
Usai mempersiapkan makan siang di atas tikar di halaman belakang rumah dan menyerahkan anak sapi ke induk dan bapaknya di halaman depan. Berkumpul lah dua keluarga yang akan melakukan makan siang seraya mendiskusikan sapi, tanggal pernikahan dan semuanya yang berlipat ganda membebani pikiran.
Michelle mengambil bagian di samping Prambudi, Paijo di samping Kusumonegoro. Bersama Dominic dan Rastanty, sopir dan kernet truk Fuso yang menyempatkan diri berenang di kolam sebelum katanya akan di kuras besok setelah terkontaminasi sapi cilik tadi.
“Saya senang sekali pak Kusumonegoro ikut datang.” ucap Prambudi ramah.
Kusumonegoro mengangguk. “Sekalian musyawarah!”
Marisa yang datang belakangan tampak cetar membahana seakan-akan akan menghadiri pesta kebun. Ia menggunakan floral dress putih selutut dan topi jerami wanita dengan pita merah yang melingkari tudungnya.
“Monggo... Monggo... Kita makan siang seadanya.”
“Seadanya?” Kusumonegoro menatap paket komplit nasi Padang, rawon setan, rujak cingur, mendoan, es buah, kopi panas, air mineral dan roti-rotian dan itu masih dibilang seadanya?
Kusumonegoro geleng-geleng kepala, tidak sanggup dia melihat seadanya versi konglomerat edan di depannya itu lebih banyak.
Marisa mengatupkan kembali bibirnya saat
Prambudi menatapnya seraya menaruh jari telunjuknya di depan mulut seakan memperingatinya bahwa ini situasi panas dan akhirnya ia hanya menganggukkan kepala.
“Saya senang sekali sapinya sudah datang. Saya hitung ada 21 ekor, hebat-hebat, bravo Paijo, Pak Kusumo... kalian saya terima menjadi besan keluarga Prambudi Dwayne.” Marisa tertawa sembari bertepuk tangan.
“Halah, orang kita saja sudah besanan sejak lama kok.” sahut Kusumonegoro hingga membuat semua orang yang mengetahui skandal keduanya membelalakkan mata lalu menggelengkan kepala, jangan...
“Mahar itu hanya akal-akalanmu saja menguji Paijo sanggup atau tidak.”
Nenek silver yang mendengarnya bertepuk tangan. “Luar biasa... Bravo... Michigano, Americano... Javanese now...”
Marisa mencubit kecil paha Prambudi sembari menyunggingkan senyum.
__ADS_1
”Sudah besanan sejak lama? Sejak kapan?” tanyanya selembut mungkin meski di sampingnya mata sang suami semakin mendelik tajam..
“Aku sama mas Paijo sebenarnya sudah nikah siri waktu aku ke Jogja dulu, Ma.” ucap Michelle langsung.
“Kok bisa nikah siri, why baby why...” seru Marisa sembari melepas topinya dan menaruhnya di dada.
“Mbokyo madang-madang dulu guys, ributnya mengko.” ucap sopir truk. Perutnya luwe, matanya ngantuk, punggung pegel. Ndilalah malah tuan rumah ribut, nek enggak enak to?
Dan campuran bahasa Indonesia, Inggris dan Jawa itu membuat nenek silver mengernyit.
“Apa itu maksudnya?”
“Maksudnya makan-makan dulu, Oma. Ributnya nanti.” jawab Rastanty kalem.
Nenek silver melipat kedua tangannya sembari mengangguk. “Makanlah, makan saja, itu semua juga beli, untuk apa tak di makan. Makanlah.”
“Nah ngono lho, Mbah. Matur nuwun.” ucap si sopir lagi sambil mengatupkan kedua tangan.
Michelle menggenggam tangan Paijo dan tak ingin melepaskannya sama sekali bahkan mereka tak ingin duduk bersama orang tua mereka.
“Kita nikah siri karena Icel cium bibirnya Paijo di rumahnya terus ketahuan Pak Kus. Di paksa nikah, akhirnya Icel tanggung jawab.”
Napas Marisa tertahan di dada dengan mulut yang melongo lebar.
“Apa itu sah?” Marisa menoleh, menatap suaminya. “Mas Pram ke Jogja dengan Dominic untuk nyusul Michelle karena ini? Bukan karena kerjaan dengan klien ningrat?”
Prambudi meringis sambil menganggukkan kepala. “Icel putriku waktu itu sedih, Marisa. Dia bimbang sekali, akhirnya aku datang, menyelamatkan suasana hatinya untuk mengiyakan menikahkan mereka.”
“Papa! Jangan lenjeh begitu, ih...” Michelle mendesis kesal. “Pokoknya kita berdua sebenarnya udah nikah, persetujuan mama dan mahar itu hanyalah awal untuk hubungan kita yang lebih serius dan go publik! Mama jangan pisahkan kami.”
__ADS_1
Michelle melepas tangannya lalu mendekap Paijo begitu erat sampai Marisa ikut memeluk suaminya.
Kusumonegoro berdehem dengan kasar. “Terus mau sampai kapan kalian begitu? Apa iya masalah selesai kalau cuma pelukan-pelukan?”
Paijo dan Prambudi terpaksa menyingkirkan wanita-wanita menyebalkan itu dari pelukan mereka.
“Duduk kalian berdua! Bapak mau ngomong.”
Michelle buru-buru ke samping ayahnya, sementara Paijo menemani bapaknya yang kembali senewen pol-polan.
Kusumonegoro mengambil tas cangklong kainnya yang tak sedikit pun terlepas dari raganya. Dia mengeluarkan sertifikat tanah berserta nota-nota pembelian sapi ke meja.
Kusumonegoro menatap orang tua Michelle.
“Saya serahkan mahar ini sekarang karena jika terlalu lama di rumah saya sapi-sapi itu bisa di gondol maling.”
Kusumonegoro menggesernya lebih dekat. “Masih atas nama saya, balik nama sendiri jika ingin di komersialkan.”
Prambudi menepis tangan Marisa yang hendak mengeceknya. Dengan santun dia mengatupkan kedua tangannya, meminta maaf atas kelancangan istrinya.
Kusumonegoro menegakkan tubuhnya, menatap Prambudi. “Sejak awal saya menyetujui memberikan ini semua saya sudah paham sekali maksudnya.”
Kusumonegoro menyentuh pundak anaknya yang menundukkan kepala. “Terima anak saya dengan segala kekurangannya dan hargai harga dirinya yang hanya wong cilik, saya paham ini tidak sebanding dengan apa yang dimiliki Michelle Josefine Prambudi. Tetapi terimalah dia.”
Kelopak mata Michelle berkaca-kaca, dia menyembunyikan wajahnya di balik punggung Prambudi yang merasakan sesak yang tak karuan.
“Saya hanya ingin Michelle bahagia dalam hidupnya dan syarat sebenarnya menikahi anak saya hanyalah mencintainya dengan sungguh-sungguh dan saya sudah menerima kesungguhannya dari ke 21 sapi itu.” Prambudi menerima nota pembelian sapi mahar dan menyimpannya di kantong celananya. Meninggalkan sertifikat tanah itu dan menggesernya mendekati sang pemilik.
“Untuk cucu sampean nanti, dari rahim putriku.” Prambudi mengatupkan kedua tangannya dan tangis Michelle meledak, diikuti isak tangis Marisa yang menghebohkan seisi rumah.
__ADS_1
...----------------...