Saat Bertemu Kamu (Romantic Scandal)

Saat Bertemu Kamu (Romantic Scandal)
Mletre


__ADS_3

“20 ekor sapi itu mertuamu mau korban idul Adha satu RT?” sentak Kusumonegoro setelah mendengar penuturan Paijo mengenai mahar untuk istrinya keesokan harinya setelah tiba di rumah.


“20 ekor sapi sama dengan 400 jutaan, Jon... 400 juta iso punjul iso nego. Duit seko ngendi? Mikir.”


“Pak... Tulung, kesempatan terakhir ini.”


“Kesempatan pertama!” sergah Kusumonegoro. “Kesempatan terakhir itu terjadi saat kamu gagal melakukan kesempatan pertama!”


Kusumonegoro menggeram lalu melepas blangkonya. Dilihatnya sang putra yang menundukkan kepala. Belum mandi, belum bersiap ke kantor. Pakaiannya masih pakaian semalaman yang di gunakannya saat berpisah dengan Michelle.


“Pensiunan bapak dan ibumu tidak ada segitu, paling-paling cuma cukup buat beli dua pasang sapi!”


“Jual satu sawah, Pak.”


Kusumonegoro membanting blangkonya ke meja hingga membuat Paijo tersentak.


“Ibumu memang meninggalkan warisan untukmu dan adikmu, sawah pun besok bakal bapak bagi. Tapi apa yakin mahar sebesar itu akan menjamin rumah tanggamu dan cintamu pada bule kenthir itu?”


“Bapak sama mantu paling cantik ngomong seperti itu!”


“Kamu sendiri yang ngomong bojomu kenthir!” sahut Kusumonegoro mangkel sambil menggebrak meja.


“Dengar bapak, Jon. Harga diri seorang laki-laki itu tidak di ukur dengan jumlah mahar yang di berikan. Tapi tanggung jawabmu pas ngomah, mamah, jamah lan jamaah.”


“Paijo ngerti, Pak.”


“Terus?”

__ADS_1


Paijo membasahi bibirnya. Sebagai anak laki-laki paling tua dan sudah mengerti semua harta benda orangtuanya Paijo hanya menginginkan dua petak sawah doang untuk kebutuhan mahar.


“Ya, Pak. Paijo minta sawah paling luas, dua saja... Itung-itung itu sebagai warisan ku.” ucapnya hati-hati.


“Yungalah, Jon... Jon... Dulu kamu pacaran sama Puspita ndak pernah neko-neko. Giliran sama bule satu itu, nggak pernah bapak merasa tenang.”


“Makanya Paijo ajak bapak musyawarah untuk membuat keadaan ini lebih tenang.” Paijo meringis sewaktu bapaknya menabok bahunya.


“Ini bukan musyawarah, tapi kamu meras bapak!”


Paijo semakin meringis dibuatnya. Kemarahan bapaknya sudah ia duga-duga dan sudah ia pahami pasti akan terjadi, terlebih ketika ia mengatakan akan keluar dari kelurahan.


Kusumonegoro menjewer telinganya sampai badannya condong ke samping.


“Bocah iki melu kenthir, Gusti. Ketularan bojone. Duh biyung... Njaluk di ruwat.”


“Malah ngopo bocah iki... Jon!” pekik Kusumonegoro sambil memukuli pantat anaknya. “Bangun.”


“Aku dulu susah jodoh to, Pak?”


Kening Kusumonegoro berkerut. “Sudah ngerti ndadak takon.”


“Mungkin keterlambatan jodohku karena Michelle belum datang di hidupku, Pak. Aku merasa dimilikinya dengan posesif.”


Kusumonegoro ingin mengerti namun sulit rasanya. Michelle serupa penjajah yang ingin menjarah keseluruhan cinta, raga dan kepunyaan Paijo secara brutal dan terang-terangan. 20 ekor sapi dan satu petak sawah walaupun bisa ia sanggupi, ia tidak akan terima jika hubungan mereka hanya bertahan sementara. Sia-sia pikir pria sepuh itu.


“Aku nanti kerja di perusahaan Dominic, Pak. Jadi ahli keuangan, mirip bendahara kelurahan tapi lebih besar urusannya. Nanti aku ganti dikit-dikit semua uang bapak setelah lulus magang.”

__ADS_1


“Magang?” Kusumonegoro berdecak. “Enak wae, dulu Dominic saja sering minta makan di sini. Ngaku-ngaku duit entek. Sekarang kamu magang di perusahaannya? Kurang ajar.”


Paijo menahan tawa. Di pangkuan bapaknya ia dapat melihat paras senja sang ayah yang terus di makan waktu. Mendadak dada Paijo tersentak perasaan hangat yang menyesakkan. Meninggalkan ayahnya seorang diri demi wanita itu sungguh menyebalkan dan mengharukan.


“Tapi kalau aku di Jawa timur, bapak gimana? Sendiri no...”


“Si putri sama suaminya cuma ngontrak di kampungnya sana. Kamu telepon Putri buat datang hari ini. Ngomong ada urusan penting.”


Paijo mengangguk lalu menyembunyikan wajahnya ke perut bapaknya. Tak ada yang seindah serapah bapaknya sebab akan slalu ada celah di sela-sela gelisah. Di satu sisi harta bagi Kusumonegoro hanyalah titipan. Dia tidak takut kehilangan dua petak sawah wong itu memang sudah menjadi jatah anaknya, dia hanya takut hubungan mereka kandas karena di dasari nafsu dunia semata.


“Janji sama bapak kalau semua mahar bapak turuti kamu tidak bikin malu keluarga ini di keluarga mereka.” ucap Kusumonegoro sembari menepuk-nepuk punggung anaknya.


“Bapak ngerti ini urusan harga diri, bapak tahu ada harga untuk meminang wanita itu dan kalau memang sebanding dengan apa yang kamu dapatkan di masa nanti tidak masalah asalkan serius berumah tangganya.”


Paijo mengangguk, tanpa gengsi ia memeluk bapaknya yang sudah lama berjarak karena usia dan gengsi sesama pria dalam mengutarakan isi hati membuat keduanya tampak acuh tak acuh.


“Matur sembah nuwun, Pak.” kata Paijo setulus hati.


Kusumonegoro menggerutu dalam hati. 20 ekor sapi? Arep go ngopo... Golek ramban wae saiki angel, wong sugih kakean polah. ( Mau buat apa, cari ramban ‘rumput/daun muda untuk pakan ternak sapi/kambing’ saja susah sekarang, orang kaya kebanyakan tingkah )


Kusumonegoro mengepalkan tangan dan memukul kening Paijo dengan lembut.


“Tapi kamu urus sendiri jual-belinya. Bapak tidak mau!”


“Siap...” Paijo tersenyum seraya memeluk bapaknya lagi. “Mamak pasti bangga padaku, Pak. Istriku bule.”


“Halah... Jon... Jon... Mletre.”

__ADS_1


...----------------...


__ADS_2