
Rembulan sudah menampakkan terangnya di permadani langit malam, tetapi Paijo masih merebahkan diri di kamar, menatap kayu usuk dan reng dengan ekspresi mengawang.
Mendatangi rumah Puspita tak ubahnya mimpi buruk baginya. Sekarang. Status sosial kedua belah pihak keluarga sejak lama sudah menjadi masalah klasik hubungan mereka. Meski tidak kentara di perdebatkan, keluarga polisi vs PNS kelurahan kadang-kadang menjadi kolaborasi hangat perbincangan dan kerap kali membuatnya tidak percaya diri. Ditambah lagi skandal yang di lakukan saat ini, Paijo tidak siap mati tertekan malam ini. Rasa percaya dirinya memudar.
“Joh... Joh... kudu piye iki.” Paijo menyugar rambutnya dengan frustasi. Dibenaknya di penuhi kata-kata yang berputar-putar sampai mumet. Kalimat mana yang harus dia sampaikan, bahasa tubuh apa yang harus dia berikan seolah-olah menjadi suami Michelle membebani gerak-geriknya kepada Puspita.
Dilakoni saja dulu, minimal sekarang mukaku kelihatan daripada Puspita ngambek.
Pintu kamarnya di ketuk. Suara Kusumonegoro terdengar dari luar. “Icel datang, Jo.”
Tanpa bergerak dari ranjang, tanpa mengubah ekspresinya yang berantakan, Paijo menjawab. “Suruh aja masuk kamarku, Pak. Sok-sokan jadi tamu segala.” keluhnya sembari melihat jam tangan.
Acara masih jam setengah delapan nanti, masih ada setengah jam lebih untuk pergi ke rumah Puspita tanpa alpa terlambat karena ia tak semangat berkencan. Berkumpul dengan anggota geng polisi seorang diri. Huh...
Pintu kembali diketuk, Michelle mendorong daun pintu perlahan lalu kepalanya melongok ke dalam. Matanya menangkap Paijo berleha-leha seperti di pinggir pantai. Menggunakan celana pendek kain dan kaus polos abu-abu misty.
“Bukannya udah tampil keren dan prima, kamu mirip pisang kematangan, Jo. Lonyot, lemes.” Michelle melebarkan pintu seraya menaruh kantong belanjaan di meja sebelum duduk di tepi ranjang.
Michelle menghela napas, mendadak ia dikuasai rasa bersalah meski sejujurnya nyaris tidak terlalu mengejutkan melihatnya lunglai. Mengerti kenapa pria itu tidak bergairah sama sekali ke rumah Puspita.
“Dia udah nunggu hari ini untuk ketemu kamu, semangat dong. Niat ingsun ketemu Puspita gitu. Yang semangat biar dia nggak curiga kamu berbeda.”
Paijo meliriknya tajam sambil menepis tangannya yang hinggap di lengan. Bisa-bisanya wanita itu menyuruhnya niat ingsun ketemu Puspita seolah-olah ia benar-benar seorang bajingan terlatih menyembunyikan rahasia. Paijo cuma amatiran yang berkedok wajah manis dan sikap santun, tanpa prospek bagus berselingkuh.
Michelle berdiri lalu merapikan ujung gaunnya yang terlipat. Dia mengangkat dagunya, bagaimana pun terlempar ke suatu level paling dramatis di hidupnya tidak benar-benar membuatnya berubah. Michelle tetaplah Michelle, anak konglomerat yang mempunyai harga diri tinggi dan tepisan tangan Paijo walau lembut itu ia tanggapi sebagai penolakan.
“Aku beliin kamu kemeja sama celana jins dan bunga mawar buat Puspita. Anggap aja itu sogokan aku sudah jadi bawang merah di antara kalian.”
“Sel...” panggil Paijo tanpa tanda merayu. “Mau ke mana kamu?”
__ADS_1
Di ambang pintu, Michelle menghentikan langkahnya sebelum menoleh. “Pulang.”
“Makasih.”
“Oke.” Michelle pergi menyalami Kusumonegoro yang baru mengelus ular piton yang di peliharanya di bedeng belakang.
“Ati-ati, nggak usah mikir werno-werno.” Kusumonegoro mengingatkan.
“Sendiko dawuh, Ndoro.” Michelle membungkuk hormat seraya berlalu meninggalkan Kusumonegoro yang bergumam pendek.
“Kelakuan mantu sitok kui ancene gawe seneng tur gawe ciloko mergo saking ayune.”
Sementara Michelle masuk ke mobil, Paijo membuka kantong belanja. Dua pakaian di tangannya tampak serasi di pakai dan sesuai ukurannya. Bahannya lebih bagus dari semua pakaian-pakaian yang biasa ia beli sendiri.
Paijo menyimpannya ke dalam lemari, pakaian itu untuk kencan dengan Michelle. Bukan dengan Puspita, ia lebih memilih menjadi dirinya sendiri karena setir harus di tangannya.
Paijo memilih mengambil kemeja polos berwarna abu-abu dan celana jins biru pudarnya. Dia menatap wajahnya di cermin kotak sambil mencengkram tepi meja kerja.
Paijo menghela napas sembari mengepalkan tangan dan meninju cermin hingga retak.
Kusumonegoro tersenyum hambar. “Rasakno ulahmu, Le. Bapak nggak akan turun tangan.”
Paijo pergi setelah membasuh wajah dan mengeringkannya dengan handuk. Di perjalanan menuju rumah Puspita, Paijo tak menyukai ide membawa setangkup bunga mawar ke rumah Puspita. Tetapi Michelle yang membuntutinya membuatnya tidak ada pilihan lain.
“Ngakunya pulang, ternyata ngetime di samping gapura.”
Paijo menggeber motornya lebih cepat, menyalip satu mobil boks dan dua mobil hingga menghentikan pengejaran Michelle yang ingin mengetahui rumah Puspita. Wanita itu memukul setir mobil dan mendengus jengkel saat rem lebih berkuasa daripada gas.
Di tengah remangnya lampu jalan, melalui kaca spion Paijo melihat Mazda merah jauh tertinggal di belakangnya. Ia menyeringai sembari berbelok masuk ke perumahan Damardani Regency.
__ADS_1
“Pulang saja, tunggu di rumah.” Selarik pesan itu Paijo kirim untuk Michelle setibanya di halaman rumah yang sesak oleh motor dan mobil rekan se-tim Puspita, dan sejawat pak Bakri. Sudah terbayangkan betapa ngerinya sarang polisi-polisi itu sementara dengan romantis dan jengah, Paijo meraih bunga mawarnya seraya mendekat ke arah rumah tingkat dua dengan membawa masalah besar yang tersembunyi.
“Assalamualaikum, kula nuwun.” Paijo melongok ke dalam ruang tamu, obrolan santai sesama anggota aparat itu mengalami jeda dengan pandangan mata yang menoleh semua ke ambang pintu.
Puspita menyunggingkan senyum sambil mencengkram pelan bahu komandan Wisnu yang duduk bersila di dekatnya. Berbeda dengan Puspita yang bahagia mendengar suara yang di tunggu-tunggu, mendadak jeruk manis yang dikunyah komandan Wisnu menjadi kecut.
Puspita menatap bunga yang di bawa Paijo hingga membuat pipinya merona malu seperti remaja sedang jatuh cinta di ambang pintu.
“Tumben.” Matanya berbinar meraih bunga yang begitu wangi dan mekar dari genggaman Paijo.
“Jadi malu aku, ayo masuk mas. Udah di tunggu bapak ibu.” Telapak tangan Paijo yang dingin dan lembab Puspita raih sebelum menariknya melewati beberapa anggota aparat kepolisian yang sedang menyemburkan ledekan cie-cie karena opera sabun yang mereka tonton.
Paijo berlutut, menyalami Bakri dan Bu Bakri yang duduk-duduk di karpet bersama komandan Wisnu dan senior yang tidak ia kenali. “Sugeng ndalu, Pak, Bu.”
Bakri menempelkan punggung tangannya di kening Paijo sampai ia mengerjap kaget karena batu akik bapak itu menyentuh kelopak matanya.
Dicolok kenyataan, joh... joh... karma ngintip Michelle ini pasti.
“Kebiasaan datangnya terlambat lho, Le. Di kantor juga begitu?” tanya Bakri.
“Mboten, Pak.” Paijo mengusap matanya yang pedih sembari tersenyum kecut. Tetapi perasaannya menjadi tidak karuan saat semerbak bunga mawar di sampingnya menghantarkan sepenggal wangi parfum Michelle.
Biang kerok. Pintar banget jadi penyusup.
Bakri menggeser piring berisi jeruk manis dan kue brownies keju ke depan Paijo.
“Di makan dulu, kangen-kangenannya nanti.”
“Ah bapak.” sahut Puspita sambil menutup wajahnya dengan bunga itu, sekejap, hidungnya menghidu aroma lain seperti citrus gourmand. Kelompok parfum yang mencakup citrus manis ‘jeruk nipis, jeruk‘ baik manis karena gula atau tergabung dengan vanili, karamel dan bunga manis. Burberry Baby Touch, parfum kesukaan Michelle.
__ADS_1
...----------------...