Saat Bertemu Kamu (Romantic Scandal)

Saat Bertemu Kamu (Romantic Scandal)
Kok Bule?


__ADS_3

Sama halnya dengan situasi di rumah Prambudi Dwayne. Paijo dan Kusumonegoro menghadapi satu wanita yang datang pagi-pagi sekali sambil bermuram durja.


Puspita, agaknya memang pantas mengejar cita-citanya menjadi seorang polwan. Keberanian dan kegigihannya dalam menghadapi berbagai tantangan semasa menjalani akademi kepolisian rupanya cukup memompa keresahan-keresahannya untuk mendatangi rumah tunangan tanpa memakai pakaian dinas harian meski diam-diam pistolnya tersembunyi di balik tas tentang hitamnya.


“Puspita datang ke sini masih selaku tunangan Paijo, Pak.” ucapnya mengawali pembicaraan dengan suasana menegangkan.


Paijo mematri tatapannya pada sosok wanita yang menggunakan gaun selutut tanpa lengan berwarna putih tulang. Berbeda sekali dengan penampilan sebelumnya. Betis wanita itu untuk pertama kalinya Paijo lihat, bersih dan padat. Lengan atasnya pun sama meski beberapa bekas koreng yang tertinggal tak benar-benar membuatnya terlihat cela. Sementara riasan di wajahnya nampak masih di buat wajar, kalem dan sederhana.


“Iya, Nduk. Kamu masih tunangan Paijo, anakku.”


“Tetapi mas Paijo melakukan pembatalan sepihak pertunangan kami, Pak. Puspita harus bagaimana?” tanya wanita itu dengan nada gusar.


Paijo mendapati ayahnya menatapnya tajam. Harus dia akui, ayahnya memang cukup terlihat menakutkan jika begitu. Segala kebaikan yang diupayakan dengan sungguh-sungguh di hari-hari sebelumnya bisa hancur setelah reputasinya tersebar.


Kusumonegoro tersenyum kecut. “Paijo sudah mengatakan alasannya kenapa dia membatalkan pertunangan ini, Nduk?”


Puspita mengangguk. Kali ini saja ia ingin bersikap seperti perempuan pada umumnya, manja, kenes, dan ayu jika statusnya sebagai polisi wanita memberatkan Paijo untuk bersikap kepadanya.


“Mas Paijo hanya bilang dia melakukan kesalahan. Nggak jujur kesalahan apa!” Puspita mengalihkan tatapannya pada Paijo yang gelisah, gelisah menunggu kabar Puspita dan hendak pergi ke kantor.


“Cuma yang Puspita tahu, semenjak mobil merah yang dimiliki seorang perempuan berambut pirang mas Paijo jarang pulang ke rumah. Di hari setelah dia ke rumah sakit dengan perempuan itu, dia cuti kerja. Ke mana Paijo, Pak?”


Kusumonegoro mengangguk dengan sikap mengerti. Sementara Paijo terdiam, sudah betul dia bersikap seperti itu karena Puspita nampaknya hanya ingin mengorek informasi dari sumber utama.


“Nduk...” Kusumonegoro menghela napas, raut wajahnya mempertimbangkan hal-hal yang dia ketahui mengapa itu bisa terjadi. Paijo sudah beristri walau menikahinya tidak pakai hati.


“Bukannya bapak ikut campur masalah kalian. Tapi Nduk, bukankah itu sudah jelas sebagai alasan kesalahan Paijo membatalkan pertunangan kalian?”


“Maksud bapak Paijo betul-betul selingkuh?” Puspita menegakkan tubuh.


“Jawab, Jon.” timpal Kusumonegoro sembari menjawil lengan anaknya. Pengakuan itu harus anaknya ungkap sendiri.

__ADS_1


Paijo melempar tatapannya pada mata Puspita yang menunggu jawabannya.


Sudah aku bilang tidak usah cari kebenaran, aku tidak setega itu.


Nanar mata itu terlihat kasian dan memancarkan sekelumit bara api. Senyuman manis yang dulu pernah memberi harapan kini terasa semu dan biasa-biasa saja. Pesona Michelle yang setara dengan runner up Miss Universe 2022 itu sudah memabukkan naluri dan jantannya.


Paijo jelas akan melepas Puspita demi dia, selain lebih ingin dekat lagi dengannya. Puspita bisa mendapatkan jodoh lain yang lebih daripadanya. Itu pasti. Komandan Wisnu jelas-jelas memiliki rasa kepada Pita, Pita? Sebagai pria yang kerap mendapatkan curhatan dari para sahabatnya, panggilan spesial biasanya diberikan untuk orang spesial.


Paijo akui, orang tua Puspita yang menginginkan anaknya memiliki suami komandan rupanya terus giat berharap dan berdoa. Lain halnya dengan Paijo, laki-laki itu cenderung miwah pasrah akan mendapatkan jodoh seperti apa. Curang memang, tapi satu pilihan akan memudahkan segala persoalan.


Paijo mengembuskan napas, tiada pernah ia merasakan bimbang yang sudah lama dia rasakan. Melepas Puspita sebaik-baiknya dia meminta wanita itu menjadi tunangannya. Hari ini sebelum semakin ribet.


“Aku memang selingkuh dan semua yang aku lakukan dan kamu ketahui adalah bentuk tanggung jawabku kepada wanita yang harus aku nikahi karena kesalahanku. Aku melecehkannya dengan kesadaranku.”


Puspita mati-matian mencengkram gagang tasnya sekuat tenaga.


“Kapan tepatnya?”


“Sudah lama. Maka dengan ini aku memutuskan membatalkan pertunangan kita supaya kamu bisa mendapat laki-laki terbaik untuk hari-harimu di masa depan. Bukan denganku, bajingan ini.” Paijo menunjuk dirinya sembari menggelengkan kepala.


Puspita mengangkat tatapannya dengan air mata yang berderai-derai di pipinya.


“Jadi sampai di sini aja cinta kita dengan peluru luka yang kamu tinggalkan di hatiku?”


“Maaf. Tidak bisa kita perjuangkan lagi pertunangan kita.”


“Siapa perempuan itu?”


“Tidak perlu tahu!”


“Siapa!”

__ADS_1


Wajah Michelle membayang di ingatan Paijo. Tubuhnya yang sintal dan resik, senyumnya yang sensual, serta wanginya yang tertinggal di setiap bajunya membuatnya menghela napas.


“Michelle, bule.”


Wajah Puspita mendadak tercengang tanpa bisa menyembunyikan ekspresinya di depan tatapan Paijo.


“Bule? Kok bule?”


Paijo menyembunyikan senyumnya dalam hati.


“Memang bule.”


Sedikit tercengangnya wajah Puspita membuat Paijo mengerti. Bukan sainganmu dia bahkan susah untuk kugapai sendiri. Paijo memberikan tisu untuk menghapus air matanya.


“Nanti aku datang ke rumahmu, aku ngomong langsung dengan orang tuamu.”


Puspita melepas cincin yang di kenakan seraya meletakkannya di meja.


“Nggak perlu.” Puspita beranjak. “Selamat tinggal, bajingan ini.”


Puspita menuding kepala Paijo seraya menatap Kusumonegoro yang duduk menunduk.


“Puspita pamit, Pak.”


Kusumonegoro mengantar Puspita keluar rumah.


“Bapak minta maaf, Nduk. Lalai jaga Paijo.”


Puspita mengangguk sembari tersenyum kecut.


“Tidak apa-apa, Pak. Sudah lega aku tahu alasannya.”

__ADS_1


Tetap sopan, Puspita mencium punggung tangan Kusumonegoro sebelum menatap ke teras rumah. Paijo melihatnya, mungkin untuk yang terakhir kali.


...*******...


__ADS_2