suaminya dengan kedua saja. “Fifty-fifty. Dia kenal kamu, dia bilang kamu mau cari harta karun biar kaya mendadak dan itu menyakitiku, membuatku sedih.”


“Berkhayal boleh saja toh?” Paijo nyengir. “Makanya toh, jangan pesta-pesta terus. Wes cukup ini yang terakhir. Pesta marai kere.” ucapnya sambil mengusapkan vitamin rambut istrinya.


“Iya terakhir, tapi kita pokoknya wajib menikmati private party ini dengan sepenuh hati.”


Paijo menurut, siang sampai sore dia akhirnya menikmati suasana terik di bawah langit Bali dengan mengikuti segala macam piknik keluarga yang di atur Michelle sebelum bersiap-siap menyambut private party di tengah keluarga Michelle yang membuat Kusumonegoro kembali bergidik ngeri dan sembunyi di kamar.


“Bapak kenapa, Jo? Meriang lagi?” tanya Michelle sambil berdandan di sampingnya.


“Nggak kuat lihat yang terbuka-buka. Nggak biasa.”


Paijo memakai vest hitam tanpa menggunakan kemeja. Lengannya yang kekar dibiarkan telanjang tapi untung bulu ketiaknya sudah lenyap setelah mengikuti saran Michelle waxing.


“Kita party sampai pagi terus besoknya kerja. Habis itu ngunduh mantu, kelar, kerja lagi. Kamu nggak usah bikin skedul piknik, kalau ngidam boleh.” Paijo mengingatkan sambil memasang pita merah di rambut Michelle yang di kepang dua.


“Siap sweetie, aku padamu sekarang dan selamanya.”


Malam semakin larut, lampu-lampu menyala, suara burung berhenti berisik di gantikan dengan lagu-lagu pesta pernikahan yang syahdu.


Michelle dan Paijo berdiri di stand khusus yang dipenuhi bunga-bunga segar, mereka berdansa sambil tersenyum. Sementara para undangan private party membiarkan suasana party semakin seru dengan panas dengan mengubah lagu pernikahan menjadi musik remix.


Michelle mendengus, dia tergoda untuk meliukkan tubuhnya tetapi Paijo menggeleng kecil lalu menggandeng tangannya keluar vila dibarengi suara Dominic yang melarangnya.


Paijo dan Michelle tak menggubris. Di pinggir pantai, Paijo mengangkat tangan Michelle yang ia genggam sebelum mencium punggung tangannya.


“Berdua lebih baik.”

__ADS_1


Angin pantai membelai kulit mereka, namun kehangatan terlanjur mengisi hati mereka yang makin malam makin rapat. Michelle tersenyum, lalu menghabiskan sisa malam di bawah langit Bali tanpa melanjutkan misinya.


__ADS_2