
Paijo dan Kusumonegoro tersenyum bangga setelah menyajikan pemandangan yang menakjubkan dan meriah di halaman rumah Prambudi Dwayne. Suara sapi yang sahut menyahut bagai suara biola yang mengalun merdu.
20 ekor sapi dari jenis simental, sapi putih dan anakan limousin lima bulan itu melegakan hati keduanya. Perjuangan Paijo dari merayu bapaknya, mencari, menawar harga sapi dan menyewa truk Fuso terbayar lunas. Di tambah lagi bonus anak sapi yang masih berkeliaran di dalam rumah mewah itu melebihkan syarat mahar yang diajukan keluarga Michelle.
Urusan mahar ✔️
Urusan Marisa ❎
“Mantep yo, Pak. Beli sapi bukannya buat korban idul Adha tapi jadi korban perasaan.”
“Perasaan bapak!” sahut Kusumonegoro, dilihatnya sapi-sapi yang biasanya hidup di kandang seadanya bersama tumpukan kotorannya sekarang tampak mewah dan istimewa ketika berada di tempat yang bagus dan asri.
“Mertuamu mana? Besan bukannya di sambut malah jerit-jerit. Piye to ibumu itu, nggak sopan!”
Yang di sindir mencelat dari pintu samping yang tembus dari halaman belakang rumah.
“Paijoooo... Sapi cilik masuk kolam renang...” teriak Marisa dengan napas tersengal-sengal.
Paijo dan Kusumonegoro menoleh bersamaan, jeritan yang tidak asing di kuping mereka tetapi masker wajah berwarna putih tulang di mukanya membuat Kusumonegoro mendesis.
“Wes putih kok pupuran tepung.” ( Sudah putih kok bedak'an tepung )
Paijo terbahak sembari beranjak dari anak tangga teras rumah itu. Dia meninggalkan bapaknya yang mengomeli besannya yang enggan melewati banyaknya sapi yang menghiasi halaman rumahnya.
“Kapokmu kapan di uber-uber pedet. Macem-macem kok sama Kusumonegoro, kualat.”
Paijo mengulum senyum di hadapan Marisa yang membelalakkan mata melihat betapa eksotis kulit Paijo.
“Hitam sekali kau sekarang, Jo.”
“Ngarit saya, Tante.”
“Ngarit, apa itu ngarit?”
“Cari ramban, makan sapi.”
__ADS_1
Di otak Marisa yang cemerlang dan modern, mencari ramban untuk makan sapi adalah hal yang mudah. Ia hanya tahu ramban sebagai jenis makanannya saja. Tidak terpikirkan bahwasanya ramban adalah suket dan rumput yang harus di cari keberadaannya, bahkan di beli dari petani rumput gajah. Jerami padi pun harus di kumpulkan dari sisa panen di sawah untuk pakan tambahan, belum dedaknya.
“Pakai spf 50+ dong, biar tidak gosong!”
Spf 50+, opo kui?
Paijo hanya menganggukkan kepalanya seraya mengikuti Marisa ke dalam halaman belakang dengan langkah cepat.
“Kau tolong sapi cilik itu, Jo... Bisa mati itu kebanyakan minum air.”
Paijo melirik mertuanya dengan sinis.
Ngurus sapi meneh, sapi terus. Baru mau istirahat lho aku, Mak.
“Buruan, Jo. Lihat dia megap-megap. Buruan...” Byur... Marisa mendorong Paijo ke dalam kolam.
Gelagapan pria itu menuju permukaan air dengan keadaan sapi cilik berbulu coklat yang kaget melihatnya bergabung dalam air.
Mikul duwur mendhem jero... Joh... Joh... Repot, yakin...
”Kau cepat-cepat tolong sapi cilik itu, Jo. Habis itu keringkan dengan handuk.”
Mbokmu, Sel. Padake aku pawang pedet... (Ibumu, Sel. Dikira aku pawang anak sapi )
Paijo melepas jaket yang ia kenakan seraya menaruhnya di tepi kolam renang.
Demi restu dan sapi cilik itu. Aku kerahkan sisa tenagaku.
Keahlian Paijo dalam berenang diuji kembali setelah dulu ia pernah menyelamatkan Michelle, sekarang ia harus menyelamatkan bonus mahar yang nampaknya mulai lelah belajar berenang.
Paijo menguber-uber sapi cilik yang berenang acak di sepanjang kolam renang dengan susah payah, Paijo terdiam sejenak, napasnya mengkis-mengkis, sorakan dari Marisa pun terasa menyebalkan.
Pengen nyerah, pengen putus asa. Masa orientasi mantu ini bener-bener nguras kantong dan tenaga.
Paijo mendorong anak sapi itu ke tepi kolom setelah sapi itu mendekat. Tak peduli dengan reaksi sapi yang lincah mengayunkan kakinya itu Paijo terus mendorongnya ke tepi kolam. Paijo menguatkan kuda-kudanya seraya mendorong sapi cilik itu dengan kuat ke atas kolam.
__ADS_1
Sapi cilik itu tersuruk di atas rumput sementara Paijo yang kelelahan merangkak ke tepi kolam renang dengan perlahan-lahan dan merebahkan diri di atas rumput sambil menyipitkan mata menepis cahaya matahari yang menyilaukan mata.
Marisa mendapati sapi cilik itu bergerak memasuki tempat membilas tubuh. Gegas ia berlari dan mengunci pintunya yang setinggi dua meter.
“Aman guys, aman.” Marisa menghampiri Paijo dengan langkah lelah.
“Kau capek, Jo. Michelle baru on the way, napas buatannya nanti saja. Kau mandi sana, pakai baju si dombret.”
Paijo mengusir ibu mertuanya dengan kibasan tangan. Marisa menguncupkan bibir, kepikiran bulu sapi cilik yang basah kuyup itu harus di apakan sementara Paijo nampaknya lelah bukan main.
“Tante ambil blower Stacy dulu deh sama baju ganti kamu.”
“Wes... wes... gak usah Tante, aku bawa baju ganti di truk!” sahut Paijo.
“Oke deh, biar Ted...Ted yang ambil baju gantimu. Eh tapi siapa bapak-bapak yang pakai peci tadi, bapak penghulu? Kamu langsung nagih janji?”
“Itu bapakku yoo... Pak Kusumo!” sentak Paijo setengah mangkel. Bapak penghulu darimana, wong galak banget gitu jadi penghulu.
Marisa menganggukkan kepala. “Oke deh, Tante siap-siap dulu sama beres-beres rumah. Urusan sapi kita istirahatkan sebentar sampai jam makan siang.”
“Terserah Tante saja.”
Marisa meninggalkan Paijo yang mengusap wajahnya dengan kasar seketika.
“Menghadapi penitis trah kenthir tanpa pawangnya bikin kepalaku migran. Nyuruh kok nyuruh nganduki pedet, spek bidadari Harley Quinn aja sering aku tolak. Ini malah ono-ono wae, Gusti...”
Paijo menoleh, Kusumonegoro meringis dari jauh setelah melemparinya batu hias ke arahnya.
“Kapok, sukur... Rasakno...”
Paijo memalingkan badannya, memunggungi bapaknya yang mengejeknya dengan begitu puas.
“Kacau... Jon... Kacau...”
...----------------...
__ADS_1