
Michelle tidak membayangkan hidupnya sebulan terakhir berubah drastis. Sejak kali pertama berkenalan dengan Paijo hangatnya kebersamaan yang timpang itu membawanya pada jenjang baru yang bergelombang. Kian lama kian dahsyat seakan menariknya pada banyak hal yang baru ia ketahui.
Dengan lamunan, duka bahagia yang ia jalani di rumah sederhana itu menyampaikan beragam pesan kala semesta telah menitipkan beragam benturan kepadanya. Namun ia tahu, tidak ada yang mampu mengendalikan angin saat berlayar, namun ia bisa menyesuaikan layarnya.
Michelle tersenyum sembari beranjak dari karpet ketika suara motor Paijo berhenti di depan rumah. Membuka pintu, ia mengintip sebentar suaminya yang melepas helm.
Paijo melepas sepatu sambil duduk di kursi bambu, raut wajahnya yang carut marut menyisakan tanda tanya.
Michelle mengangguk-angguk, karena sejarah ia sudah meresapinya jauh lebih dalam sikap Paijo. Maka satu persatu sikap agresifnya menguap di udara.
“Tumben balik habis magrib, sibuk di kantor?” katanya sambil meraih ransel hitam yang di ulurkan Paijo.
“Tadi pulang dulu ke rumah.” ucap Paijo setelah dihujani tatapan penuh selidik. “Ada yang mau nikah, jadi harus rapat pemuda-pemudi.”
“Oh, udah makan dong berarti?” Michelle merapikan desainnya yang baru setengah jadi setelah menaruh tas Paijo di kamar. Sementara Paijo kontan duduk di karpet, selonjoran ia melepas kancing baju dinasnya.
“Belum, Icel. Ngobrol sama bapak-bapak cuma ngopi, nggak ada makan-makan.” Paijo menyampirkan bajunya di sofa.
“Terus mau makan apa biar aku pesenin. Aku belum masak.” akunya dengan ragu. Masak adalah kegiatan yang ia hindari tapi demi Paijo sekali dua kali dapur ia sambangi untuk sekedar membuat kopi, dan masakan western yang mudah.
“Aku lagi garap desain untuk gelaran Surabaya fashion week tiga bulan lagi.”
Paijo tersenyum hambar sembari meraih lembaran-lembaran kertas yang diberikan Michelle. Sambil mengamati hasil karya penuh penghayatan dan ketelitian istrinya Paijo mendengar.
__ADS_1
“Dua bulan sebelum acara dimulai, aku harus ke SBY, banyak urusan. Masalah gak aku tinggal lama?” tanya Michelle.
“Tidak masalah, aku susul waktu acaranya.” Paijo terpukau dengan satu desain mentahan bertema gaun mulet dengan halter strap.
Senyum Michelle memudar. Sebulan sudah dia buang-buang waktu bersama Paijo di rumah itu, meninggalkannya dua bulan tanpa temu rasanya banyak yang kurang.
“Gak setiap weekend saja ketemunya? Kita bisa usahakan untuk ketemu.”
Paijo menyaksikan mata hazel itu hampir menangis, entah menangisi apa sebab sebulan yang terjadi hanyalah perdebatan perbedaan pola makan dan perselisihan kebiasaan. Baginya itu lumrah terjadi, sekat-sekat yang memisahkan keduanya semakin tak berjarak dan transparan. Semakin jelas yang membentengi mereka.
Lain hanyalah dengan Paijo yang menganggap semua masih di aman meski slalu di tempatkan pada noktah hasrat yang menggebu bagi Michelle momen itu akan memancing suasana hatinya.
“Nggak bisa lama-lama pisahnya, nanti nggak jadi jatuh cinta.” ucap Michelle sambil meraih tangannya yang nganggur. “Aku niat rebut kamu dari Puspita.”
Paijo menghela napas panjang. “Puspita sudah bisa di hubungi, Sel.”
“Oh...” Michelle mengangkat alis seraya melepas tangannya. Secuil hatinya tercubit mendengar kenyataan yang pernah sekali dua kali ia harapkan Puspita semakin lama tugas negaranya.
“Udah konek lagi, oke deh.” Michelle membereskan lembaran kertas yang Paijo taruh di karpet sambil menundukkan kepala. Ia akan bersabar menanti Paijo putus, setidaknya aroma itu sudah terendus.
“Kamu makan malam sama Puspita saja, aku harus mulai diet.” ucap Michelle seraya meringis. “Aku makmur hidup di sini.”
Paijo menahan pergelangan tangan Michelle sebelum wanita yang memakai summer dress biru langit yang tampak serasi di kulitnya yang resik dan kaca mata baca itu beranjak dari ruang tamu.
__ADS_1
“Puspita belum pulang, dia baru apel di kota. Ada sinyal.” Paijo menjelaskan, sekilas tampak sayu, mata itu membawanya pada sederet karsa yang menyesakkan jiwa. “Aku mandi dulu terus kita makan di luar.”
Michelle mengacungkan jempol, seperti biasa dia akan menyiapkan pakaian Paijo di meja kamar dan merapikan pakaiannya yang kotor di keranjang bambu.
Tak kurang dari sepuluh menit, Paijo selesai membersihkan diri. Di kamar, bukannya ia mendapati Michelle bersiap-siap atau menggoda si Jonny yang tertutup handuk seperti biasanya, wanita itu sibuk menggoreskan pensil di kertas sambil berdiri.
“Kalau kamu sibuk dan bad mood nggak usah pergi, aku belikan saja.” kata Paijo ngalah, padahal niatnya pergi berdua untuk memperbaiki celah agar tidak melebar.
“Boleh.” Michelle menoleh seraya memejamkan mata kala handuk itu terlepas dari raga Paijo. “Wagyu steak with mushroom sauce.” katanya dengan nada.
Paijo mendengus sembari mengikat tali sepatu yang ia jadikan ikat pinggang. “Bad mood apa cemburu Puspita aktif lagi?”
Meletakkan pensil Michelle berbalik, dia melepas kaca mata baca seraya mengibaskan rambutnya. Menunjukkan sikap super modelnya yang dia sembunyikan.
“Apa seorang Michelle patut cemburu, Jo?”
Sambil menyisir rambut di depan lemari, pantulan wajah Michelle dari cermin dapat Paijo lihat dari sana. Dia yakin perempuan itu bakatnya banyak termasuk menyembunyikan perasaannya sekarang.
“Kalau tidak cemburu ya sudah toh biasa-biasa saja. Wong yang seharusnya cemburu itu Puspita, bukan kamu!” Paijo nyengir dalam hati, “Ingat... cemburu itu tanda cinta, atau jangan-jangan sudah cinta kamu sama aku?”
“PAIJO!”
...----------------...
__ADS_1