
Puspita melepas jaketnya sebelum melinting celana panjangnya yang masih terasa basah di kursi tamu pengunjung polres.
“Ndan, komandan.” serunya.
Wisnu yang menunggu dengan sabar kedatangan kabar buruk berakhirnya hubungan Puspita dan Paijo menghampirinya dari ruang kabid humas masih dengan pakaian dinas hariannya.
Komandan Wisnu tersenyum jenaka. “Cie... Pulang kencan di pantai. Seru, Pit?”
“Di rumah sakit mana komandan Wisnu ketemu Paijo dan cewek pirang?” tanya Puspita tanpa basa-basi setelah melepas sepatu dan kaus kakinya yang masih membawa butiran pasir pantai.
“Paijo membatalkan pertunangan kami tanpa alasan yang jelas. Gara-gara cewek pirang itu rupanya. Dia juga sudah jarang pulang ke rumah. Dia bersama wanita itu!”
Komandan Wisnu mendadak tak mampu berkata-kata, ekspresinya tercengang. Puspita sudah tahu. Rupanya informasi mulai mengalir pelan dan menikam.
Separah itu Paijo mengkhianati, Puspita. Wah, kasus baru. Pasal 412 semakin kuat, hanya bukti akurat yang belum ku dapat!
Mengepalkan tangan. Komandan Wisnu salut dengan situasi yang terjadi. Ia berharap Paijo lengser dari jabatannya sebagai tunangan Puspita. Ndilalah bule seksi yang dirangkum Paijo dengan perhatian lebih kemarin membantunya melengserkan posisi itu hanya dengan sentuhan doa setiap hari. Puji syukur.
__ADS_1
Puspita gagal tunangan. Paijo bukan jodohnya. Paijo jodoh orang lain. Dan, Puspita adalah jodohku. Dekatkanlah dan mudahkanlah rencanaku, Ya Allah.
Komandan mengulurkan persediaan air mineral gelas ke Puspita beserta sedotannya.
”Dapat informasi dari mana kamu? Jangan buat kesimpulan sendiri!” katanya mengingatkan sekaligus menyelidik.
“Lik Mul, Lik-nya tadi pagi.”
Wow.
Mata komandan Wisnu melebarkan. Tak terduga. Valid, no hoax.
“Aku lihat sekilas. Di rumah sakit panti rapih.”
“Jauh juga periksanya.” Puspita mencebikkan bibir, lalu bersedekap. “Apa kasus perselingkuhannya bisa saya usut, Ndan? Dengan metode laporan dari pihak korban?”
Lagi-lagi komandan Wisnu melebarkan mata, tenggorokannya kering. Puspita cari penyakit? Luka hati yang susah sembuh nanti? Ngeri... Komandan Wisnu bertepuk tangan dalam hati. Bukan kaleng-kaleng memang wanita idamannya.
__ADS_1
“Bisa-bisa saja. Kamu sudah tahu prosedurnya. Tapi apa hatimu kuat menerima dan menyaksikannya sendiri perselingkuhan Paijo dengan cewek pirang itu, Pita?” tanyanya hati-hati, takut Puspita hanya mengambil keputusan impulsif dan berujung menderita sendiri meski punggungnya dalam hati siap sedia menjadi tempat bersandar dan berkeluh kesah. Serius, komandan Wisnu mau banget.
Puspita termenung. Pikirannya berkelana mencari jawab yang terlihat samar dan melemahkan tungkainya.
Keterangan saksi, keterangan ahli, surat, petunjuk, bukti dan keterangan terdakwa.
Apa aku sanggup menyelesaikan misi pribadi ini? Memenjarakan Paijo rasanya perlu. Aku bergelut dengan tanggung jawab sampai sebagian kulitmu korengan, dia malah enak-enakan dengan cewek pirang? Terus gimana dengan bapak ibu kalau pertunangan ini batal?
Puspita mengeram dan mengacak-acak rambutnya dengan frustasi.
“Pusing aku, Ndan. Pusing. Salahku apa coba sampai Paijo main hati.” Puspita menundukkan kepala.
Komandan Wisnu tersenyum. Salah satu doaku memang kejam, tapi aku juga tidak menyangka kalau terkabulkan. Maaf, Pita.
Komandan Wisnu menatap sekeliling. Kantor buka 24 jam dan Puspita pasti akan menunda waktu pulangnya. Situasi patah semangat itu dia gunakan untuk memberi perhatian. Setidaknya ajakan berkedok modus makan itu slalu lumrah dia tawarkan.
“Makan malam dulu, istirahat. Besok di pikirkan lagi sambil ngatur strategi. Aku bantu. Ayo aku temenin makan di luar, atau pesan online-online?”
__ADS_1
Puspita Dewi mau tak mau harus mengakui itu. Dia lapar, kencan mereka gagal sebelum makan malam. Minum pun tidak sempat. Rasanya sekarang tubuhnya hampir meriang!
...----------------...