Saat Bertemu Kamu (Romantic Scandal)

Saat Bertemu Kamu (Romantic Scandal)
Gila


__ADS_3

“Mau ngomong apa kamu?” tanya Puspita tanpa basa-basi dan mengindahkan pesona Paijo yang duduk di depannya di bawah pohon bunga Nusa Indah ‘Mussaenda’.


“Gimana kabarmu?” tanya Paijo.


Puspita menarik sudut bibirnya dengan mata sinis yang menghujam mata lawan bicaranya.


“Kamu berani tanya kabarku setelah kamu menghancurkan tujuan kita dulu? Hebat banget kamu, Jo!”


“Tinggal jawab saja apa susahnya, Pus.” keluh Paijo. “Aku sebenarnya juga males ketemu kamu lagi, aku tahu hatimu masih sakit.”


“Yah bisa di kata begitu. Tapi aku baik-baik saja. Nggak seburuk dugaanmu batal nikah sama kamu.” Puspita kembali tersenyum sinis.


“Mau apa?” imbuhnya setelah pak angkringan menaruh kopi dan susu coklat di bangku plastik kosong.


Paijo menoleh ke arah Polsek, meninggalkan Michelle di sana dengan polisi-polisi yang nampaknya suka dengan kehadirannya membuat Paijo lumayan was-was. Istrinya mudah bergaul, mudah di kagumi, yang paling utama adalah istrinya seksi. Bikin siapa saja betah barang cuma melihatnya dari kejauhan.


“Michelle namanya, adiknya Dominic.” Paijo menerangkan awal duduk perkara.


“Dominic? Teman kuliah kamu?”


Paijo mengangguk. Puspita mengumpat sambil menoleh.


“Kita ketemu di Malang waktu acara aqiqah anaknya di dombret dan Rastanty. Aku nggak tau kenapa dia tiba-tiba nyusul ke Jogja dan...” Paijo memamerkan telapak tangannya yang kapalan.


“Dia kagum dengan ini, sesuatu yang nggak mungkin kamu perhatikan apalagi kamu puji.”


“Nggak usah membandingkan!” seru Puspita hampir menggebrak kursi.


Paijo memamerkan senyumnya yang sedikit membuat Puspita kembali terpana.


“Dia cewek paling aneh yang tergila-gila sama aku. Maaf udah memilihnya daripada kamu.”


Puspita menghela napas. “Terus mau apa kamu selain cari surat izin nanggap Jathilan? Pamer istri?” tukasnya dengan wajah serius bahkan dengan tubuh dengan condong ke arahnya.


Paijo menyunggingkan senyum. “Michelle mau bicara sama kamu. Kamu mau?”


Puspita langsung berpikir keras sambil menyipitkan mata. Kok aneh ini, ada yang mau ketemu sama mantan tunangan si suami tanpa keberatan.


“Puspita...” panggil Paijo.


Yang dipanggil langsung berdehem. “Bicara apa? Kamu?”


“Bukan!” Paijo langsung angkat tangan. “Urusan cewek. Mau yoo... Biar cepat rampung urusan.”


Puspita meraih gelas susu coklat seraya menghabiskannya langsung.


“Suami-suami takut istri kamu? Kasian banget.”


“Bukannya takut istri, mempertahankan Michelle tetap dalam keadaan normal susah lho.”

__ADS_1


Puspita mencebikkan bibir sambil mengeluarkan uang pecahan lima ribu dan membayarnya ke pak angkringan.


“Ngomong aja takut istrimu berubah pikiran dan nyesel nikah sama kamu!”


“Walah Pus... Pus... Kamu gitu banget. Mbok yang manis, yang manja gitu lho. Mentang-mentang polwan tegas terus. Nggak laku-laku kamu nanti.” protes Paijo sembari berdiri.


Puspita memutar matanya dengan malas meski sepatunya menginjak kaki Paijo yang hanya menggunakan sendal jepit hitam. “Udah sana panggil istrimu daripada cuma nasihati mantan tunanganmu sendiri! Nggak penting apa masih peduli?”


Paijo meringis sembari mengusap jari kakinya yang merah. “Untung kita bakal nikah, Pus. Kejamnya kamu.”


“Paijo!” bentak Puspita. “Aku males ketemu kamu, jadi buruan selesaikan urusan ini!” katanya tanpa menatap Paijo.


“Siap laksanakan!” Paijo memberi hormat seraya menyebrang jalan. Ia menjemput Michelle yang sedang berfoto-foto dengan anggota kepolisian.


“Di tunggu Puspita di angkringan.”


“Mau dia ngobrol sama Icel?”


“Terpaksa.” kata Paijo sembari menatap polisi-polisi yang kontan memeriksa layar ponsel mereka.


“Habis ngapain kamu?” tanya Paijo curiga dan mengandung bara.


“Foto-foto. Icel bilang icel model.”


“Juoh... Hapus-hapus! Enak wae.” kata Paijo memerintahkan sembari menuding polisi-polisi yang langsung menyimpan ponsel mereka ke kantong celana dan berlagak tak tahu apa-apa.


“Woh, cari masalah kalian. Hapus to. Bojoku iki. Hapus.” ucapnya panik.


“Tenang aja, Icel milik Paijo seorang.”


“Sumpah?”


“Iya.” Michelle mengangguk tegas. ”Keluar dulu ya, kasian Puspita. Nggak sabar ketemu Icel.”


Paijo lalu mengutarakan niat awal mendatangi tempat itu dan komandan Wisnu yang menanganinya.


Di luar, Michelle menghampiri Puspita tanpa beban. Sementara Puspita terlihat menelan ludahnya saat melihat betapa megahnya paras penghuni bumi dan hati Paijo sekarang.


“Hai.” ucap Michelle sambil mengulurkan tangan.


Puspita menggenggam tangannya seraya mengangguk. “Silakan.”


Michelle mencicip kopi milik Paijo yang masih utuh seraya menyaksikan paras Puspita.


“Mas Paijo kemarin sempat larang aku buat ketemu kamu. Tapi aku ngeyel.”


Puspita berdehem. “Terus?” tanyanya sambil menegakkan tubuh. Agak lain ini kasusnya.


“Michelle butuh ketenangan saat datang ke Jogja dengan minta maaf sama kamu karena sudah rebut mas Paijo dari kamu. Dia item manis dan aku suka tapi waktunya yang salah. Jadi rusak semuanya. Maafin Icel ya, Puspita. Kamu pasti sedih banget.” Michelle mengerucutkan bibirnya sambil menggenggam tangan Puspita.

__ADS_1


Bukannya trenyuh, Puspita justru kepikiran dengan tangan lembut wanita itu. Seneng banget Paijo pasti dicintai beginian.


Michelle yang tak ingin buruannya lepas terus melancarkan rayuannya.


“Puspita mau kasih maaf buat Michelle? Dan Puspita mau berdamai dengan Icel dan Paijo?” ucapnya penuh harap.


Puspita menarik tangannya dengan hati-hati. Lalu memalingkan wajah.


Perihal hati memang tidak bisa di bohongi. Kecewa, hilang arah, marah, sakit, dan bertanya-tanya salahnya apa setiap hari sampai di khianati seperti itu. Tetapi seperti slogan polisi, dia akan mengayomi, melindungi dan melayani yang mau-mau saja di perlakukan seperti itu termasuk dalam kategori tambatan hati.


Michelle mengatupkan kedua tangannya saat Puspita hanya terdiam saja sambil menundukkan kepala.


“Puspita... Susah ya maafin Michelle.”


“Saya butuh waktu!” ucap Puspita dengan pelan.


“Besok cukup?”


Puspita menatap Michelle dengan terpana. Emang lain ini, pantas Paijo terdesak. Maksa ternyata.


“Besok cukup Puspita?” ulang Michelle.


“Lihat besok.”


“Bagus... besok Michelle ke sini lagi buat minta jawabannya. Eh... Tapi besok Icel sibuk ngunduh mantu. Besoknya aja ya, Michelle datang atau Puspita yang datang lihat Jathilan. Kata bapak gratis lho...”


Ya ampun, istrinya Paijo gini amat.


Puspita mengangguk lalu berdiri meski dalam hati ia juga tahu. Keduanya lantas menyebrang jalan.


Di depan Polsek Paijo sudah menunggu dengan komandan Wisnu sambil tersenyum.


Michelle mengerucutkan bibirnya ke arah Paijo yang menanyakan hasilnya.


“Puspita belum kasih maaf buat Icel, Jon. Icel sedih.”


Paijo menatap Puspita yang langsung buang muka.


“Dia sudah bilang alasannya?”


“Sudah.” Michelle mengangguk. “Besok kita ke sini lagi, uber-uber maafnya Puspita sampai dapat.”


Paijo mengangguk dengan pasrah seraya menepuk pundak komandan Wisnu.


“Saya tunggu pengamanannya besok komandan... Pus... kita balik dulu.”


Puspita berdehem seraya mengamati pengantin itu sampai ke dalam mobil. Puspita geleng-geleng kepala.


“Edan kabeh. Edan!” ( Gila semua. Gila! )

__ADS_1


...----------------...


__ADS_2