Saat Bertemu Kamu (Romantic Scandal)

Saat Bertemu Kamu (Romantic Scandal)
Gagal total


__ADS_3

Puspita merebahkan diri di permadani setelah menelusuri jejak-jejak kenangan yang tertinggal bersama Paijo seorang diri seminggu setelah acara ngunduh mantu keluarga Kusumonegoro.


Dia menjerit histeris seraya menatap amplop yang masih belum ia buka sampai sejauh ini sampai-sampai Marisa yang memberi QR code di sana menunggu dengan cemas dan melarang putrinya dan Paijo agar tidak bahagia-bahagia banget di atas penderitaan Puspita.


“Bali, Lombok? Spa? Beli make up sebanyak-banyaknya? Apa bapak mengizinkan aku cuti seminggu? Ribet banget kerja di bawah kekuasaan bapak sendiri.” gumamnya sambil membuka perekat amplop.


Puspita mendapati bayaran sebanyak lima ratus ribu dan dua QR code yang tertera dalam cetakan kertas tebal.


Dia tersenyum seraya berusaha meraih ponselnya di atas kepala ketika sang ibu mendorong pintu kamarnya.


“Kenapa jerit-jerit?” tanya Bu Bakri. Tatapannya kemudian beralih ke uang dan kertas yang tergeletak di dada putrinya.


“Dari siapa? Bukan uang panas kan?”


“Dari keluarganya Pak Kus.”


“Kusumonegoro? Bapaknya Paijo?” tanya Bu Bakri tak percaya.


Puspita mengiyakan lalu menceritakan hal-hal yang terjadi di sana sampai bapaknya tak habis pikir kenapa putrinya nekat ikut-ikutan.


“Bapak pasti nggak setuju aku menerima ini, Bu. Soalnya semua orang juga udah sepakat buat diam-diam saja.” ucap Puspita cemas.


“Memangnya apa saja itu?”


“Belanja-belanja sama piknik.”


”Cuti saja kalo kamu mau, Nduk. Cuti capek. Bapak pasti ngerti.” Bu Bakri mengelus kepala putrinya.


”Nek kamu nggak trauma to punya pasangan lagi?”

__ADS_1


”Ya tidak, Bu. Nggak sampai segitunya aku kecewa sama laki-laki.”


Bu Bakri tersenyum lega. “Ibu itu sering lihat komandan junior Wisnu lihat-lihat kamu kalau sedang apel bapakmu di sini. Suka dia sama kamu, Nduk?”


“Halah, ibu ini pasti sudah di doktrin bapak!” kata Puspita seraya memunggungi ibunya.


“Tapi serius ibu bilang, Nduk. Ketika laki-laki sudah menyukai begitu lama bahkan saat-saat terburuk penampilanmu di Papua kemarin, dia sudah menyukaimu tanpa syarat.”


Puspita memejamkan mata, nasihat cinta dari ibu itu serupa wejangan paling mahir dalam menggoyahkan komitmen dirinya bahwa jangan sampai jatuh juga pada perasaan komandan Wisnu.


Dia belum betul-betul membutuhkan sokongan rasa kasih sayang sekarang setidaknya sampai dia mengerti seberapa besar usaha komandan Wisnu merenggut hatinya.


“Ibu sih hanya mengutarakan isi hati ibu, Nduk. Dan sepenuhnya ibu serahkan padamu.”


Puspita mengangguk. “Mungkin bisa Puspita pertimbangan setelah cuti kerja, Bu. Aku juga pingin lihat seberapa besar penantian mas Wisnu.” Ia duduk seraya mengikat rambutnya. Bu Bakri berdiri seraya membantu Puspita berdiri.


“Izin sana sama bapakmu biar besok langsung libur tanpa sepengetahuan junior Wisnu.”


“Tumben Nduk bawain bapak teh. Ngopi hayooo...”


Bapak di rumah sama di kantor beda. Di rumah sok kalem, di kantor lirik anaknya sendiri males.


Puspita menyerahkan secangkir teh itu sambil tersenyum.


“Puspita mau ambil cuti tahunan, Pak. Capek, mau hiling.”


Pak Bakri menggaruk dada seraya menyeruput teh hangatnya.


“Harusnya cuti itu buat kamu nikah yo, Nduk. Si ijo malah selingkuh terus jadi mantu konglomerat. Kurang ajar dia itu, tahu bener cara buat bapak gething dan hilang muka kalau ketemu Pak Kus.”

__ADS_1


“Ya sudah to, Pak. Buat apa sekarang di permasalahkan. Nggak penting.” ucap Puspita sambil bersedekap dan buang muka.


“Oke.” Pak Bakri menghela napas. “Kamu cuti maksimal enam hari.”


“Tapi bapak jangan ngomong sama komandan Wisnu kalau aku cuti. Biar dia kepikiran.” ucap Puspita malu-malu.


“Walah, Wisnu toh... Bapak juga sudah dengar dia suka kamu di kantor. Terima saja, biar bapak itu bangga lho punya mantu komandan. Cita-cita bapak lho itu biar kamu juga makmur.”


“Jadi bapak bisa sepakat sama aku?” tanya Puspita sambil mengulurkan jari kelingkingnya.


Pak Bakri iya-iya sambil membuat janji dengan putrinya.


Puspita melenggang pergi, dia berloncat seperti kangguru menuju kamarnya setelah mengacungkan jempol ke arah Bu Bakri.


”Hiling gratis.” Puspita meraih ponselnya seraya menscan QR code.


Di Malang, Marisa yang baru berkumpul dengan Prambudi dan Paijo yang sedang di ajari beberapa modul kerja meraih ponselnya.


“Yes, good girl!” serunya mantap dan langsung menyerahkan urusan Puspita pada staffnya.


”Kenapa, Ma?” tanya Prambudi.


“Itu mantan sudah ambil bagian dari mama, semoga aja dia bahagia tanpa berpikir jelek tentang Icel dan kamu lagi, Jon!”


“Semoga, Ma.” Paijo melempar senyum terbaiknya. “Ntar aku kasih kabar ke komandan Wisnu biar dia nyusul ke Bali atau Lombok, lumayan tuh bisa ngedate berdua.”


“Bagus, sembari menyelam minum air. Wait... wait... wait... Mama kasih tambahan info dulu kalau bonusnya bisa buat berdua! Kamu juga Jon, telepon komandan.”


Sebagai mantu yang lagi merintis karir dan hati mertua, sigap pula Paijo menghubungi komandan Wisnu hingga paginya, Puspita yang baru keluar rumah mendapati komandan Wisnu menjemputnya sembari membawa keril polisinya dengan wajah anti sedih dan kecewa.

__ADS_1


...----------------...


__ADS_2