
Puspita tidak tahu apa yang terjadi sebenarnya. Yang pasti, perginya ia ke rumah sakit sampai harus membatalkan kencan mereka ke Jogja lantai dua dan pantai adalah risiko mencintai satu-satunya anak yang di miliki Kusumonegoro.
Benaknya yang tulus mengira calon mertua itu mendadak sakit, maka Puspita memakai helm dengan tenang. Dengan motornya, wanita yang memakai seragam dinas dan sepatu PDL sus 7cm, hitam mengkilap berbahan kulit sapi menggeber motornya dari garasi rumah menuju penjual buah di dekat pasar.
Puspita membeli beberapa buah seperti apel, pir dan pisang emas setengah matang untuk di bawanya ke rumah Paijo. Tersenyum simpul dia menuju rumah itu dengan kerinduan yang sebentar lagi terbalas.
Setibanya di depan rumah joglo yang asri.
Sepi terlihat di rumah itu, bahkan daun-daun kering pohon mangga tampak berserakan di halaman.
Dalam hati ia mengira semua sedang lelah-lelahnya sampai malas mengurus dedaunan itu. Tetapi ia tak gentar, Puspita meraih kantong kresek di cantolan seraya pindah ke teras rumah.
Puspita mengetuk daun pintu berkali-kali. Tiada yang menyahut dari dalam, tiada yang membuka pintu itu. Masih dengan kesabaran yang terlatih, Puspita pergi ke bedeng belakang. Tempat Paijo dan Kusumonegoro menjemur ular pitonnya sebelum berangkat kerja. Tetapi sama, baik Paijo apalagi Kusumonegoro tidak menyahut. Dua pria itu tidak ada di rumah, Kusumonegoro sudah pergi sehabis subuh untuk gotong royong di Keraton Yogyakarta menyiapkan acara grebeg Maulud.
Puspita menghela napas, ketenangan yang bersemayam di benaknya mulai hilang sebab belum ada pukul setengah tujuh pagi tak ada siapa-siapa di sana.
“Apa Paijo masih tidur ya.” Iseng dia mengetuk jendela kayu kamar Paijo di samping rumah sampai-sampai Lek Mulyadi yang melihatnya setelah membuka warung menghampirinya.
“Cari Paijo, Dik?” tanya Lik Mulyadi yang mengagetkan Puspita seketika.
__ADS_1
Puspita menyunggingkan senyum seraya berbalik. ”Betul, Pak. Di mana ya, mas Paijo? Kemarin saya dengar dari teman, mas Paijo ke rumah sakit. Pak Kusumonegoro tidak sehat?”
“Sehat banget, Dik. Kemarin saja habis kerja bakti.” Lik Mulyadi menatap kresek yang di bawa Puspita sebelum menatap wajahnya yang heran.
“Kalau Paijo saya jarang lihat, Dik. Jarang kelihatan ada di rumah itu anak. Ndak tau ke mana. Wong terakhir itu dia kedatangan tamu pakai mobil merah, cewek, rambut pirang, habis itu Paijo jarang kelihatan di rumah.”
Puspita kesulitan menebak penjelasan Lik Mulyadi berkaitan dengan hal perselingkuhan atau bukan. Cewek pirang, jarang pulang ke rumah? Mendadak ke rumah sakit?
Selagi tidak ada bukti jelas, dan kejelasan dari tunangannya yang sedang masak bubur sumsum untuk Michelle itu, Puspita pantang menduga-duga.
”Sebaiknya saya ke kelurahan saja, Pak. Siapa tahu mas Paijo sudah berangkat ke kantor.” Puspita tersenyum santun seraya gegas pergi mengambil motornya, meninggalkan Lik Mulyadi yang geleng-geleng kepala.
Puspita pergi ke kelurahan, pegawai kebersihan yang melihat kedatangannya menghampirinya.
“Paijo nggak berangkat, Mbak. Di grup chat kantor dia izin tidak berangkat.”
Merasa tidak ada yang ingin dikatannya lagi, di tengah situasi yang memusingkannya. Puspita mengulurkan oleh-oleh buah-buahan itu untuk pegawai kebersihan.
Puspita putar balik, dia menggeber motornya lengkap dengan perasaan nelangsa.
__ADS_1
Di mana mas Paijo sekarang? Siapa cewek pirang itu? Firasatku tidak baik-baik saja.
Tiba di polres, komandan Wisnu menjemput kedatangannya dengan ekspresi penuh simpati.
“Siap bertugas?” Komandan Wisnu memberi hormat kepadanya.
Puspita melepas helmnya seraya balas memberi hormat setelah menurunkan penyangga motor dan berdiri di depan komandan Wisnu yang tampaknya mengerti setelah meraup arti dari wajah Puspita saat ini.
Ada makna di balik semua pertanda, Pita. Kamu harus cepat mengerti. Paijo bukan pria terbaik bagimu.
“Siap, komandan.” ucap Puspita sembari memakai topi pet-nya. “Beri tugas saya yang banyak dan sesibuk mungkin!”
Komandan Wisnu hanya bisa tersenyum seraya menunjuk ke gedung polres. Rupanya dia tidak ingin repot-repot membahas Paijo sekarang, wanita itu sudah memberi petunjuk bahwa ia tidak ingin membahasnya.
Tugas benar-benar akan dia berikan, sebanyak mungkin, setidaknya Paijo dilupakan wanita itu sementara waktu sebelum fakta-fakta lain akan dia cari seorang diri secara diam-diam dan terselubung agar pertunangan mereka digagalkan dan perasaan di hatinya terbalaskan.
Komandan Wisnu tersenyum samar.
...***...
__ADS_1