
Tak terasa gelap pun jatuh semakin wening di awal sepertiga malam kedua. Pukul sebelas lebih tujuh menit, semilir angin membelai kulit Michelle saat menyetir mobil dengan semua jendela yang terbuka.
Sebentar lagi ia sampai di rumah dengan perasaan yang dipayungi resah.
Kenapa harus jadi selingkuhan, Mbak? Bukan jahat atau bagaimana ya, itu bikin ceweknya Paijo trauma kalau sampai tahu tunangannya nikah diam-diam. Move on susah banget lho sekarang. Tobat, Mbak.
Fauzi mungkin bukan sembarang remaja dua puluh tahunan yang tidak tahu apa-apa masalah cinta-cintaan, korban perselingkuhan gadis SMA itu rupanya ikut menggambarkan keadaan hatinya setelah patah hati hingga dia sanggup menceramahi Michelle sesantai ngopi di angkringan pinggir jalan. Seperti best friend yang lama tidak bertemu, bijaknya lantas membuat Michelle kepikiran.
Mobil berkelok dengan mulus ke arah rumah, Michelle menarik kedua sudut bibirnya. Di depan teras Paijo duduk di kursi bambu menunggunya dengan menghabiskan lima batang rokok.
“Darimana kamu?” tanya Paijo setelah Michelle menutup pintu mobil.
“Dari jalan-jalan, makan malam, nongkrong di alun-alun kidul sambil duduk-duduk santai.” Michelle menyeringai sembari mengeluarkan kunci rumah. Fauzi dan kesasar sampai makam keramat tidak perlu ia ceritakan. Kejadian tadi sudah menguras energinya. Jika Paijo tahu pun mungkin akan semakin membuatnya capek dengan pertanyaan-pertanyaannya atau malah biasa-biasa. Michelle rupanya lebih memilih diam.
”Kok belum masuk, mau ronda sekalian?”
Michelle mencolokkan kunci pada lubang kunci pintu sembari menatap wajah Paijo yang kusut dan menatapnya heran.
“Gak seru tadi?”
Paijo menyentuh kedua bahunya sembari mendorong pelan Michelle ke dalam ruang tamu. Dengan kaki, Paijo menutup pintu rumah.
“Gimana tadi perasaanmu waktu aku kabur? Ngambek, marah?” tanya Paijo seraya mencium ubun-ubunnya.
Michelle melepas sepatu flatshoes-nya lalu melempar tas tentengnya ke sofa. “Sebel dong, cuma gak papa kok. Aku emang iseng.”
Paijo mengelus lengan Michelle sampai mengisi sela-sela jemarinya dengan jemarinya seraya mengistirahatkan dagunya di bahunya. “Emang iseng banget sampe bunga untuk Puspita kamu semprot parfummu.”
Napas hangatnya menerpa leher Michelle dan dekapan Paijo dari belakang menggelisahkannya. Michelle sedikit cemas, namun banyak pasrahnya tatkala Paijo mencari kenyamanan seakan-akan menyimpan rindu tertahan.
“Maaf, aku lama perginya.” bisik Paijo.
__ADS_1
Michelle meringis aneh. Gelagat Paijo membuatnya kepikiran, pria itu kenapa. Kenapa mendadak romantis setelah mengunjungi tunangannya.
“Kamu kenapa, Jo? Kamu mupeng sama Puspita tapi gak berani kayak gini sama dia?”
“Sembarangan!” Paijo mendusel-dusel semakin melekat ke tengkuk Michelle. “Biar begini sebentar.”
“Ya kamu kenapa tiba-tiba nempel aku? Aneh tahu biasanya juga males.” gerutu Michelle, dia ingin mandi, badannya terasa lengket setelah menghabiskan oseng-oseng mercon dengan Fauzi dan udara malam membuat keringatnya semakin lengket.
“Sabar, bentar lagi.” Paijo mengeratkan pelukannya, membiarkan suasana kian malam kian dingin membekuk dua insan manusia yang melawan fatamorgana cinta.
”Aku salah tapi aku bingung harus bagaimana melepas Puspita dengan baik-baik, Sel. Natural, tanpa melibatkan kamu di antara kita.”
”In your hands i felt thing.” ( Di tanganmu aku merasakan sesuatu) ucap Michelle. “Aku suka tanganmu yang kapalan, nggak halus dan nggak ramah, tapi mas Dominic betah temenan sama kamu itu tandanya kamu asyik dan baik.” Michelle memutar tubuhnya, menatap Paijo dengan mata sendu membiru.
”Aku menyukaimu dengan sederhana, seperti aku mencintai pekerjaanku. Desain-desainnya aku pikirkan dengan matang, aku gambar dengan teliti, setiap kainnya aku pilih sebagus mungkin sesuai keperluan dan aku menjahitnya penuh kehati-hatian dengan benang yang tepat agar serasi. Tapi jika egoku menyusahkanmu, ambisiku membutakan hatimu, jedalah aku dan pilihlah salah satu.”
Michelle menyentuh dada Paijo dan merebahkan kepalanya di dadanya. ”Aku bukan hakim yang ingin menuntut keadilan dan keputusan secepat-cepatnya, Jo. Let's it flow. Kecuali kalau kamu ada rasa sama aku saat ini.”
“Aku nggak bisa jawab. Tapi saat aku bersamamu, hidupku mekar.”
Michelle mengelola dengan baik sikap Paijo yang lebih mesra dari biasanya, tetapi mau bahagia terasa . Lagi-lagi realita cinta membawanya pada satu kenyataan bahwa rumput tetangga lebih oke. Rumputnya sendiri yang oke dan halal, maka tak mengherankan jika Paijo bisa meminta apa yang ingin dia lakukan. Terlebih kode keras yang ia katakan untuk mengumpulkan pahala dalam berumah tangga seakan membawanya pada satu pilihan, pasrah.
Michelle tersenyum kecil seraya menyingkirkan tangan Paijo yang menyentuh pinggang bawahnya. “Kamu mandi deh, Mas. Bau sabun cuci piring kamu.”
Cemberut, Paijo mengurai pelukannya seraya bersandar di tembok. Ia melipat kedua tangan, perasaannya mendadak kecut. Michelle yang centil dan nyoh-nyohan agaknya malam ini sedikit jual mahal.
”Aku nggak di sini, nggak di sana. Kerjaanku cuci piring.”
“Oh wow.” Michelle menghidupkan televisi, mencari film yang ingin dia tonton seraya merebahkan diri di sofa. ”Kasian juga kamu, aduh, berasa jadi istri durhaka juga aku ya.”
Paijo melepas kemejanya yang beraroma sabun cuci piring lemon dan jeruk nipis seraya melepas celana jins-nya. Kembali ke rumah, kembali menjadi diri sendiri dan bersama Michelle dia seakan pulang ke tempat ternyaman.
__ADS_1
“Mau bilang iya, aku takut salah. Tapi mau bilang tidak, ya gimana ya, masak cuci piring nggak ada selusin aja harus aku? Tanganmu ini terbuat dari apa memangnya sampai nggak sudi ketemu sabun dan sabut cuci piring?” ucap Paijo sembari meraih tangan Michelle dan mengalungkan di lehernya saat ia sudah duduk di karpet, bersandar di badan sofa.
Paijo menatap jari lentik berkuku cantik yang semakin dia hirup aromanya semakin dia mengernyit curiga.
“Habis makan apa kamu? Baunya mirip tetelan sapi.”
“Oseng-oseng mercon!”
“Yungalah, Icel! Iso-isone mangan oseng-oseng mercon, nggak takut perutmu sakit?” seru Paijo sembari berbalik. Dia menatap Michelle serius, mengkritik kelakuan Michelle dengan gelengan kepala.
“Mau sakit kamu?”
“Nggaklah, enak aja kamu ngomong.” Michelle menggeleng. “Cuma hidup kan perlu sensasi.”
Sensasi gimana maksudnya? Giliran punya bojo kok rasanya semrawut terus.
Paijo meraih tas Michelle dan mengeluarkan kantong transparan berisi alat pembersih wajahnya.
“Besok aku harus jalan sama Puspita setelah kerja, kamu kalau sampai diare wah... kacau."
Michelle memejamkan mata saat pria yang sudah tahu tahapan dalam membersihkan wajahnya memulai mengoleskan beragam step by step perawatan wajahnya.
“Nggak akan aku nyusahin kamu, tapi ingat status ISTRI lebih valid daripada tunangan. Ya walaupun cuma nikah siri dan hasil gerebekan. Aku sepenuhnya bisa menguasaimu.”
“Iyo... Iyo... Gitu aja ngegas, gimana kalau kamu tadi tahu aku di cium Puspita, di senggol-senggol manja. Apa nggak kebakaran hati kamu.”
Michelle menjulurkan lidah dengan santainya. “Aku tadi juga jalan-jalan sama cowok kuburan.”
Paijo mendadak mematung, cowok kuburan? Demit nyamar jadi cowok jadi-jadian? Gimana ceritanya? Nggak beres ini Michelle, nggak beres.
Paijo geleng-geleng kepala, urusan satu belum selesai tambah urusan baru yang lebih aneh. Betul-betul dia butuh jeda untuk memikirkan nasib dua wanita di hatinya.
__ADS_1
...----------------...