Saat Bertemu Kamu (Romantic Scandal)

Saat Bertemu Kamu (Romantic Scandal)
Rindu Bersua


__ADS_3

Michelle mengajak Paijo berpelukan dan berputar-putar seperti sepasang balerina sebelum mengempaskan tubuh mereka ke sofa yang siap sedia menerima beban rindu sejoli yang merasakan letupan yang menggebu-gebu.


“Kakang prabu... Apa kabar?” Michelle tersenyum geli setelah menghempaskan tubuh Paijo di sofa. Wajah tercengang dan ekspresinya yang terpukau semakin membuatnya menjadi menggemaskan di mata Michelle yang di landa euforia.


Pintu tertutup rapat dan berdua saja rupanya tampak membuat Paijo gelisah menghadapi wanita yang menggeser posisinya sampai di jarak paling dekat Lingga dan Yoni mereka.


“Kenapa sih? Lupa kalau aku masih istri kamu?” Michelle membelai pipinya dengan punggung jari telunjuk setelah mengecupi kedua pipinya.


“Aku berat sama kamu. Kamu enggak?”


Mata mereka beradu, tersirat dalam binar mata Michelle perhatiannya terbayar saat Paijo ragu-ragu mengangkat tangannya dan meremas lembut kedua pinggangnya.


“Tiap hari teleponan apa masih harus kangen?” Paijo berdehem, mengusir gumpalan yang tertinggal di tenggorokannya sementara hidungnya menghidu parfum Michelle. Masih sama seperti saat ia meninggalkannya kemarin.


“Duduk yang betul, jangan seperti ini.”


“Kenapa? Aku sewa club ini sampai tengah malam.” Michelle melepas tiga kancing kemeja batik Paijo paling atas. Setelah dada pria itu terpampang indah di depannya, Michelle meletakkan telapak tangannya di sana. Hangat dan detak jantung pria yang berdesir itu membuatnya semangat.


“Lama nggak ketemu jadi kikuk mesra-mesraan sama aku, iya.” tukasnya sembari memperpendek jarak wajah di antara mereka. Hidung mereka bersentuhan, kening mereka menyatu. Cengkeraman di pinggang Michelle semakin erat.


Paijo tahu rasanya bibir merah bergincu wangi itu, kerlingan nakal itu pun ia tahu sebagai izin dari Michelle untuk menyentuhnya. Tetapi tempat yang memiliki meja rias berkaca besar hingga memantulkan kelakuan mereka dan cctv di pojokan membuat nyalinya kabur, malu yang ada sekarang terlebih Dominic bisa menjadi pelawak dadakan nanti. Bahaya.


“Tidak di sini. Aku nggak bisa, Sel.”


Michelle mengikuti arah pandang Paijo. “Halah nggak masalah itu, satu kecupan mesra aja, nggak bikin gincuku luntur kok mas. Waterproof ini.” Michelle menguncupkan bibirnya.


Paijo memejamkan mata, membiarkan wanita itu mengambil apa yang ia inginkan selagi ada waktu untuk mendapatkannya.


Michelle membelai bibir Paijo setelah menjauhkan wajahnya dari Paijo.


“Gak pernah inisiatif.” Michelle memanyunkan bibirnya sembari mengalungkan tangannya di ke leher Paijo.


“Aku tahu tempat kok.” Paijo menjulurkan lidahnya. “Memang kamu.”


Tidak ingin mengeluarkan sepatah kata, Michelle hanya merapatkan tubuhnya ke tubuh suaminya.


“Makasih ya udah datang walau pun lama banget. Kamu pasti tertekan nggak ada yang ngurus dan manjain kamu.”


Paijo kesulitan menarik napas, tubuh Michelle sepenuhnya menjadi beban di tubuhnya yang pegal-pegal setelah melewati perjalanan Jogja-Surabaya mengunakan kereta.


“Bisa nggak kita begininya nanti saja. Aku belum mandi.”


“Sek to, dilit.” (Tunggu aja, sebentar. )

__ADS_1


Paijo menghela napas dan mengelus punggung Michelle dengan lembut.


“Lapar aku, Sel. Sama kakakmu cuma di kasih anggur.”


“Ya ampun, Jo. Malah sambat lapar. Nggak ada romantis-romantisnya ya kamu.” Michelle mencubit kedua pipinya dengan gemas.


“Untung aku sayang sama kamu, coba enggak. Aku tambah gila mikirin cara untuk menyayangimu.”


Michelle beranjak, berhubung gaun malamnya sudah tidak rapi, ia mencari gaun pengganti di rak pakaian yang berjejer di samping sofa.


“Mbak Rasta ikut ke sini nggak?”


“Nggak, dia di apartemenmu.”


“Lho di bobol apartemenku, terus kita nanti berdua gimana boboknya? Budiman pasti begadang. Terus ganggu kemesraan kita.”


“Halah memangnya mau mesra-mesraan gimana? Selama aku belum menghaturkan sembah seserahan pada bapak ibumu kamu masih ingat aturan mainnya!”


“Ya elah... Kakang Prabu... Serius banget.” Michelle menarik satu gaun atas lutut berwarna hitam legam tanpa lengan. Di menaruhnya di sebelah Paijo sebelum mengumpulkan rambutnya.


“Turunin resletingnya dong, mas.”


“Di sini?” Paijo reflek menggeleng. “Ganti di kamar mandi! Enak wae ada cctv nanti di tonton banyak orang.” ucapnya setengah ngegas.


“Cie... Ayo kalau gitu. Lebih privasi lebih seru.” Michelle menarik tangan Paijo yang terulur sementara pria itu meraih gaun di sampingnya.


Paijo menatap pantulan wajah Michelle sembari mengumpulkan rambut istrinya yang wangi dan segar.


“Aku sudah menyelesaikan urusanku dengan Puspita.”


Michelle mengambil alih rambutnya ketika Paijo mengelus resleting gaunnya dengan sebelah tangan.


“Tapi aku juga belum berani datang ke rumahmu dan ngaku-ngaku kita sudah menikah.”


Paijo menunduk wajahnya, mencium ceruk leher Michelle yang resik dan jenjang sembari menurunkan resleting gaun malamnya dan melepaskan pakaian wanita itu.


Dengan bikini yang betul-betul seksi, Paijo dapat melihat bagaimana wujid belakang tubuh istrinya yang aduhai.


Paijo berdehem, menghindari tatapan Michelle yang terus menelisik matanya.


“Pakai.” Paijo mengulurkan gaun hitamnya.


“Mau tapi sungkan. Hebat ya kamu.” Michelle berbalik, dia mengangkat tubuhnya ke cor-coran wastafel yang mampu menampung berat badannya.

__ADS_1


“Sini, jangan duduk di toilet.”


Paijo menutup wajahnya dengan kedua tangan.


“Sudah pakai bajumu terus keluar. Surabaya hawane panas.”


“Dimata orang yang gragas aku istimewa, di matamu aku kelihatan biasa-biasa saja.” cibir Michelle. “Aku menginginkanmu, Jo.”


“Nggak elok di kamar mandi.”


“Tapi sini dong. Puji aku!”


Paijo tidak dapat menyembunyikan senyumnya. Kembali dia dapati perempuan itu mendesaknya agar memuji keelokan tubuhnya secara transparan.


“Kamu seksi, cantik.”


“Itu aja? Nggak ada yang lain? Itu sudah biasa, Jo. Aku tahu.”


“Kamu wangi.”


“Yang lain!”


“Kamu tukang maksa, mesyum, kurang ajar, mata keranjang, tapi kamu like an angel.”


Michelle terbahak-bahak, dia menemukan jati diri Paijo yang dirindukan. Tukang ngomel.


“Ya udah aku pakai baju. Kamu jangan tutup mata dong, lihat aku.” Michelle turun dari wastafel seraya meraih kedua tangan Paijo.


“Lihat aku, Jo.”


Paijo mengendorkan otot-otot tangannya hingga kedua tangannya berhasil Michelle raih. Matanya mengerjap lalu ia saksikan tubuh molek sang istri yang menjulang di depannya sambil meneguk ludahnya.


“Aku ingin terlihat istimewa di mata orang yang tepat dan itu kamu.”


“Iya, tapi di rumah. Jangan di tempat umum!” pungkas Paijo, terpaksa dia mengambil gaun itu dan memakaikannya di tubuh Michelle yang pasrah menerima perhatiannya.


“Kelamaan kamu, keburu masuk angin.”


Sembari mencium pipi Paijo, Michelle membuka daun pintu.


“Nanti aku kenalin kakang prabu Paijo sama teman-temanku. Tapi sebelumnya kamu harus pakai vest, biar kelihatan perlente.” Michelle meraih vest hitam jas sesuai ukuran Paijo di gantungan baju dan memakaikannya di tubuh Paijo.


“Keren kan, kamu jangan malu, ada aku di sampingmu.”

__ADS_1


Dengan pasrah Paijo menerima gandengan tangan Michelle sebelum keluar dari ruang pribadi tuan rumah acara itu.


...*********...


__ADS_2