
Pagi datang lagi, di hari yang berbeda dengan perasaan yang berbeda. Situasi penuh risiko, ya, bagi Paijo harinya seratus persen berbeda. Tidak sesederhana pergi ke kelurahan, melayani masyarakat, dan menjalankan konsekuensi yang bisa ia selesaikan dengan hanya menjentikkan jarinya.
Risiko affair yang sedang mengikatnya dengan setumpuk janji benang merah jelas membawa konsekuensi yang berat dan besar.
Perjuangan ekstra keras diperlukan untuk menghindari hal yang tak ingin terjadi pun karena taruhannya adalah harga diri, Paijo benar-benar di hadapan pada pilihan yang memacu adrenalin yang mengharuskan hormon serotonin minggat terlebih dahulu dari tubuhnya.
Bolak-balik rumah kontrakan dan rumah Kusumonegoro adalah salah satunya. Keputusan itu ia katakan kepada Michelle di
saat kota Jogjakarta sedang dilanda gerimis.
“Jadi bagaimana? Boleh?” tanya Paijo sambil membelai rambut Michelle di ranjang. Suasana mendung membuatnya bermalas-malasan di ranjang.
Mengatur siasat agar hati mereka seimbang dan Paijo bisa putus secara baik-baik tanpa menimbulkan konflik sosial yang berat, Michelle mengangguk pasrah. ”Boleh kok kalau kamu memang ada acara sama Puspita, aku ngerti.”
Dan Paijo menumpahkan rasa syukur dan terima kasihnya dengan menghujani wajah Michelle dengan ciuman yang beraroma pasta gigi.
“Setelah acara selesai aku langsung pulang ke sini, mungkin tengah malam.”
Mata perempuan itu terpejam, dagunya terangkat. “Aku tahu cinta kita nggak akan tumbuh dengan mudah, tapi aku senang kamu mulai sayang sama aku.” Michelle membuang napas, memandikan wajah Paijo dengan bau napasnya yang lebih segar.
“Cuma jangan sering-sering pacarannya, aku juga mau tahu.”
__ADS_1
Paijo mengurai baju tidur yang dikenakan Michelle, menyibakkannya dengan sempurna. Kepalanya mendekat, bibirnya menjarah sesuatu yang menarik perhatiannya hingga wanita itu mendessah lepas.
“Udah... udah...” Michelle menangkup kepala Paijo dengan gemas sambil terengah-engah. Matanya nanar menatap matanya yang terlihat seksi hingga membangkitkan gejolak ditubuhnya yang mati-matian ia tahan.
“Kamu langgar janji. Dasar, emang Puspita nggak cocok sama kamu. Aku doain cepat putus.” Michelle meraih tali baju tidur dan mengikatnya. Ia mendengus jengkel seraya menutup tubuhnya dengan selimut.
“Sana mandi, arisan di sana sepuas kamu.”
Paijo menyeringai nakal lalu membasahi bibirnya. Perlahan tapi pasti kedekatan yang berjalan dengan intens mulai memunculkan kekagumannya pada keindahan tubuh istrinya yang resik dan wangi saban hari. Babarblas ia tidak pernah mengendus aroma kecut dari tubuh istrinya.
“Aku cuma berusaha adil, Sel. Paginya pacaran sama kamu, malamnya sama Puspita.”
“Tuh... tuh... mulai serakah, kon jahat ih... cuma aku yang boleh kamu sentuh! Puspita nggak boleh, aku bilang bapakmu yoo kalau sampai berani bibirmu nyentuh kulitnya apalagi susune!” ucap Michelle galak.
Dengan senyuman jahil, Paijo mencondongkan tubuhnya. Hidungnya menghidu napas Michelle dari dekat.
“Kalau gitu ayo ulangi lagi yang barusan.” seloroh Paijo sembari menaik-turunkan alisnya.
“Sarap!” Michelle menyilangkan kedua tangannya di depan dada dengan sikap pelit. “Aku sekarang jual mahal sampai kamu putus sama Puspita, setelah itu baru... setiap hari boleh banget.”
Paijo terbahak-bahak sampai tungkainya terasa lemas. Kegilaan yang begitu komplit dialaminya sukar di ungkapkan lewat kata-kata, terlebih arus liar yang terpampang jelas di matanya memberi peluang kegilaan itu menjadi nyata.
__ADS_1
“Bener lho setiap hari, awas kalau tipu-tipu.” Paijo memegangi pipi Michelle, dan dengan cepat bibir mereka bertemu. “Aku mandi dulu terus kerja, kamu nanti kalau mau kerja jangan lupa makan dulu.”
Patuh, Michelle menyahut handuk di belakang pintu dan ngeloyor ke kamar mandi. “Kamar mandinya sekalian di sikat ya, Jo. Udah licin.”
Sambil berdehem santai Paijo menutup pintu. Selang beberapa saat, bunyi sikat lantai dan aroma aerosol menguar dari sana. Pria itu tidak keberatan bersih-bersih rumah menjadi tanggung jawabnya karena sejak awal ia tahu kekurangan Michelle apa sementara bayar listrik, wifi dan kebutuhan perut menjadi tanggung jawab Michelle. Entah rumah tangga seperti apa yang mereka jalani, tidak ada cinta yang mengikat begitu hebat di sana, hanya komedi-komedi tragis yang kadang kala berakhir dengan kecupan-kecupan manis dan kesenangan-kesenangan duniawi yang sewajarnya mereka lakukan tanpa tapi.
“Pokoknya nanti acara kelar di rumah Puspita langsung balik sini, aku nggak bisa tidur kalau belum di belai kamu.”
Paijo meringis sembari menyisir rambut. “Heran aku ini sama kamu, cantik iya, seksi banget, mana kaya raya, kok mau sama aku? Nggak ada apa orang kaya yang naksir kamu? Minimal bule, rekan bisnis, apa karyawanmu di butik?” tanyanya penasaran, sebab sudah lama ia menyimpan pertanyaan itu.
“Karyawanku di butik tulang lunak semua yang laki-laki, Jo. Kalau sama bule aku malas, jarang ada yang mau komitmen dengan serius. Alasan lain, aku cari suami yang kayak bapakku. Wong Jowo biasanya kalau dapat istri bule, ayu, apalagi sugih, pasti disayang-sayang banget. Apa yakin kamu bisa seperti itu.”
Dengan mesra Michelle mendorong Paijo ke pintu. “Udah sana ngantor, nanti aku kirim makan lewat ojek daring.”
Paijo memakai sepatu pantofelnya seraya mencium pipi Michelle. “Sabar yo, aku usahakan. Tapi kalau kamu nyerah, ngomong saja. Aku tahu keadaan ini berat buatmu.”
Michelle menutup pintu rumah utama setelah Paijo pergi menggunakan motornya.
“Kutemui kamu di Jogjakarta, berharap istimewa seperti kotanya. Tapi kalau akhirnya harus jatuh bangun lagi dan tidak istimewa, untungnya aku cukup gila untuk menerimanya. He...”
...----------------...
__ADS_1