Saat Bertemu Kamu (Romantic Scandal)

Saat Bertemu Kamu (Romantic Scandal)
Apa!


__ADS_3

Keesokan harinya. Suasana rumah Prambudi Dwayne yang asri dan nyaman tampak lebih ramai dari kunjungan tamu di hari-hari biasanya. Sopir truk dan kernet yang menginap semalam pun kembali mendapat job mengajak sapi-sapi mahar itu ke dalam truk untuk di bawa ke sebuah pabrik bekas pembuatan jamu. Dan pemandangan yang luar biasa nyentrik di perumahan elite itu menjadi tontonan bocah-bocah yang ditemani suster-suster mereka sambil menyuapi sarapan pagi.


Di teras, Marisa berkacak pinggang bagai nyonya rumah yang kehilangan kemilaunya. Marisa tampak berbeda hari ini. Ia seperti koboi wanita yang menggunakan celana jins press body dan sepatu boot hitam. Pakaian atasnya kemeja kotak-kotak dan kedua ujungnya dia ikat sampai mempertontonkan wudel-nya yang memakai tindik berlian sama seperti Michelle.


Kusumonegoro mengepalkan tangannya dan memukul-mukul keningnya yang berkeringat dengan mangkel.


“Besan satu itu rasanya pingin tak ruwat, Jon. Ra ndue isin.” (Nggak punya malu) ucap Kusumonegoro sambil mengurai tali pengikat sapi di pohon ketapang kencana.


Paijo yang membawa satu ekor sapi putih meringis.


“Nggak setiap hari bapak lihat, di sabar-sabarin.”


Kusumonegoro mendengus seraya membawa sapi simental paling besar keluar dari halaman rumah yang beraroma tak sedap itu.


Di teras, Michelle yang baru saja bergabung langsung mencelat menghampiri Paijo dengan senyum bahagianya.


“Sayang... Sumbu negatif vertikalnya Icel... Mau di gandeng juga.”


Kusumonegoro yang mendengarnya memutar matanya. Jiwanya sudah ingin pulang kampung, ngurus ular peninggalan Paijo di bedeng belakang, ngopi-ngopi santai dalam kesunyian rumah atau mendengar keroncong dan campursari. Hidupnya aman dan tentram dalam kesederhanaan. Tapi raganya masih di minta untuk tetap di Malang sampai urusan musyawarah pernikahan selesai. Makin masam wajahnya sekarang, makin terlihat timpang keadaannya terusan.


Paijo menggandeng tangan Michelle dengan tangan kirinya sementara tangan kanannya menuntun sapi dengan hati-hati.


“Nggak usah bahas-bahas sumbu negatif vertikal. Malu di dengar orang.” katanya ngegas.

__ADS_1


“Iya deh, tapi nanti boleh tengok-tengok lagi?” rayu Michelle dengan nada menggoda, bahkan kepala wanita itu sudah menempel di bahunya. Tak peduli beberapa pasang mata melihat mereka dengan ekspresi geli-geli ngeri.


Seorang wanita yang tersohor sebagai bidadari komplek incaran sugar daddy dan konglomerat itu mesra-mesraan dengan orang yang mereka kira hanyalah pelayan rumah itu, sejenis sopir atau apalah yang tidak seharusnya berada di sisi wanita yang mencoba menggunakan daster walau merk-nya tetap berasal dari kancah elite.


“Tengok boleh, pegang jangan. Masih bahaya.”


“Icel suka yang bahaya dan menantang.” ucapnya mantap.


“Terserah. Aku urus sapi ini bentar.” Paijo melepas tangan Michelle dan mengantri di belakang sapi simental yang susah di ajak kompromi.


Sapi itu urung menyetujui si kernet truk menapaki kayu yang membantu jalannya proses naik turun sapi dari jalan ke truk.


“Pedet'e ning endi, Jon?” ( Anak sapinya dimana, Jon? ) tanya Kusumonegoro seakan mengira bawah bapak sapi itu mencari anaknya karena terlihat kepalanya menoleh ke sana ke mari dan menatap perumahan elite itu saban kali tali kekang moncongnya di tarik ke atas.


“Durung mas, pedet'e mbuh ning endi. Ora ono ning jero omah.” ( Belum mas, anak sapinya nggak tahu di mana. Nggak ada di dalam rumah ) seru sopir berkaos singlet kombor.


Paijo menyerahkan tali kekang sapinya ke kernet seraya menggandeng tangan Michelle lagi.


“Tanya mama, sapi ciliknya di taruh di mana.” ucap Paijo sedikit emosional. Sapi terus, johhh.........


“Kok kamu curiga sama mama sih, Jon. Mama nggak mungkin demen anak sapi itu.” Michelle cemberut.


“Siapa tahu mamamu kurang kerjaan!” ledek Paijo. “Sekalian bilang bapakmu yoo, galak sama istri itu boleh jadi jangan sungkan-sungkan menasihati pakai baju yang sopan. Nggak ilok pamer wudel di depan besan, duda lagi.”

__ADS_1


Michelle mendesis tajam. “Mama kadang-kadang nggak pinter ya, Jon. Dasar mama kenthir.”


Paijo mengulum senyum sambil melirik istrinya yang juga meliriknya dengan senyuman khasnya. Dan kemesraan yang terjadi di dekat pos satpam itu buyar setelah melihat Marisa membawa sendiri sapi cilik itu keluar rumah..


“Mama nggak mau dia di bawa ke kandang, Cel. Mama mau pelihara di rumah! Mama sayang dia.” Dengan santai ia memeluk leher sapi yang sudah dia beri kalung emas besar-besar versi replika.


Paijo menyaksikan anak sapi itu yang mendadak seperti sapi konglomerat, wangi bayi dan rambutnya di sisir sebelum di ajak pamitan dengan bapak dan ibunya ke truk.


“Emang mama bisa ngarit?” tanya Paijo geli.


“Bisa... ngarit cari ramban kan? Mama bisa kok, bisa banget tapi carinya di mana? Kamu habis ini ajak mama cari ramban. Oke.” kata Marisa santai.


Perut Paijo bergoyang-goyang. Tak kuasa menahan tawa, ia mengigit bahu Michelle sampai wanita itu menjerit dan tertawa-tawa.


“Oke.” Paijo setujui dan membuat mertuanya girang.


“Nanti mama ngarit buat kamu sapi, jadi jangan takut lapar tinggal sama mama. Kalau kamu sakit kita bisa ke rumah sakit hewan, hidupmu pasti terjamin!”


Paijo dan Michelle membiarkannya menyeret tubuh si sapi cilik itu keluar dari area perumahan sementara keduanya saling mencibir dengan tawa yang meledak-ledak.


“Biar nanti pak Tedy yang ngatur, Jon. Kita bahas busana pernikahan kita aja yuk, di laptop aku banyak contohnya. Terus malak mas Domi, hari ini persiapan mental harus selesai sebab dua Minggu lagi kita nikah resmi.”


Apa!

__ADS_1


__ADS_2