Saat Bertemu Kamu (Romantic Scandal)

Saat Bertemu Kamu (Romantic Scandal)
Benang Merah


__ADS_3

Meninggalkan kecanggungan Paijo yang beramah tamah di rumah Puspita. Berkutat dengan google maps dan layar ponsel Michelle sibuk putar balik ke arah kontrakan melewati jalan alternatif yang sialnya adalah jalan sepi rumah penduduk dan sepi penerangan. Aktivitas malam di jalan pedesaan itu tiada lagi yang benar-benar menyenangkan, sepi terlihat di sana sini, pohon tepi jalan menjadi kanopi alami dan saban kali melewati jalan tengah sawah, bulu kuduknya merinding.


“Jangan nyasar, jangan nyasar.” Michelle mengigit bibirnya tanpa berani menengok ke samping apalagi ke belakang, pandangannya hanya lurus ke depan. Serius, ia duduk dengan posisi tegap sambil mendengar google asisten ngomong sendiri.


Sepuluh meter belok kiri.


Saking panik dan tidak fokus, Michelle yang terlepas dari jalanan yang menakutkan membanting setir ke arah kanan. Pada jalanan yang lebih ramai dan terang, pada rumah-rumah penduduk yang berjejeran.


Sejenak ketenangan itu mampir dan membuatnya sanggup merebahkan kepalanya di head rest mobil sebelum perlahan kecepatan mobil di jalan aspal yang halus memasuki jalanan yang bergeronjal, Michelle kembali mengendalikan mobilnya dengan serius sebelum matanya melewati pagar pembatas yang identik dengan pagar kuburan.


”Jiancukkk, bener nggak ini jalannya.” Selagi matanya menghindari pagar kuburan, Michelle meneguk ludahnya seraya menjerit histeris tak karuan saat kucing putih melompat dari pagar ke atas kap mesin, sontak ia menarik tuas rem tangan sembari terengah-engah.


”Oh my God, why the day it's bad-bad-bad day. Why—” Belum jeda kepanikannya, Michelle terperanjat sewaktu kaca mobilnya di ketuk seorang laki-laki muda, nyaris berusia dua puluhan.


“Mbak... Mbak... Nggak papa sampean?”


Michelle menatap ngeri laki-laki itu dengan badan menjauh pintu mobil.


Manusia apa setan itu, ngeri banget. Dekat kuburan tiba-tiba ada orang.


“Mbak, Mbak'e... Santai lho aku bukan demit.” seru Fauzi dengan wajah cengengesan.


“Yakin kamu manusia? Sumpah?”


“Ho'oh... ho'oh.” Fauzi mengangguk, penduduk kampung yang dilewati Michelle itu sedang mengejar kucingnya Lolly yang kabur dari rumahnya yang berada di belakang kuburan.


Michelle menurunkan sedikit kaca jendelanya mobilnya, “Mana kakimu? Aku mau lihat.”


Anak muda yang tahu jokes klasik penakut setan mengangkat kakinya tinggi-tinggi bersama sendal jepitnya.


Michelle tersenyum aneh sambil menganggukkan kepala. Percaya atau tidak yang penting punya kaki dan napak tanah.


“Mbak nyasar? Di sana jalan buntu.” tunjuk Fauzi ke arah pepohonan bambu yang melengkung ke bawah.


Michelle mengangguk pasrah sembari mendekati jendela mobil. “Aku baru di Jogja. Pusing, ngalor, ngidul, ngetan, ngulon. Nggak pinter. Tolong anterin ke Kandang Menjangan, Dik. Nanti aku kasih tip.” ucapnya setengah merayu.

__ADS_1


Tanpa basa-basi Fauzi mengiyakan dengan anggukan antusias. Kapan lagi ketemu bule, cantik, seksi dan tersesat. Terlebih tipnya terdengar menggoda sekali. “Siap Mbak, Siap. Ayo tak tunjukkan jalan pulang.”


“Terus kucingmu gimana? Aku ini penjahat lho, jangan gampang percaya sama orang baru.”


“Penjahat gimana, Mbak? Wah...” Fauzi mengerutkan kening sambil menggaruk betisnya yang di gigit semut merah dengan jengkel.


“Aku rebut tunangan orang. He...” kata Michelle setengah berbisik.


Fauzi nyengir seraya memutari mobil dan mengetuk-ngetuk pintu penumpang.


“Buruan Mbak, ayo... ayo...”


Dari dalam Michelle mendorong pintu mobil dan menyuruh Fauzi masuk. Tak ada pikiran jelek saat ini, anggaplah Fauzi adalah seseorang yang dikirim Tuhan untuk membantunya keluar dari kesesatannya.


“Nanti minta foto bareng boleh, Mbak?” tanya Fauzi hati-hati saat Michelle memundurkan mobilnya dengan hati-hati keluar dari area depan makam.


“Gampanglah, aku model biasa di foto-foto.”


“Lumayan bisa buat mantanku cemburu, Mbak.” Fauzi mengapit kedua tangan di pahanya seraya mengarahkan Michelle ke jalan-jalan yang perlu dilaluinya menuju kota. Dan sesampainya di jalan arteri ‘ring road selatan’ Michelle menghela napas lega.


“Masih sekolah apa kuliah?”


“Nganggur, Mbak.”


“Dih, generasi muda penerus bangsa kok nganggur.” Michelle mendengus, “Minimal cari kerja, mau aku kasih koneksi? Atau kita makan malam dululah, sambil kenalan, aku malas pulang ke rumah cepat-cepat. Suamiku lagi di rumah tunangannya.”


Ya, Allah. Fauzi mendadak ngeri berdekatan dengan Michelle. Mbak-mbak bule ini jangan-jangan penjahat pria, waduh.


Fauzi meneguk ludahnya dengan susah. “Gak usahlah Mbak, aku tadi udah makan lodeh. Kalau kerjaan aku kebetulan gamer sekaligus tiktoker.”


“Ya udah makan aja ya, itung-itung memperbanyak kenalan. Aku Michelle.”


“Fauzi.”


Keduanya berkenalan sebelum pergi ke warung makan spesial sambal.

__ADS_1


Meninggalkan kekacauan yang menimpa Michelle dan ketakutan Fauzi yang harus menerima segala keluh kesah bule edan itu. Di rumah Puspita, satu persatu teman keluarganya pergi meninggalkan empunya rumah.


Paijo membantu Bu Bakri memasukan gelas-gelas kotor berisi teh dan kopi ke baki stainless seraya membawanya ke dapur kotor.


Sambil menyabuni piring-piring bekas syukuran acara keluarganya, Puspita tersenyum kala Paijo melinting kemejanya hingga ke siku setelah menaruh baki stainless di lantai.


“Mau apa?” tanyanya basa-basi.


“Kelihatannya.”


Puspita menoel hidung Paijo dengan jarinya yang berbusa hingga terlihat seperti badut hidung putih. “Kamu lucu mas.” Ia terkekeh geli sambil menyikut perutnya.


Paijo mendengus, di situasi yang membuatnya resah Puspita justru mengajaknya bermesraan. Bukannya senang, ia mengusap hidungnya dengan lengannya yang terangkat ke wajah.


“Ayo kita selesaikan dulu tugas rumah, aku sudah ngantuk'e. Mau pulang.”


“Kamu mas.” Puspita menyandarkan kepalanya di bahu Paijo sementara pria itu sibuk menyabuni dan membilas piring dan gelas dengan kesabaran yang latih.


“Aku kangen, besok habis dinas jalan yuk mas. Pantai gitu, Jogja lantai dua. Aku butuh energi baru buat balik kerja lagi.”


Paijo urung menyetujuinya, pikirannya terpecah belah. Ada Michelle yang menyita perhatiannya lebih dahsyat dari biasanya. Kendati demikian, melirik Puspita yang begitu berharap dan nampak kasian setelah berbulan-bulan berjibaku dengan tugas berat, Paijo mengiyakan.


“Ke Parangtritis aja lihat senja. Terus malamnya mampir ke bukit bintang beli jagung bakar. Jangan ke pantai Gunungkidul, waktunya nggak cukup. Mau ngapain gelap-gelap di pantai malam-malam, cari keong?”


Gemes, Puspita mendongak seraya mencium rahang Paijo sekilas.


Paijo mendelik lalu tanpa sadar menjauh seraya mengusap rahangnya dengan tangannya yang berbusa. “Kok cium-cium to, bukan muhrim kita!”


“Ya ampun mas... Sudah tunangan juga kita! Wajar kan boleh cium sedikit.”


Petasan meledak di kepala Paijo, pelan-pelan dia mulai sadar bahwa responnya berlebihan.


“Kaget aku kamu kayak gitu, jarang-jarang lho.” Paijo meringis aneh sebelum melanjutkan mencuci piring sementara Puspita menarik pentolan laci untuk mengambil serbet dan mengusap rahang Paijo yang berbusa sambil cemberut.


...----------------...

__ADS_1


__ADS_2