
“Dua Minggu lagi?” Kusumonegoro tersentak kaget. Dan respon darinya Marisa tanggapi dengan senyuman lebar.
“Pernikahan akan di adakan di rumah ini saja, tidak di hotel. Kita buat sederhana tapi elegan dan glamor. Tidak perlu ramai yang penting gayeng, bukan begitu?”
Elegan, glamor, gayeng? Kusumonegoro mengerutkan keningnya. Konsep apa itu?
Kusumonegoro menghela napas, andai masih ada istrinya ia tak akan mangkel dan sendirian memikirkan pernikahan Paijo sekarang.
Marisa yang melihat wajah Kusumonegoro nampak berpikir keras bersiul.
“Pak Kus santai saja, serahkan semua ini sama saya. Yang penting urusan seserahan jangan lupa. Saya mau gudeg fresh, bakpia Pathuk, belalang goreng gunung kidul, jadah tempe Kaliurang, jenang krasikan sama oleh-oleh khas Yogyakarta. Jumlahnya jangan sedikit, minimal dua loyang besar.”
Paijo dan Kusumonegoro menelan mentah-mentah segala ucapan Marisa.
Belalang goreng dua loyang besar? Buat apa?
Anak dan bapak itu saling melempar pandang. Alih-alih langsung merespon permintaan Marisa Paijo nyengir.
“Kalau boleh tau belalang goreng buat apa, Ma?” kata Paijo kikuk.
“Buat di makan, katanya itu salah satu oleh-oleh khas Yogyakarta paling ekstrim. Mirip-mirip jajanan street food di Thailand, bedanya di sana ada kodok, kecoak... iuhh, kelelawar... Di Jogja ada belalang goreng dan saya bisa membanggakan kuliner ekstrem itu.”
“Iyain aja, Jon.” bisik Michelle. “Buruan...”
__ADS_1
Prambudi yang bersandar di sofa ikut mengangguk samar.
“Oke, Ma.” Paijo mengangguk meski dalam hati ia langsung memikirkan apakah belalang goreng khas kabupaten gunung kidul- Yogyakarta itu sedang panen raya atau tidak.
Dua loyang besar Jon... Nganggur kok rasanya malah banyak kerjaan.
Marisa mencentang daftar persiapan pernikahan putrinya di tablet.
“Kita lanjut ke kostum, akad nikah pakai kebaya putih dan menggunakan full pernikahan adat Jawa. Untuk resepsi kita pakai gaun internasional, sementara party after wedding kita pergi ke Bali.”
Semuanya mengangguk pasrah tak terkecuali Kusumonegoro.
“Pak Kus ada tambahan? Atau masukan?” tanya Marisa.
“Tidak.” Kusumonegoro tegas menggeleng.
“Ngunduh mantu mau di adakan kapan, Pak Kus?”
“Satu bulan setelah party after wedding!”
Marisa bertepuk tangan. “Very good...”
Semua lawan bicaranya langsung mengulum senyum dan pura-pura melihat sekeliling.
__ADS_1
“Urusan sama mama akhirnya kelar, sekarang mama mau telepon saudara di Michigan and Singapore di temani ayang baru. Ayang sapi.” Marisa menjawil dagu Prambudi seraya pergi dari ruang keluarga.
Prambudi mendesah lega dengan bahu yang semakin merosot.
“Kalian mending pergi cari angin, ajak pak Kusumo jalan-jalan daripada di rumah. Papa urus semua, kalian nggak usah ikut pusing.”
“Sekalian antar bapak ke stasiun saja, bapak mau pulang!” sahut Kusumonegoro. “Bapak perlu siap-siap.”
Bener juga.
Paijo menatap Michelle, meninggalkannya sekarang terasa teramat berat tetapi dia perlu pulang.
“Aku nemenin bapak pulang ya, nggak usah fitting baju pengantin apalagi nemenin kamu fashion show.”
Michelle mengangguk dengan bibir yang menguncup. “Tapi ke kamar sebentar ya...”
Prambudi dan Kusumonegoro memutar mata jengah. Terlebih ketika Paijo mengatupkan kedua tangannya, meminta pamit ke atas, Prambudi justru berdehem-dehem.
“Brajamusti ketemu Aremania gayeng mboten nggih, Pak?” tanya Prambudi yang mengibaratkan mereka seperti fans klub persepakbolaan dari Jogja, PSIM dan Arema Indonesia.
Kusumonegoro mengelus janggutnya sambil menyaksikan anak-anaknya menunggu izin dari mereka berdua.
“Gayeng, Pak. Ramai pasti.”
__ADS_1
Wajah Paijo merona, kendati begitu Kusumonegoro mengibaskan tangannya. Membiarkan sejoli itu mengadu nasib di kamar berdua saja sampai sore menjelang dan malam datang! Membatalkan acara jalan-jalan bersama Kusumonegoro yang memilih ikut Prambudi mengecek lokasi perusahaan Dominic dan kadang sapi.
...----------------...