
Puspita menegakkan punggungnya dengan sikap sempurna ketika pesta perayaan pernikahan yang di adakan keluarga Kusumonegoro nyaris berakhir.
Di tengah lokasi Jathilan yang dibatasi dengan bambu dan berada di bawah tenda Oren, gamelan masih mengalun merdu mengiringi keluarga sang mempelai yang sedang berputar di pinggir pembatas sambil tersenyum bahagia.
Marisa melambaikan tangan bahkan sekali dua kali dia menerbangkan ciuman ke penonton yang bersorak-sorai sementara di belakangnya, putrinya yang menjadi Ratu di kehidupan baru Paijo sedang di tandu oleh Paijo sendiri dan tiga pemain Jathilan yang mendapat peran penting dalam akhir pertujukan.
Puspita menelan ludahnya saat Paijo sekilas menatapnya sambil tersenyum. Senyuman apa artinya? Kebahagiaan? Putus darinya atau apa?
Tak terima, Puspita balas tersenyum kepadanya. Urusan Jathilan sudah selesai bukan, dia akan meninggalkan kesan bahwa ia juga baik-baik saja. Terlebih ketika ia tahu bahwa ada niat dari Paijo, bukan hanya Michelle saja.
“Jiwaku yang sakit sedikit tertawa. Jo, Paijo... Dulu aku mudah jatuh cinta sama kamu, sekarang... melepasmu bahkan semudah aku mencintaimu.”
Di belakang komandan Wisnu yang sedang memperingati penonton agar tidak berdesakan karena penasaran ingin melihat siapakah gerangan yang membuat acara Jathilan meriah dengan memberikan air minum dan mochi gratis serta doorprize beberapa alat elektronik memanggil namanya.
“Kerja, Pita. Jangan cuma melamunkan nasib mantan!”
Puspita meniup peluit panjang lalu mengangkat kedua tangannya.
“Bapak-bapak, ibu-ibu, itu mantan tunangan saya.” serunya hingga beberapa atensi langsung tertuju padanya.
Puspita mengulum senyum ketika komandan Wisnu mendelikkan mata.
“Capek, komandan. Apa mereka masih lanjut tebar pesona?”
“Mereka bintangnya, jadi terserah saja toh? Kamu mulai tidak nyaman?” kata komandan Wisnu yang berkeringat.
__ADS_1
“Bukan.” Puspita menggeleng. “Pembubaran acara dan panitia nanti kita ikut di undang. Aku males.”
Komandan Wisnu nyengir seraya mengendikkan bahu. “Lagian lucu mereka, hidup Paijo sudah kena batunya, Pita. Dia akan mati-matian berusaha sekarang untuk setara dengan keluarga istrinya. Itu karma yang butuh kesabaran dan perjuangan. Jadi tenang aja. Nggak usah mikir dalam-dalam.”
Menarik dari yang Puspita lihat memang betul, Paijo akan selamanya terbayang-bayang status sosial dan siapa dirinya meski tidak ada kecaman apapun dari keluarga Michelle. Paijo memang akan slalu menjadi pria sederhana kecuali dapat menemukan harta karun.
“Kita selesaikan acara ini, Komandan. Biar jadi kenangan.”
Selang tiga puluh menit memantau kondisi acara Jathilan sambil membeli panganan yang dijajakan di gerobak-gerobak atas motor. Puspita dan geng polisinya berkumpul sambil berbagi laporan yang terjadi dari tempat-tempat yang mereka jaga.
”Woi pegawai negara, di suruh absen di rumah pak Kus. Bayaran!” seru preman kampus yang berambut gondrong dan di cat pirang.
“Bayaran?” Komandan Wisnu menatap anak buahnya dengan ekspresi tercengang. “Aneh-aneh saja, tapi mau bagaimana lagi. Rezeki nomplok siapa yang tidak mau. Gaspol, Ranger Gudeg. Kita serbu.” ucapnya penuh semangat.
Tim itu melakukan gerak jalan sehat ke arah rumah pak Kusumonegoro sampai menjadi pusat perhatian sebelum memberi hormat kepada sang pemilik rumah yang sudah bersantai-santai di teras sambil menghadap kipas angin.
Komandan Wisnu memberi hormat seraya mengangguk. “Semua lengkap, laporan selesai.”
“Good.” Marisa membuka tas totebag yang di ulurkan Rastanty. “Saya panggil satu persatu lalu makan siang dulu sebelum bubur. Kalian mengerti?”
“SIAP!” seru preman kampung dan komandan Wisnu bersamaan..
Mereka menunggu nama di sebutkan dengan sabar meski sambil mengobrol. Dan saat giliran Puspita, Marisa menatap wanita itu dengan perasaan penuh arti.
“Kau mantan tunangan Paijo?”
__ADS_1
“Ya.” Puspita mengangguk tanpa sungkan.
Marisa mengulurkan amplop yang berbeda dari sebelumnya.
“Trip to Bali and Lombok, voucher spa and make up untuk merilekskan pikiran dan hati.”
Puspita menatap bayaran itu dengan penuh pertimbangan sebelum mengambilnya.
“Saya terima, tapi tidak segampang ini memaafkan mereka.” ucap Puspita tepat di mata Marisa yang menatapnya.
Marisa membelai rambutnya dengan sikap keibu-ibuan.
“Betul, tapi demi kebaikanmu sendiri, kamu coba memaafkan mereka. Kasian kamu, cantik, independen, tapi galau. Oh no... darling, hidup tidak perlu di sia-siakan untuk memikirkan Paijo lagi. Kamu mau berjanji?” ucap Marisa penuh harap jika kesalahan putrinya menggoda tunangannya tidak semakin lama menimbulkan rasa tidak nyaman dan pikiran-pikiran yang jahat yang akan mempengaruhi keluarga kecil putrinya nanti.
Puspita menatap amplop di tangannya, lalu Dominic, Pak Kus, Paijo-Michelle yang baru keluar rumah, dan terakhir komandan Wisnu.
Terbersit keinginan orang tuanya.
Semoga bukan sekedar obsesi komandan Wisnu menyukaiku.
Puspita tersenyum seraya mengangguk. “Saya coba.”
“Yeyy... Party kita, Jon. Party.”
“Michelle!” seru Kusumonegoro sembari menunjuk mulutnya sendiri. “Bukannya terima kasih malah party... Bapak kurung kalian di kamar!”
__ADS_1
Michelle menyembunyikan wajahnya di dada Paijo, sementara pria itu melihat Puspita lalu menganggukkan kepala. Sebuah isyarat agar dia melupakannya.
...----------------...