
Hariku kini tak lagi di isi penantian.
Ada kamu di depan mataku.
~Puspita
...***...
Di antara reruntuhan penyesalan yang membatu, Puspita menjadikan Paijo tak mampu berkata-kata barang selarik kalimat manis membalas rindu. Salam hormat ala militer yang biasanya dia tanggapi dengan senyuman jenaka dan gemas tiada tara akan hadirnya wanita yang di rindukan tak seindah kemarin.
Paijo mengangkat tangannya, membalas hormat dengan raut wajah tak bersemangat.
“Laporan di terima. Laporan selesai.”
Puspita tertawa, kegembiraan sedang melambung tinggi, kelegaan bisa kembali ke rumah tak terperi dan jernihnya cinta yang mengalir tenang menjadikannya tidak berpikir buruk akan sikap Paijo yang dingin.
”Besok malam datang ke rumah, makan-makan.” ucap Puspita setelah mendekap Paijo dengan spontan.
Serangkaian percakapan yang mendebarkan jantung kemudian membekukan aliran darah Paijo tanggapi dengan senyuman janggal dan balasan pelukan kaku. Kekhawatiran menaungi rasanya, kurang ajar memang, Michelle telah mengambil separuh hatinya hingga menjadikannya bimbang harus bersikap bagaimana.
“Kamu bawa lemper yang aku mau, Jo?” tanya Puspita, lapar menggerayangi lambungnya.
Kresek putih yang Paijo genggam erat-erat terangkat, oleh-oleh dari resepsi berupa lemper ayam, kue bolu kukus, puding coklat, tape ketan, salak, emping melinjo dan jeruk Paijo berikan.
“Aku bawa pulang, ya. Makasih Paijo.” ucap Puspita sambil berlalu, senyumnya merekah, matanya berbinar setelah menggondol semua oleh-oleh resepsi ke dalam mobil.
Kok semua, terus Michelle piye.
Tangan Paijo terangkat, ingin menggapai kresek itu dan mengambil barang satu dua makanan untuk Michelle. Tetapi hanya wanginya yang tertinggal di bawah pohon mangga hingga membuat langkah Paijo terasa berat ke dalam rumah.
Michelle mengerucutkan bibirnya di ruang tamu setelah mengintip situasi yang terjadi di luar rumah. Pertemuan sederhana bagi Puspita itu rupanya memercik gerimis di hatinya.
“Aku mau pulang ke rumah.” katanya kecut sambil menahan langkah Paijo ke kamar.
__ADS_1
Paijo menatapnya sambil menghela napas. Ingin dia mendekapnya tanpa syarat, tapi...tapi...
“Sebentar, kakiku pegel. Aku haus.”
Michelle melengos ke dapur, ia mengambil gelas belimbing di rak piring seraya menuangkan air putih dari ceret aluminium.
Paijo kayaknya belum puas ketemu, Puspita. Kelihatan banget dia masih pingin menggapainya waktu mobilnya pergi.
Menghela napas, Michelle pergi ke kamar. Dia melihat Paijo sedang melepas keris dan blangkonya.
“Minum dulu, tenggorokanmu pasti kering tadi. Jadi susah ngomong gitu rasanya sama Puspita.”
“Simpan cemburumu itu, nggak usah bikin aku tambah mumet.” Paijo mengingatkan seraya menghabiskan air putihnya. Sementara Michelle yang mendandani penampilan Paijo untuk acara resepsi melepas kancing beskap hitam dan mengurai kain stagen.
“Aku nggak bikin tambah mumet kok, cuma kamu kelihatan gugup tadi. Ah... kamu bisa ketahuan berubah kalau kayak gitu. Nanti ketahuan kita.”
Michelle menggulung kain stagen seraya melepas kain jarik yang Paijo kenakan sembari membungkuk.
“Terus tadi apa yang kamu kasih ke Puspita?”
“Kok aku nggak di kasih.” Michelle melipat kain jarik dan menumpuknya bersama pakaian resepsi Paijo yang lain di meja. “Ada Puspita terus lupa sama aku yang harusnya dapat itu semua.”
“Bukannya aku lupa, aku sudah bawa banyak.” Semua makanan yang Paijo bawa ia sebutkan, ”Puspita cuma pesan lemper ayam tadi, eh di bawa semua. Maaf, kamu juga nggak doyan. Itu cuma makanan desa.”
Michelle terdiam sambil berkacak pinggang dengan sebelah tangan. Ia menerima ketika Paijo seharian hanya bisa mendengar suaranya lewat sound sistem, namun ia tidak terima karena tak ada satu pun oleh-oleh yang seharusnya seorang istri yang menerimanya barang sepotong kue bolu yang bisa ia makan dan Paijo sisihkan di kantong beskapnya.
“Aku mau salah satunya, Jo. Kue bolu.”
Paijo tercengang, sekujur tubuhnya terasa dialiri listrik dalam jumlah tinggi. Matanya hampir mencelat dari tempatnya saking kaget akan permintaan Michelle.
“Ya aku malu kalau harus balik ke rumah Bu Darminah, Sel. Cuma ambil bolu sepotong meneh.” Paijo menggeleng kuat-kuat. “Besok aja aku beliin di pasar.”
“No way...” sergah Michelle sambil menyilangkan kedua tangan. “Aku mau bolu yang sama seperti yang kamu kasih ke Puspita. Bolu resepsi.”
__ADS_1
Gusti... Paijo mengacak-acak rambutnya meski hanya terdiam, kali ini ia sungguh tidak menemukan kata lagi. Otaknya terlalu ruwet, pikiran muter-muter. Sekujur tubuhnya sudah lelah karena seharian berdiri sambil memegang mix, mulutnya kering karena seharian ia sudah memandu acara dengan bahasa Jawa alus yang memerlukan ketepatan kalimat, tapi perutnya kenyang bukan main. Segala macam makanan di resepsi sudah ia santap dan niatnya pulang tinggal istirahat.
Berbeda dengan Michelle, Kusumonegoro yang tidak memiliki cadangan makanan hanya membuatnya sanggup menyantap mie instan dan telur rebus. Tak berani keluar, apalagi jajan, keberadaannya di rahasiakan.
“Mendadak aku jadi istri yang tersakiti. Luwe meneh.” Michelle merebahkan diri di kasur, meringkuk memunggungi Paijo.
“Yungalah... Iyo... Iyo... Aku ambilkan kue bolu di rumah Bu Darminah. Tunggu, nggak usah ngambek apalagi nangis!” kata Paijo sedikit ngegas. Ia mengambil kaus di lemari seraya memakainya dan keluar rumah.
“Mau ke mana?” tanya Kusumonegoro dengan bahasa Jawa saat bertemu Paijo yang terburu-buru dan nyaris tak mengenalinya sepuluh meter dari tenda resepsi yang masih nampak aktivitas muda-mudi bercengkrama di kursi plastik.
“Mau minta kue bolu.”
“Lah sing mau?”
”Dibawa Puspita semua.”
“Nyoh, bawa pulang.” Kusumonegoro menyerahkan snack box miliknya yang masih utuh, tak perlu dijelaskan, Kusumonegoro mengerti situasi yang terjadi. “Besok lagi di pikir panjang sebelum bikin masalah.”
“Cukup, Pak. Cukup. Besok lagi ceramahnya, yo... Aku kenyang banget hari ini, capek.” ucap Paijo sambil melengos pergi.
Kusumonegoro menggelengkan kepala sambil menikmati semilir angin malam yang berhembus. “Anak polah, bapak kepradah. Ciloko tenan.”
Tiba di rumah, Paijo membuka sekilas snack box sebelum masuk ke kamar.
“Bangun, di makan dulu ini kue bolunya.” kata Paijo sambil menyentuh lengan Michelle.
Wanita yang memakai daster rumahan itu menoleh seraya tersenyum lebar.
“Makasih buat effort-nya, peluk dulu sini.”
Paijo menjentikkan jarinya di kening Michelle diiringi tarikan napas panjang. “Apa yang terjadi dengan Puspita itu sebuah kewajaran, Sel. Jangan minta aku juga harus memperlakukan hal yang sama denganmu.”
Michelle mengangguk daripada menjadi masalah baru ya kan. Dia beranjak lalu menyantap snack box yang Paijo taruh di meja sementara pria itu memilih merokok di luar rumah. Tak kurang dari sepuluh menit, semua isi snack box itu tandas tak bersisa.
__ADS_1
“Lumayan bisa tidur nyenyak daripada kelaparan, masih banyak yang perlu aku urus. Kalau lapar mana bisa mikir.”
...----------------...