Saat Bertemu Kamu (Romantic Scandal)

Saat Bertemu Kamu (Romantic Scandal)
Kembali


__ADS_3

Mendaratnya pesawat di landasan pacu Yogyakarta Internasional Airport yang terletak tak jauh pesisir pantai itu memberi kelegaan yang tak terperi di hati Puspita. Pulang dalam keadaan selamat dan sehat setelah melakukan tugas negara menjadi keharusannya untuk mengangkat muatan rindu dan khawatir dalam benak sanak keluarga.


Puspita menghirup udara terminal kedatangan seraya menatap bintang-bintang yang nampak bermekaran di langit lepas. Ia tersenyum. Tiba juga waktu yang diharapkannya mencurahkan rindu yang menggebu pada kekasihnya. Sebentar lagi setidaknya jaraknya tak seperti bintang-bintang yang tak tersentuh dan begitu bebas itu.


Komandan Wisnu ikut mendongak, mencari-cari sesuatu yang membuat Puspita tersenyum-senyum bagai gadis yang di mabuk cinta. Namun yang ia dapati hanya langit Jogja yang cerah dengan semilir angin yang berhembus tenang.


Komandan Wisnu mengendikkan bahu, dalam heran yang menjadi enyah ia menepuk lengan Puspita.


“Bus jemputan sudah datang.” ucapnya kala bus polisi berhenti meraung tak jauh dari mereka.


Dada Puspita mengembang serupa senyumnya. Kembali ke dunia nyata setelah khayalannya melalang buana terasa menggelikan.


“Siap, Ndan.” Puspita memberi hormat seraya membungkuk, mengangkat oleh-oleh yang ia kemas dalam kardus yang kini terasa enteng.


Puspita mengantri di belakang tim Ranger Gudeg yang bergantian masuk ke bus polisi, kursi yang lengang dengan jumlah anggota yang tidak banyak membuat mereka duduk sendiri-sendiri menikmati sisa semangat dengan memperhatikan suasana malam ke kota Jogjakarta sambil menyandarkan kepala di jendela mobil.


Puspita mengambil buku jurnal dari anakan tas kerilnya. Sesekali ia menulis surat untuk Paijo demi mengisi hari-harinya di Papua yang amat ia nikmati dalam sunyinya rindu yang tak berbalas.


Dalam setiap hari yang bergulir maju, dalam setiap problematika batin dan jasmani yang aku alami di Papua. Hari ini aku resmi pulang, Jo. Perlu 105 hari untuk menamatkan misi kemanusiaan yang akan menjadi batu loncatan ku menjadi polwan keren dan multitasking.


Meski awalnya tugas ke Papua bagiku terasa amat berat dan menakutkan. Kamu tahu sekeras-kerasnya watakku lebih sangar watak mereka, tapi aku takjub dengan berbagai variasi flora dan fauna yang aku temui di sini. Aku berada di tempat yang mengajariku lebih kuat. Lebih mudah mengambil keputusan, contohnya ya makan sagu atau ransum, mandi di sungai atau tidak mandi. Di kejar babii atau berburu babii. Begitu banyak yang aku alami dan semuanya menguras tenaga. Sayangnya di sela-sela jam istirahat dan waktu tidurku yang slalu ditemani nyamuk dan anak anjing milik anak ketua desa, hatiku cukup kuat memikirkan mu. Aku kangen kamu.


Puspita menutup buku jurnalnya sembari menatap suasana luar bus yang meraung membelah jalan setelah meletakkan pena. Bulan purnama semakin terlihat utuh. Bersinar seakan mewakili hatinya yang kian bersemi.


...***...


“Tidak di jemput Paijo, Pus?” tanya komandan Wisnu setelah apel malam di kantor polres selesai.


Puspita menggelengkan kepala dengan mata terpancang di layar ponsel.

__ADS_1


“Paijo lagi di acara kondangan tetangganya, Ndan. Baru selesai resepsi, capek kalau harus jemput aku.” Puspita menyimpan ponselnya di saku celananya lalu tersenyum sewajarnya.


Pria berkulit hitam manis asal Sleman itu duduk di sampingnya, menghadap kolam ikan di teras polres yang gemericik.


“Komandan sendiri belum pulang? Nunggu di jemput?” tanya Puspita.


Wisnu Megantara menggeleng, pria berperawakan tinggi kekar dengan rahang keras yang membingkai wajahnya hingga terlihat kukuh tak tersentuh itu mengeluarkan kunci motor dari dompetnya. “Aku bawa motor, mau aku antar saja daripada sewa ojek daring?”


Puspita beranjak dari tempat duduknya saat Avanza Veloz putih memasuki halaman polres.


“Aku di jemput bapakku, Ndan. Tapi makasih lho tawarannya.” Puspita mengangkat tas keril polisinya seraya membuka pintu mobil.


Menelan rasa kecewa dengan senyuman formal karena gagal mengajak Puspita pulang berdua, komandan Wisnu memberi hormat pada atasannya yang tersenyum geli di dalam mobil.


“Selamat malam, Ndan.”


“Besok malam jangan lupa makan-makan di rumah saya. Syukuran kalian pulang dengan selamat.” ucap Bakri.


“Siap, Ndan.” Komandan Wisnu menutup pintu mobil sewaktu Puspita masuk ke dalam mobil.


“Makasih, Ndan. Pulangnya sekalian patroli ya, banyak begal.” ucap Puspita setelah menurunkan jendela mobil. Semilir angin membelai rambut cepaknya yang lepek. Wajahnya pun berminyak. Tetapi nada gurauan yang terdengar seadanya itu Wisnu tanggapi dengan senyuman khas yang menunjukkan lesung pipi kanannya.


“Sudah tunangan, mau nikung, takut di pecat. Nasib.” ucap komandan Wisnu setelah Avanza Veloz putih itu menjauhinya.


Di dalam mobil, Puspita merenggangkan otot-ototnya yang kaku. Di luar tugas negara, kembali menjadi anak bapak alangkah senangnya.


“Aku kangen Paijo, Pak. Mampir bentar ke rumahnya, ya. Mau minta lemper dia baru selesai ng-mc kondangan.”


Bakri menggerakkan persneling mobil sembari fokus mengemudi.

__ADS_1


“Ketemu kok cuma minta lemper, ketemu itu minta kepastian. Kapan mau nikahi kamu, ngono lho, nduk.” Bakri berdecak.


Puspita mencebikkan bibir sambil mengetik serangkaian pesan panjang untuk Paijo.


“Basa-basi dulu, Pak. Aku juga belum pengajuan cuti. Lagian ya, iso-iso Paijo jantungan aku minta di nikahi besok.”


“Ya pokokmen minta kepastian, Paijo juga kamu undang sekalian acara besok!” sahut Bakri.


“Iya, pak'e. Iya.” Puspita mengangguk kuat-kuat seraya menikmati perjalanan menuju rumah Kusumonegoro dengan jantung yang berdesir tak karuan.


Semakin dekat dengan kampung Paijo, Puspita deg-degan parah, tetapi ia masih sempat membersihkan wajahnya dengan tissue basah dan menyemprotkan wangi-wangian saat mobil sudah memasuki kampung yang masih riuh akan suara campur sari yang tersiar dari sound sistem.


“Sisiran dulu, Nduk... Nduk... Kebiasaan waton budal.”


Sambil meringis Puspita menerima sisir kecil yang diberikan ayahnya.


“Nggak sabar aku, Pak. Paijo tuh, tuh... Paijo... Keren banget kalau pakai beksan. Level ketampanannya meningkat.” seru Puspita Dewi dengan semringah waktu ia mendapati Paijo berjalan kaki ari acara resepsi sambil membawa kantong kresek.


“Halah, Nduk... Nduk... Wes sana temui sebentar saja. Bapak tunggu di sini, males bapak lihat kamu pacaran.”


Puspita meletakkan sisirnya ke dashboard mobil seraya mendorong pintu mobil.


Dengan ekspresi malu dan pipi yang bersemu merah, ia melangkah ke arah Paijo yang termangu. Sorot matanya sendu, lurus ke depan pada Puspita yang melangkah dengan sigap sambil tersenyum lebar.


Lain halnya dengan Paijo yang merasa dunianya runtuh tepat waktu. Puspita merasa hatinya hangat. Di depan Paijo yang benar-benar tak bisa mengedipkan mata dengan tubuh yang membeku. Puspita memberi hormat ala militer.


“Saya Puspita Dewi sudah kembali dari misi kemanusiaan di Papua Barat membawa oleh-oleh rindu untuk tunangan ku. Laporan selesai.”


...----------------...

__ADS_1


__ADS_2