Saat Bertemu Kamu (Romantic Scandal)

Saat Bertemu Kamu (Romantic Scandal)
Puspita


__ADS_3

Derap truk polisi yang di tumpangi Puspita dari misi kemanusiaan di Papua membelah kor jangkrik dan serangga malam setelah subuh berkumandang. Melewati jalanan tanah yang bergeronjal bebatuan dengan penerangan yang sama sekali tidak ada, tubuh para awak polisi dan dua warga setempat bergoyang-goyang di bawah pepohonan yang rindang.


Puspita menatap ke belakang, meninggalkan sebuah kampung setelah membantu negara mengurangi buta huruf dan angka, memperbaiki infrastruktur desa dan beragam misi kemanusiaan lainnya yang menguras tenaga selama tiga bulan di sana.


Wanita dengan rambut cepak ala wanita militer dengan kulit coklat terbakar matahari berpadu serasi dengan wajahnya yang manis. Raut wajahnya tidak terlalu cantik, tapi sorot matanya yang menusuk menunjukkan tingkat kecerdasan dan memberi semacam ketegasan dalam mengutarakan pendapat yang tak dimiliki orang kebanyakan. Sementara garis bibirnya terlihat manis dan berwarna kemerahan.


“Akhirnya pulang.” gumam Puspita diiringi senyum lega. Mendapatkan misi kemanusiaan terlampau jauh dari tanah kelahirannya membawanya pada satu titik paling memorable dalam hidupnya, berada di Papua seolah berada di negara lain yang teramat jauh perbedaannya. Dia makan papeda, berburu babii, mencari sagu, berladang mengikuti penduduk desa di hutan asri dan makan sedapatnya.


Bersama sepuluh polisi lain dan jumlahnya berubah-ubah tergantung situasi, Puspita dikenal lihai berbaur dengan masyarakat sekitar untuk menciptakan suasana nyaman dan aman. Jiwanya yang sering di tempa banyak adrenalin tak membuatnya gentar kecuali rasa rindunya pada Paijo, tetapi sekarang ia memiliki kurang dari 24 jam untuk bertemu dengan Paijo.


Puspita tersenyum sambil menatap cincin pertunangannya di tengah suasana haru membiru yang memenuhi dadanya.


Di belakangnya, Sakti menengok sekilas tingkah Puspita yang cengir-cengir sendiri.


“Komandan, ada yang akan ambil cuti nikah ini.” serunya hingga membuat Puspita kontan menyembunyikan tangannya di saku celana dan menegakkan tubuh.


Komandan Wisnu yang duduk tegap sambil menahan tas keril polisinya berdehem.


“Cuti saja kalau perlu, tapi memangnya Paijo di tinggal tiga bulan masih sama seperti waktu kamu pamit tugas ke sini, Pus?”


Puspita menyeka dahi dengan punggung tangan. “Fuuh... Jangan ditanya komandan! Tiga bulan di gigit nyamuk hutan sepertinya sambutan Paijo tak seramah kemarin.”


Komandan Wisnu memberi senyum lalu membiarkan Puspita berandai-andai jika bertemu dengan Paijo nanti malam sementara Sakti menepuk-nepuk kepala rekan kerjanya yang mendadak berpikir keras.


“Santai aja, Pus. Kalau sambutan Paijo tak seramah kemarin gara-gara kulitmu korengan dan ghuteng, komandan Wisnu siap mengayomimu di rumahnya.” gurau Sakti yang tiba-tiba ngakak melihat komandan Wisnu mendelik.


“Aku nggak pesimis.” cetus Puspita tegar, Paijo laki-laki yang sabar menerimanya apa adanya, slalu mendukung impiannya, tetapi dia sadar kulitnya sekarang korengan di sana-sini meski sudah memakai losion anti nyamuk. Mendadak Puspita minder dan ekspresi sedih itu ditangkap komandan Wisnu.

__ADS_1


“Setelah sampai di Jogja, ada dua hari libur. Gunakan waktu itu sebaik mungkin.” ucap komandan Wisnu.


Puspita yang menguliti koreng kering di pergelangan tangannya mengangguk antuasias. “Aku harus perawatan kulit sebelum ketemu Paijo.”


Sakti kembali terbahak-bahak seraya menggaruk kudis di punggungnya. “Gatel banget cuy, misi kemanusiaan kali ini selain korban perasaan yo korban kulit. Pasti marai pangling.”


Semua orang mendadak cengar-cengir, mereka mengingat mck seadanya, air bersih terbatas, dan mandi di sungai menjadi pilihan utama sebelum mereka berhasil membuat dua sumur umum dan satu septic tank hasil gotong royong dengan warga setempat.


Tiba di transit sebuah barak militer kepolisian setempat tanah becek sehabis rinai hujan semalam terasa lembut di pijak sepatu boot Puspita yang melompat dari badan truk.


Tangannya terulur ke atas, menerima tas keril polisinya yang di ulurkan Miska. Teman polwan-nya yang memilih tidur selama perjalanan.


“Numpang mandi setelah apel pagi.” ucap Puspita saat Miska mengulurkan tas keril polisinya sebelum melompat turun dari badan truk. Miska mengangguk seraya menghirup udara pagi yang segar.


“Akhirnya hari ini tiba, Pus. Akhirnya, bisa makan soto pak Marwan lagi di kantor. Nggak makan ulat sagu lagi aku.” Miska merinding seketika.


“Langsung apel pagi.” ucap komandan Wisnu setelah turun dari truk.


Komandan Wisnu mengomandoi anggotanya untuk berbaris rapi secara militer di bawah


bendera merah putih yang berkibar di tiang besi. Mereka di sambut komandan Julvri dan anggotanya untuk hari terakhir tim Ranger Gudeg di depan barak.


Komandan Wisnu menyampaikan dengan lugas bahwa tugas misi kemanusiaannya telah selesai seraya menyerahkan laporan hasil kerja keras anggotanya selama tiga bulan dalam satu map tebal yang di kopi bersama Puspita seminggu yang lalu di kota Manokwari kepada komandan Julvri.


Memberi hormat, Komandan Julvri menyampaikan rasa terima kasih atas kedatangan mereka dan memberikan apresiasi berupa batik Papua sebagai kenangan.


Komandan Wisnu memberi hormat sebelum menerimanya. Keduanya lantas membubarkan apel pagi dan membebaskan anggotanya untuk beristirahat sebelum berangkat ke Bandara.

__ADS_1


Berleha-leha di dalam barak sederhana bercat coklat tua, Puspita dengan cepat menyesuaikan diri saat komandan Wisnu menghampirinya.


”Siap, Ndan.” tanya Puspita sambil memberi hormat.


Komandan Wisnu menurunkan tangan Puspita sambil menggelengkan kepala.


“Sudah sering saya bilang, di luar tugas negara dan apel jangan memberi hormat!”


“Kebiasaan, Ndan.” Nyengir Puspita menyembunyikan tangannya ke belakang. “Ada apa komandan ke sini? Mau ikut junior leha-leha? Selonjoran?”


Komandan Wisnu menatap juniornya yang sedang melakukan hal yang dia sebutkan Puspita di lantai semen. Ada Sakti, Miska, Yolanda, Bakri, Mahmud, Seno, Yenny, dan Bambang. Semuanya sedang selonjoran sembari bercakap-cakap menyambut euforia pulang ke kampung halaman.


“Bisa bicara di luar?” tanya komandan berpangkat briptu dan berusia nyaris tiga puluh lima itu.


Puspita yang tunduk pada seniornya mengangguk. Di luar barak, hangatnya sinar matahari merilekskan tubuhnya tetapi tidak dengan jantungnya yang bergetar hebat.


Komandan mau apa? Batin Puspita saat komandan Wisnu merogoh kantong jaket parasutnya untuk mengeluarkan gelang mutiara putih.


“Aku beli waktu kita jalan-jalan di kota Manokwari, simpan sebagai oleh-oleh.”


Dalam hati Puspita ingin menolaknya, dia ingat Paijo, tetapi komandan Wisnu yang terlihat bersungguh-sungguh dalam memberinya oleh-oleh kenangan dari kota Manokwari sulit di tolak.


Berdasarkan kamus ewuh pakewuh yang dia pelajari di tanah kelahirannya. Puspita menerimanya sambil tersenyum aneh. “Makasih, Ndan. Aku pakai nanti kalau korengku sudah sembuh. Kasian mutiaranya cantik, takut terkontaminasi.”


Komandan Wisnu mengangguk sembari beranjak dari batu besar yang didudukinya.


“Aku tunggu.”

__ADS_1


“Waduh.” Puspita mengepalkan tangan seraya menepuk keningnya. Malah jadi janji.


...----------------...


__ADS_2