
Berada dalam satu mobil bersama Kusumonegoro yang diam seribu bahasa dan tatapan lurus ke depan. Michelle dihadapkan pada argumentasi rusuh dalam batinnya.
Ngomong-ngomong aku harus ajak ngobrol dulu apa nggak. Harus jelasin duduk perkaranya semalam atau tidak? Hmm... nggak perlu kayaknya, sudah jelas aku bukan anak manis, Icel anak nakal yang sudah mencuri ciuman pertama Paijo.
Michelle meringis dalam hati seraya melirik Kusumonegoro dengan ekor mata sambil sekali dua kali melihat ponselnya untuk mengecek google maps.
Wajah Kusumonegoro terlihat lesu dan fokusnya tak hilang dari jalanan meski Michelle berkali-kali ingin mengajaknya bertatapan.
Susah juga ini ya, beda sekali rasanya ngobrol sama orang tua yang baru marah.
Michelle mengerucut bibir yang membuatnya terlihat menggemaskan. Lengkap sudah nasibnya pagi ini. Sudah di suruh minggat sebentar, sekarang di sidang bapaknya sekalian. Keluarganya yang tahu masalah besar yang ingin dia lakukan pasti akan menjadikan candaan seumur hidup.
Michelle menelan ludah. Mendadak ia mengingat Paijo menyuruhnya jalan-jalan terlebih dulu. Ternyata, segera dia paham maksudnya. Kusumonegoro tidak tinggal diam dan ungkang-ungkang di rumah. Melainkan mendatangi Paijo ke kelurahan.
“Bapak...” ucap Michelle ragu sambil menarik rem tangan, menunggu lampu merah menyala.
Kusumonegoro menoleh pelan, menatap Michelle yang tersenyum rikuh. “Apa?” tanyanya dengan bahasa Jawa.
“Nyuwun sepurane nggih, icel salah sudah ganggu mas Paijo.”
Kusumonegoro melebarkan mata cekungnya dengan ekspresi tercengang. Itu bule agak lain memang, selain doyan sama anaknya, logat bahasa Jawanya terdengar halus.
“Bisa bahasa Jawa kamu?”
“Bisa, Pak. Kebetulan akung icel dosen bahasa Jawa.”
Kusumonegoro menarik napas, lantas dengan wajah teramat serius ia mengangguk-anggukkan kepala.
“Bapak tidak akan marah, asal awakmu jujur.”
Michelle jadi lumayan tenang. Lumayan lho ya, karena setelah itu Kusumonegoro kembali menatap ke depan. Melihat kendaraan yang perlahan bergerak melenggangkan perempatan ring road Madukismo dari arah selatan.
Michelle mengangguk pasrah tanpa sanggup menolak, tak berkutik ia dihadapkan satu pilihan. Plesiran di Keraton Yogyakarta sembari menunggu Kusumonegoro mengabdi.
...***...
“Bapak selesai jam berapa?” tanya Michelle sambil membuntuti langkah Kusumonegoro di dalam benteng kerajaan.
“Kamu cari kegiatan sendiri, tidak usah ikut bapak. Nanti ganggu dan di ganggu!”
Michelle bergeming, mengamati Kusumonegoro berjalan ke arah rekan sejawatnya yang duduk bersila di lantai.
“Cari kegiatan sendiri apa aku sibuk cari pangeran aja nih?”
Michelle mendongak, langit cerah. Matahari bersinar terik membuatnya memilih berjemur di kursi tanpa peneduh, ia mengambil ponsel seraya melihat sekeliling, berusaha untuk menghubungi Dominic.
__ADS_1
“Sok iye banget mas Domi setelah nikah... sibuknya mengalahkan calon bapak mertuaku.” Cemberut ia mengganti nama orang yang hendak di telepon.
...Di kota Malang....
Rastanty yang baru memberi makan Stacy terpogoh-pogoh masuk ke kamar setelah mendengar ponselnya berdering berulang kali di meja lampu.
“Icel... kenapa telepon-telepon terus, belum ketemu Paijo kamu?” serunya terheran-heran.
“Mbak Rasta... Syukur Alhamdulillah... Di angkat teleponku.” Michelle berjingkrak kegirangan, euforia itu memancing beberapa pasang mata yang melihatnya dengan aneh.
Rastanty mengernyit, mendengar untuk pertama kalinya bule seperempat lokal itu mengucapkan kalimat syukur ia menduga ada yang tidak beres.
Nggak biasanya ini adik ipar kayak gini.
“Kesambet apa kamu, Cel?” tanya Rastanty.
“Paijo... Eh..., Pangeran.”
Rastanty menepuk keningnya, sadar kelakuan Michelle yang langka itu seperti melepas tekanan batin yang sudah tertahankan.
Rastanty keluar kamar sambil bertanya,
“Sudah ketemu Paijo kamu? Gimana, tambah cakep nggak dia?”
Michelle duduk sambil tersenyum malu.
“Mas Domi mana, Mbak? Icel mau ngomong sama mas.” ucap Michelle setengah merengek.
“Mas Domi sama Budiman lagi berjemur. Bentar!” Rastanty mempercepat langkahnya keluar rumah.
Berada di bawah matahari pagi yang hangat, beralasan karpet piknik Dominic menerima ponsel yang Rastanty ulurkan.
“Michelle pingin ngomong sama kamu, Dom. Katanya daritadi telepon kamu tapi nggak angkat-angkat.” Rastanty berlutut, mengambil Budiman yang berkeringat di kasur bayi lipat.
“Penting kayaknya, udah ketemu Paijo juga dia.” jelas Rastanty seraya berdiri.
“Cepat banget, Ras. Apa jangan-jangan Michelle langsung njujug ke rumahnya? Wah, nekat juga dia, aku kira cuma bercanda-canda kemarin.”
Michelle berdecak sewaktu di tinggal ngobrol beberapa saat oleh pasangan muda sebelum Dominic kembali merebahkan diri di karpet. Menjemur dadanya yang bidang.
“Ada apa nyari mas?” Dominic berdehem.
“Senang kamu ketemu Paijo?”
”Seneng banget mas, wuh... bikin keringatan, jantungan... tapi ini belum pasti happy ending, masalahnya gawat.” Michelle terkekeh geli yang terdengar aneh di telinga Dominic, “Mas Domi ke Jogja dong. Tolong aku, plis. I need you so much.”
__ADS_1
”Kamu di rampok? Apa di tilang polisi?” tanya Dominic santai. “Minta tolong Paijo ajalah, ntar aku japri dia.”
“Aku ngerampok bibir Paijo terus ketahuan Pak Kusumo mas...” jelas Michelle yang meluncur bagai truk kehilangan kendali, los memasuki telinganya lalu masuk ke otaknya.
Dominic menjatuhkan wajahnya di karpet. Ekspresinya terlihat susah di mengerti, antar geli dan tercengang terlihat beda tipis. Namun semakin lama di tahan, pipinya semakin merona.
Si Jhonny. Nasibmu gimana sekarang?
“Mas... Masku...” panggil Michelle setengah merayu. “Ke sini dong, di gerebek aku semalam.”
Dominic menyemburkan tawanya yang ia tahan-tahan sekuat tenaga. Terpingkal-pingkal sampai perutnya mengeras, matanya berair.
“Terus? Kenapa nggak minta bapak aja yang ke sana? Masmu baru bahagia punya anak dan istri cantik.”
Michelle menjulurkan lidahnya. Sombong banget. Lalu menatap sekeliling. Kusumonegoro melihatnya dari jauh.
Michelle tersenyum sopan dan mengangguk pelan. ”Dua hari aja mas, tolonglah adikmu ini, ya. Jantungku masih deg-degan sekarang.”
Dominic terdiam, menatap lamat-lamat rumput hias di depannya.
Pusing banget itu pasti Paijo ngurus kelakuan Michelle, apalagi Pak Kusumo, tidak bisa tidur beliau. Kasian juga.
“Terus sekarang kamu di mana? Paijo jam segini pasti di kelurahan?”
Michelle meringis, Dominic yang mendengar adiknya sedang berada di Keraton Yogyakarta menunggu Kusumonegoro mengabdi terbahak-bahak sampai memicu rasa penasaran Rastanty dan Miranda yang mengejar-ngejar kupu-kupu di taman.
“Kenapa, Dom?” tanya Rastanty penasaran.
“Nekat banget Michelle, Ras.” Dominic menggeleng. “Ciuman sama Paijo dia.” imbuhnya saat menutup speaker hp.
Rastanty yang mendengarnya langsung ternganga. “Pantesan heboh banget dia. Dah itu lanjutin ngobrolnya.”
Dominic berdiri seraya melangkah ke dalam rumah.
”Paijo tertatu-tatu mas, aku butuh kamu. Plis. Tulunglah, tapi jangan ngomong papa dan mama dulu. Serius ini urusannya. Aku takut papa pecat aku jadi anak kesayangannya apalagi mama.” Michelle mengusap dahinya, keringatan.
Dominic menyusul Prambudi yang sedang berolahraga di atas treadmill, di depan kolam renang.
Dominic menaruh jari telunjuknya di depan mulut, meminta bapaknya jangan bicara meski mulutnya sudah terbuka lebar hendak mengatakan sesuatu.
Dominic mengeraskan suara hp. “Jadi maksudmu aku ke Jogja untuk musyawarah dengan Pak Kusumonegoro gara-gara kamu dan Paijo kena gerebek baru ciuman?” tanyanya menjelaskan sekaligus memastikan.
“Betul banget mas, datang hari ini, aku tunggu di rumah Paijo.”
Persis ketika Dominic mengiyakan, Michelle bersorak girang tanpa mengetahui apa yang akan terjadi nanti.
__ADS_1
Dominic meringis sementara Prambudi yang ternganga langsung sesak napas.