
Stasiun Kereta Api Surabaya Gubeng.
Berasa di stasiun kereta api terbesar se-Jawa timur yang berlokasi persis di tengah kota Surabaya. Michelle menggandeng tangan Paijo dan tak ingin melepaskannya sama sekali!
Wajahnya sendu, maunya Paijo tetap berada di sisinya, maunya Paijo tetap berada di ruang kerjanya. Menikmati awal baru di hubungan mereka yang tak lagi malu dan berjarak.
“Nggak bisa cuti sehari aja? Icel masih pingin sama kamu.” tanyanya setelah duduk di kursi tunggu dan membeli tiket.
Keberangkatan kereta api mutiara selatan jurusan Surabaya-Yogyakata masih nanti jam setengah delapan, waktu terakhir mereka bersama sebelum Paijo memasuki peron dan gerbong kereta api kelas ekonomi. Sementara sudah dari magrib berkumandang mereka berdua di stasiun, duduk berdua seperti sejoli yang tak ingin terpisahkan jarak.
Paijo menghela napas. Pulang adalah jawaban yang masuk akal untuk meredam gejolak yang melanda dirinya dan Michelle sebelum tangannya menjarah lebih banyak lekuk tubuh indah istrinya.
“Aku harus pulang, ngurus mahar buat kamu. Ngurus resign dari kelurahan, belum lagi melamar pekerjaan di kantor masmu. Sibuk aku, Sel.”
“Halah, gayamu Jo... Sibuk-sibuk segala.” Michelle menyandarkan kepalanya di bahu Paijo yang duduk bersandar sembari mengeluarkan rokoknya.
“Isep aku aja daripada rokok.” bisik Michelle.
Gelora asmaranya tumbuh berkali-kali lipat. Pesat, padahal baru secuil jemari Paijo menyentuh awal dari perjalanan nafkah batin mereka.
“Tahu tempat. Bapakmu tadi sudah pesan lho sama aku. Jangan buat skandal! Paham to? Nggak usah ngeyel.” Paijo mengingatkan dengan nada galak.
“Mulai lagi kayak reog. Galak.” Michelle meluruskan kedua kakinya. Dia menggunakan jeda waktu saat Paijo merokok di luar stasiun untuk berpikir keras.
Sebentar lagi semuanya sudah berlabuh di satu arah, mahligai pernikahan yang sesungguhnya. Namun bagaimana jika Paijo gagal memberinya mahar sebesar itu?
Ditengah rasa enggan yang membuncah, di tengah hasrat yang meninggi. Ada ketakutan yang betul-betul Michelle rasakan. Takut Paijo menyerah apalagi berhutang sebesar itu dalam mewujudkan impiannya. Namun di sisi lain, mungkin betul pikirnya apa yang telah ditetapkan oleh kedua orang tuanya jika Paijo bisa mewujudkannya ia bersungguh-sungguh ingin bersama dirinya. Berada di tempat yang lebih setara dengan keluarganya meski bukan itu keinginan kedua orang tuanya.
Michelle tahu betul, keputusan orang tuanya serupa izin untuk hidup lebih tenang dan layak.
__ADS_1
“Makan dulu.” Paijo mengulurkan mie cup yang di belinya di warung sekitar stasiun.
Michelle tersenyum sembari meraihnya. “Makasih.”
Paijo lekat-lekat menatap mata Michelle yang berubah menjadi gamang dan tidak bersemangat.
“Kenapa lagi?” tanyanya sambil duduk. “Jangan rewel terus to... Tiga Minggu aku lagi ke sini lagi. Jemput, jangan lupa.”
“Manja... Bukannya nyamperin aku sendiri pakai minta di jemput. Berani kayak aku gini lho, datang langsung ke rumahmu.” sahut Michelle berapi-api.
“Salah sendiri datang ke rumahku langsung nggak minta di jemput.” seloroh Paijo seraya tersenyum meledeknya.
“Tapi kemungkinan aku bakal ke Malang dulu, sowan ke rumah orang tuamu sebelum ke sini. Jadi jangan rewel. Urus itu fashion show-mu baik-baik.”
“Nggak asik kamu, mulai nyebelin lagi.” seru Michelle sembari memperpanjang jarak di antara mereka.
Keduanya sibuk makan mi cup sambil terdiam. Menyaksikan orang hilir mudik keluar masuk stasiun dengan beragam ekspresi.
”Aku harus masuk ke dalam.”
Sambil menguncupkan bibir, Michelle meraih tangan Paijo. Dia berdiri berhadapan dengan jarak terdekat yang bisa di lakukan di tempat umum dengan suaminya.
“Coba kamu besok yang nyamperin aku, jangan aku terus yang kelihatan berharap banget sama kamu!” ucapnya dengan nada masam.
Yungalah, masalah begitu saja..
Paijo menghela napas, namun ia anggukan kepalanya agar wanita di depannya tidak semakin rewel.
“Ingat sapi 20, boleh sapi lokal yang penting sapi.”
__ADS_1
“Kalau anak sapi?” sahut Paijo sambil menelengkan kepalanya.
Michelle tampak berpikir, anak sapi boleh juga. Namun kortingan itu nanti bisa berimbas pada restu orang tuanya.
“Sapi dewasa!” pungkas Michelle.
“Yowes.” Paijo mengangguk. “Aku pulang dulu, kamu juga langsung pulang nggak usah nangis di sini melihat kepergianku.”
“Lambemu, Jon. Aku nggak gitu-gitu banget ya sama kamu!”
“Yowes, sampai jumpa lagi Icel.” Paijo meraih tas ranselnya di kursi tunggu seraya melengos pergi ke tempat pengecekan tiket.
Michelle membeku menyaksikan suaminya tidak menciumnya, tidak memberinya uang gaji, lupa pula tidak memberinya semangat untuk menjalani hari tanpa pertemuan ragawi.
Michelle menggertakkan kakinya di lantai lalu menyahut tas tenteng mininya dan mengejar Paijo melewati banyak orang di stasiun.
Paijo yang sedang menunjukkan tiket keberangkatan kepada petugas jaga memejamkan mata kala tangan putih bergelang mutiara pemberiannya melingkari perutnya.
“Bisa-bisanya aku suka sama orang nyebelin kayak kamu, Jon. Jancuuk kon. Punya istri cantik begini di sia-siakan.”
Omelan wanita bule yang blak-blakan itu membuat Paijo dan petugas jaga mengulum senyum.
“Kamu yang sabar aja, aku emang gini.”
Dengan kekuatan bulan dan bintang yang bersinar di langit malam, Michelle menabok pundak Paijo dengan mangkel.
“Pulang aja sana, jangan lupa SAPInya!!!!”
Didoronglah Paijo ke ruang tunggu peron stasiun hingga membuat pria itu terbahak-bahak.
__ADS_1
...----------------...