Saat Bertemu Kamu (Romantic Scandal)

Saat Bertemu Kamu (Romantic Scandal)
Sukur...


__ADS_3

Udara sejuk alam raya kota Malang menyapa raga Paijo dan Kusumonegoro yang menumpang truk fuso pembawa mahar paling edan yang pernah Kusumonegoro saksikan.


20 ekor sapi dan sertifikat sawah dia bawa bagai membawa upeti untuk raja, penuh kehati-hatian, kewaspadaan dan keikhlasan meski wajahnya memang tak luput dari ekspresi jengkel.


“Bapak nggak bisa lama-lama di Malang, cuti cuma dua hari!”


Menjadi pria yang kerepotan mencari 20 ekor sapi sampai seluruh peternak dan penjual sapi di seluruh kabupaten di Yogyakarta dia sambangi selama dua Minggu berturut-turut, Paijo mengangguk pasrah. Mukanya terlihat lelah dan kulitnya semakin eksotis. Badannya pegal-pegal, saban hari yang dia lakukan setelah resign dari kelurahan hanyalah ngarit, cari ramban di sawah, ngurus sapi yang dia pelihara di sekitar rumah sampai para tetangga menanyakan ada apa, kenapa, buat apa sapi sebanyak itu dan di akhiri dengan walah-walah...


“Nanti kita bahas sekalian tanggal nikah, Pak. Aku sudah pusing wira-wiri Jogja Jawa timur!”


“Ngomong saja berat di ongkos!” sergah Kusumonegoro sambil menginjak kakinya.


“Ingat, Jon. Ngunduh mantu butuh duit, apa iya bapak harus kredit non KPR?”


“Iya... ya, Pak. Uang sisa jual sawah kemarin masih lima juta. Belum beli cincin kawin, seserahan... Sewa bus... Rewang... Lah... lah... kok nambah-nambah acaranya pak... Joh... Joh... Piye iki.”


“Jualen ginjalmu, Jon.” sahut Kusumonegoro. “Jodohmu ketinggian!”


Sopir truk yang mendengarnya terbahak-bahak sampai perutnya terasa kaku.


“Asuog, dari Jogja sampai Malang ngelawak terus bapak anak satu ini. Kesel ketawa aku, Pak.” ucapnya dengan bahasa Jawa kasar ala sopir truk pada umumnya.


“Gimana lagi, Man. Bisa-bisa nikahin bule itu habis satu miliar. Man... Man... Bablas... Duit apa daun itu. Ra nguati tenan.” ( Nggak kuat banget ) keluh Kusumonegoro sambil geleng-geleng kepala.


Paijo mengulum senyum sambil merangkul bahu bapaknya.


“Nanti di rembuk, Pak. Mereka pengertian kok.”


“Kalau pengertian mana mungkin ngelunjak minta sapi 20 ekor sama sepetak sawah sama wong kere seperti kita. Ngawur itu mertuamu!”


Paijo terbahak. Perjalanan yang di tempuh sekitar lima jam itu terasa alot dan seru. Terlebih ketika melewati tol, cerocosan Kusumonegoro bagai angin lalu yang tertinggal bersama kecepatan truk yang melaju kencang.


“Galak begini kok jadi abdi dalem, aku mulai meragukan kesabaran bapak waktu mengabdi di keraton.”

__ADS_1


“Lambemu, Jon. Mingkemo...” ( Bibirmu, Jon. Diamlah. )


Paijo menyandarkan kepalanya di bahu bapaknya yang mengenakan jaket hadiah sepeda motor dan berpeci hitam. Sendalnya pun sendal selop hitam yang saban hari di gunakan untuk pergi mengabdi di Keraton.


“Sebentar lagi nyampe, Pak. Deg-degan yo.”


“Jelas, mosok ora.” ( Masa tidak )


“Yang sabar ya, Pak. Jangan kepancing nanti.”


“Bapak nggak mungkin lali jiwa!”


“Yakin?” Cengiran di bibir Paijo membuat Kusumonegoro mendengus. Firasatnya mengatakan sesuatu yang tidak beres.


Tetap waras, tetap waras. Bakal punya cucu bule. Juru kunci kuburan belum ada gantinya. Repot kalau aku ikut kenthir. batin Kusumonegoro bersamaan dengan berhentinya truk di pinggir jalan.


Di belakang truk Fuso satu truk Fuso lainnya yang mengekor juga berhenti. Kondisi gapura perumahan itu tak memungkinkan truk masuk ke dalam perumahan elite.


Paijo turun dari truk sambil menghela napas. Dia berjalan ke arah pos satpam untuk meminta izin agar diperbolehkan membawa sapi-sapinya ke rumah Prambudi.


Satu persatu sapi di turunkan dengan hati-hati dari truk Fuso sesuai jumlah pawang yang menangani sapi-sapi yang mulai bergairah keluar dari sesaknya truk ke dalam perumahan bersama Paijo dan Kusumonegoro yang berjalan kaki menuju rumah besan.


“Buka pintu gerbangnya, Pak. Sapinya Bu Marisa sudah datang.” kata Paijo diiringi suara “emohhhh” yang mengejutkannya Pak Tedy yang baru saja menelan air kopi ke tenggorokan.


“Sapinya Bu Marisa? Sapi mahar?” Terpogoh-pogoh Pak Tedy meraih serenceng kunci di meja seraya membuka pintu gerbang. Matanya membelalak begitu melihat satu persatu sapi simental dan sapi putih yang di bawa dua orang satpam dan empat orang sopir+kernet di bawa masuk ke dalam pelataran rumah megah itu.


Paijo mengikat sapi simental dewasa di batang pohon ketapang kencana diikuti sapi jodohnya yang di bawa Kusumonegoro.


“Panggilkan orang rumah, Pak.” pinta Paijo, sementara orang suruhannya dengan gegas mengikat sapi-sapi itu ke batang-batang pohon yang tersedia bahkan ada yang diikat di sela-sela teralis gerbang sebelum kembali ke pinggir jalan, mengambil sapi di truk Fuso.


Pak Tedy menarik napas, langkahnya tampak ragu hendak masuk ke rumah majikannya atau mengurus tamu-tamu berkaki empat yang merusak tatanan rumput dan keindahan rumah itu dan kegugupan yang tampak jelas di wajahnya membuat Paijo terkekeh.


“Cepat, Pak. Jangan lupa jamuan makan siang untuk sapi-sapinya.”

__ADS_1


Kusumonegoro menabok bahu anaknya. “Jamuan apa? Suket manila?”


Pak Tedy berjingkat mundur saat sapi simental hendak mengendusnya.


“Kandang sapinya belum di siapkan, Jon. Nambah-nambah gawean ku kamu.”


Terpogoh-pogoh pak Tedy masuk ke dalam rumah. Dia celingukan mencari Marisa, Rastanty, atau siapapun yang bisa dimintai pertanggungjawaban atas sapi-sapi di depan rumahnya di seluruh penjuru rumah besar itu dengan langkah cepat dan sigap.


“Nyah... Nyonyah...” Pak Tedy mengetuk kamar majikannya setelah tidak mendapati keberadaan wanita itu di mana saja dengan napas ngos-ngosan.


Marisa menaruh kuas masker wajahnya di meja. Dengan wajah datar tanpa ekspresi dia berbalik.


Marisa berdehem-dehem sambil membuka pintu. Tanpa bertanya ada apa wong kalau maskernya retak sebelum tuntas urusan mempercantik diri kelar dia harus repeat lagi.


“Itu Nyah di bawah ada tamu.”


Marisa berdehem.


“Sapi... Sapi mahar dari Paijo.” ucap pak Tedy terbata-bata sembari membuka gorden dengan napasnya yang masih mengkis-mengkis. Lututnya pun terasa hampir bergeser dari posisinya.


Marisa membelalak matanya melihat para sapi berjalan di jalan perumahan dan mulai memenuhi halaman rumahnya. Dadanya yang terlihat santai menarik napas dan mengeluarkannya perlahan memburu bagai dikejar waktu.


“Paijo ndeso sungguh-sungguh, Ted. Buset dah.” Marisa melangkah ke arah anak tangga. Lincah ia menuruninya sambil berkata. “Telepon Michelle dan semua orang untuk pulang ke Malang!”


Pak Tedy memegangi kedua lututnya, kakinya enggan menapaki anak tangga. Lemes dia mengiyakan sementara Marisa menarik gagang kedua pintu besarnya bersamaan dengan anak sapi yang berbahagia menggelinjang ke sana ke mari dan menuju ke arahnya.


Marisa membelalakkan mata seraya berbalik, dia berlari mencari tempat untuk melindunginya dari terjangan anak sapi yang enggan di pisahkan dengan induknya ke dalam rumah.


“Mami... help me...” Anak sapi mengejarnya berkeliling rumah, menabrak benda-benda yang terpajang cantik di rumah itu tanpa segan.


Di kamar, Pasty Dwayne yang mendengar barang pecah belah berjatuhan ke lantai dan jeritan putrinya terkekeh-kekeh di kursi rodanya.


“Sukur... Kena batunya kau Marisa! Anak orang susah kau jadikan mainan. Sukur...”

__ADS_1


...----------------...


__ADS_2