
Michelle mengemasi seluruh pakaian ke dalam koper dan kantong plastik besar sebelum Paijo pulang dari perdebatan sengit di pinggir pantai.
Melihat seluruh barang pribadinya sudah masuk semua, ia merebahkan diri sebentar di kasur. Mendekap wangi Paijo yang tertinggal di bantal dan selimut.
Michelle mendesah puas bak merasakan kenikmatan yang tiada duanya. Membaui aroma Paijo yang saban kali dia harus tidur, harus ditemani pelukannya. Ngeri.
“Begini caranya meninggalkan rumah sebelum peperangan hati terjadi. Lemes, Jo, Paijo. Aku harap kamu datang ke apartemenku, cari aku, peluk aku, nanti aku kasih hadiah. Baju baru, status baru, KK baru dan keluargaku.”
Michelle tersenyum-senyum membayangkan indahnya cinta di apartemennya karena bisa di pastikan, wilayah kekuasaannya membuatnya semakin beringas.
Michelle menatap foto pernikahan mereka yang ala kadarnya—terlihat seperti orang berkumpul sambil memaksakan senyum di ponsel.
__ADS_1
“Nanti kalo kamu sudah putus sama Puspita, kita bisa bikin pernikahan yang indah, intim, di vila ku di Bali. Habis itu kita honeymoon, kawin setiap hari.”
Semakin gila imajinasinya, semakin cengar-cengir Michelle. Tetapi ia sadar, Paijo sedang bergulat dengan perasaan yang rumit. Sepasang mata yang melihatnya penuh pertimbangan itu pasti sedang susah. Dan karena ia menyayanginya. Michelle menyahut kunci mobil dan obat diarenya.
Tak ada gairah saat ia membuka pintu rumah dan bagasi mobil. Dia memasukkan koper dan plastik besarnya dengan wajah muram.
“Aku pulang dulu sweetie, kerja... biar kamu bangga padaku. Senjataku pensil bisa mengharumkan skandal kita dengan prestasi. Uhuk... Aku ikhlas mencintaimu.”
Michelle mengunci pintu rumah dan menaruhnya di sela-sela ventilasi.
“Aku kerja dulu, Jo. Bye-bye sweetie. Selesaikan urusanmu. Semoga berhasil.”
__ADS_1
Deru mesin mobil perlahan meninggalkan halaman rumah yang saban sore di sapu Paijo. Asyik Michelle melihatnya dari jendela kamar sambil tersenyum-senyum sendiri.
Setelah keluar dari jalan yang menghubungkan rumahnya dengan jalan pedesaan. Mobil merah yang melesat dari sana, memancing atensi Paijo yang baru datang setelah mengantar Puspita ke polres dari arah yang berlawanan.
Paijo yakin mobil itu satu-satunya yang ada di wilayah sana. Dan ia semakin yakin saat tiba di rumah, kehidupan di rumah itu sepi. Paijo meraba kunci di sela-sela ventilasi.
Benaknya yang hanya menduga Michelle keluar untuk mencari sesuatu atau jalan-jalan mendadak langsung bercampur menjadi dilema. Lemari kosong tanpa pakaiannya, make up tidak ada, kasur rapi tidak seperti biasanya.
Waktu berjalan begitu pelan, beratnya beban hari ini membuatnya menendang pintu dengan frustasi.
“Bukannya di sambut dengan pelukan dan kopi, kamu juga malah pergi ninggalin aku dan baju tidurmu di jemuran. Icel... Icel... Aku sedang berjuang memutuskan tali pertunangan ku dengan Puspita. Bukannya putus, urusannya semakin susah. Tapi aku seneng lho kamu pergi. Puspita akan mencarimu dan aku harus kembali ke rumah bapak.”
__ADS_1
Capek, Paijo merebahkan diri di kasur yang sudah di tinggalin percikan parfum Michelle yang semakin menerima sentuhan semakin menguatkan aroma base notes parfumnya.
“Joh... Joh... Di tinggalin perfume.” Paijo mendekap guling yang sering menggantikan posisinya—di peluk Michelle—dengan erat. “Luwih enak Michelle, walau pun nyokotan tapi bisa di sayang.”