
Satu tahun kemudian.
Suara bayi terdengar menangis dari dalam kamar berpintu cat biru muda yang terbuka setengah. Patra Adimas Dwayne, bayi laki-laki yang menuruni sebagian warisan genetik dari keluarga Kusumonegoro menyita perhatian ibunya yang sedang mengadu bibirnya dengan bibir Paijo setelah masa nifas selesai.
“OMG, kemesraan kita cepat berlalu sweetie. Maaf ya.” Michelle menangkup kedua pipinya, sekilas ciuman nyaris setengah lusin ia berikan. “Sebentar ya, aku kasih asi dulu ke bayi kita yang mungil dan lucu itu.”
Paijo memegangi pangkal pahanya lalu mengusapnya perlahan.
“Sudah lama aku menantinya, Sel.” keluhnya dengan wajah muram. “Masa iya kembali seperti semula. Tanganku bisa kan?”
Michelle yang dilanda kadar feromon yang sama berkacak pinggang. “Ya sabar dong, anak kita lagi butuh juga sayang. Kamu nanti saja habis Patra bobok lagi.”
Paijo berlalu ke kamar mandi yang bergelimang pencahayaan sementara Michelle pergi ke kamar putranya. Mereka tinggal di apartemen Surabaya setelah melakukan aqiqah di Malang.
“Patra kenapa? Haus bandel, iya?” ucap Michelle seraya meraih putranya yang sangat membuatnya bahagia.
“Besok kita pergi ke Jogja, ke rumah eyang Kakung paling galak. Jadi jangan macam-macam sama dia ya.” ucapnya memberi tahu dengan ekspresi cengengesan.
Menjadi mantu Kusumonegoro, menghilangkan segala macam kesenangan duniawi nya. Ia sudah jarang mendatangi kelab malam dan party-party unfaedah. Hanya pada tubuh Paijo ia mencari kesenangan dan party keluarga, selebihnya mertuanya itu yang masih mengirim perhatian dengan memberi satu truk ramban dan damen untuk sapi-sapi mahar selalu mengingatkan lewat pesan, chating WhatsApp.
“Udah, sweetie?” tanya Michelle saat Paijo menghampirinya seraya mencium kening Patra.
“Udah dong, nggak lihat wajahku. Cemerlang.” seloroh Paijo sembari mengambil tas bayi putranya di atas lemari. Dengan teliti ia memasukan pakaian Patra sembari bersiul-siul.
“Setahun sudah aku meninggalkan Jogja untuk memujamu, Michelle. Kita lama di sana, setuju kamu?” tanyanya sambil menoleh.
Michelle yang sedang mengurut hidung Patra agar mancung sepertinya mengangguk. “Seminggu?”
“Seminggu. Dua Minggu.” sahut Paijo gemas. “Kangen bapak aku, Sel. Yo, mau yo...” desaknya dengan manja.
“Tapi janji lho ya, kamu harus pasang badan kalau bapak ngomel-ngomel. Dari kemarin chat aku ini harus di kasih asi eksklusif 6 bulan, jangan di sia-siakan waktu bersama Patra. Kerjaan suruh ngurangin... Di sayang-sayang itu Paijo walaupun tidak sesuai dengan isi dompet kamu!”
Paijo meringis sembari tetap menyiapkan baju ganti putranya seraya mengosongkan alat mandi anaknya di kamar mandi.
“Botol asi jangan lupa, tiket keretanya juga Sweetie. Yang ekslusif.”
“Siap bos.” Paijo mencium puncak kepalanya lalu mengusap punggung Michelle. “Terus istirahat kamu nanti, aku siapkan baju-baju kita di kamar.”
“Yang seksi satu.”
“Nggak susah lah, seperti biasanya gimana.”
“Udah lama nggak foreplay, kegenitan ini merajalela sweetie.”
“Iyo... Iyo... Wes gampang.” Paijo mencium lagi puncak kepalanya, ”Nanti tak pilihkan yang paling hot, keren, dan mantap.”
”Asik...” Michelle langsung tersenyum bahagia di tengah badannya yang masih teramat sangat sintal setelah melahirkan. Sementara Paijo tak tahu harus memberi ekspresi apa setelah mendengar keinginan Michelle untuk foreplay dengan badan seseksi itu.
Terserah wes, aku pasrah daripada ribut.
Dengan kesibukan sebagai orang tua baru, keduanya terus bekerja sama menumbuhkan rasa bahagia dan semangat gotong royong untuk membina hubungan baik di saat-saat terbaik dan terpenting mereka.
***
Jogjakarta, siang hari.
__ADS_1
Di jemput sang bapak yang menyewa mobil tetangga, Michelle menggendong Patra sambil menghirup udara stasiun kereta.
Apakah ini esensi pulang kampung yang sesungguhnya?
Sebagai orang biasa baru yang sedang mencicipi ribetnya bawa anak saat aktivitas kedatangan dan keberangkatan di stasiun, Paijo membiarkan sang istri melihat-lihat dan merasakan situasinya sambil kepayahan membawa barang-barang mereka yang seabrek. Satu koper besar, tas anak, tas tenteng Michelle yang harganya segambreng dan tasnya sendiri pun perlu di jaga ketat agar tak tertinggal.
“Yang kuat ya cantik, jangan sedih.” bisik Paijo.
“Aku kuat, dan bahagia sweetie. Tapi aku pegel, takut Patra nangis di sini.”
“Yang tenang makanya. Tinggal sebentar lagi.”
Michelle mengangguk dan saat ia berbalik, dia melihat suaminya sendiri mirip penjual tas. Dia tersenyum dan tak kuat lagi tertawa.
Udah susah-susah Icel bikin glowing dan growing up, kalo dasarnya memang wong ndeso asli tetap aja kelihatan ndeso-nya. Haha. Paijo... Paijo...
Dari tempat menunggu, Kusumonegoro melambaikan tangan seraya gegas mengambil cucunya dari Michelle ketimbang membantu Paijo membawa barang-barangnya.
Michelle tersenyum lega lalu merenggangkan otot-ototnya yang pegal.
“Makasih bapak Icel yang galaknya melebihi pak dokter.” selorohnya dengan iseng.
“Kamu nyetir... Masih ingat toh jalan rumah bapak?”
“Ya jelas dong pak, rumah bapak itu alamat yang aku cari-cari dengan alasan seribu akal. Jadi mana mungkin Icel lupa.”
Kusumonegoro lantas memandu mereka ke tempat parkir mobil sebelum mereka pulang, menikmati keindahan desa dengan suka cita.
...*******...
“Sekeren-kerennya kita jadi polisi, enak juga pacaran seperti ini.” ucap komandan Wisnu yang berhasil mendapatkan hati Puspita meski dalam waktu yang cukup lama.
Puspita mencolek cat di wadah seraya menoel pipi komandannya.
“Memangnya mentang-mentang polisi terus pacarannya cuma di kantor gitu? Idih tua banget pikiranmu mas.”
Komandan Wisnu tersenyum hangat. Lunak sudah hati Puspita Dewi yang keruh karena Paijo yang kini sedang memandangi tubuh molek sang istri di kamarnya yang sempit.
“Tidak begitu juga, tapi ini yang pertama to buat kita. Jadi kalau bisa dan sebelum malu di tonton orang. Besok-besok kayaknya kita perlu bawa anak kita ke sini. Mau kamu nikah sama aku, Pita?” tanya komandan Wisnu sambil menatap Puspita yang sedang menuntaskan warna background jerapah.
Puspita menaruh kuas di atas wadah cat seraya menghela napas.
“Mas tahu rasanya sudah pernah gagal bertunangan?”
“Tidak dan tidak akan pernah aku menggagalkan pertunanganku denganmu.”
“Kalau gitu sudah tau jawabannya?” Puspita tersenyum saat pasangannya mengepalkan tangan dan beryes dengan semangat.
“Sekarang aku antar kamu pulang dan besok aku datang ke rumahmu bawa orang tuaku.”
Komandan berdiri seraya mengulurkan tangannya membantu Puspita berdiri. Mereka tersenyum sambil meninggalkan alun-alun kidul dengan harapan baru dan tersenyum lega tanpa meninggalkan lukisan anak jerapah mereka.
Esok harinya, pada pukul tiga sore, Michelle dan Paijo yang baru menyempatkan diri muter-muter kota menggunakan motor memergoki komandan Wisnu dan Puspita yang baru mengisi bensin di warung kelontong dekat Polsek.
”Cie.... Apel terus...” seru Michelle diiringi suara klakson motor Paijo yang melintasi mereka sembari meliukkan motornya.
__ADS_1
Puspita dan komandan Wisnu berseru. “Kami tangkap kalian atas tindakan tidak menyenangkan dan membuat kegaduhan!”
Michelle tertawa seraya memutar tubuhnya sekilas. “Ikut kami!” teriaknya sembari melambaikan tangan.
Puspita naik ke atas motor setelah komandan Wisnu menggeber motornya dengan sikap seperti pembalap.
“Ayo kita kejar mereka, Pita. Masih kurang kerjaan ternyata.”
Puspita tertawa seraya memeluknya. Dengan cepat komandan Wisnu menyusul Paijo yang memelankan laju motornya.
Paijo menatap pelukan Puspita di pinggang Wisnu seraya tersenyum lega. Akhirnya.
“Dari mana kalian, mau ke mana?” tanya Michelle.
“Dari kerja mau pulang.” jawab Puspita.
“Nggak usah pulang, kita ke pantai aja yuk. Ke pantai pandansari. Nunggu senja sambil pacaran.”
Puspita membatin, pantai penuh kenangan dan luka. Tapi lembaran baru ini sudah cukup membuat jejak-jejak kenangan itu musnah terbawa ombak ke laut selatan.
”Mau ke sana, Mas?”
“Boleh saja.”
Paijo melempar tatapannya ke komandan Wisnu di perempatan jalan ketika lampu merah menyala. Tanpa perlu mereka bicarakan apa maksudnya, tangan kanan keduanya mencengkeram erat gas motor dan menggebernya sekuat tenaga. Keduanya balapan dengan pasangan yang memeluk mereka erat-erat sambil tertawa-tawa.
“Dia sudah bahagia, sweetie.” ucap Michelle.
Paijo menganggukkan kepalanya yang terbungkus helm biru. ”Akhirnya kita juga bisa hidup lebih bahagia lagi. Efek kesalahan kita selesai hari ini.”
Michelle mengeratkan pelukannya hingga mereka tiba di pantai. Semilir angin yang berhembus kencang mengugurkan daun cemara laut di saat kedua pasangan itu sedang duduk-duduk sambil berfoto-foto.
“Kalian mau nikah kapan?” tanya Michelle mengingat sudah lama waktu berlalu dan keduanya masih bersama.
“Baru mau di bicarakan.” Puspita menyunggingkan senyum. “Mau datang kamu?”
“Kalau bojoku mau, aku pasti mau.”
Paijo yang sedang membagikan rokoknya ke komandan Wisnu mendengus. ”Malas aku ketemu pak Bakri, dia pasti membahas luka lama!”
Puspita tertawa pelan lalu menggandeng tangan pacarnya. “Pacaran sendiri-sendiri ya, nggak usah bareng-bareng. Selamat tinggal Paijo, Michelle.”
Komandan Wisnu menyalakan rokoknya seraya mengangkat tangannya. “Sampai ketemu lagi di lain hari! Terima kasih.”
Paijo merangkulkan tangannya di pundak Michelle seraya mengangguk. Keduanya berjalan ke arah yang berbeda dengan percakapan yang berbeda pula, meski pada ujungnya menikmati panorama yang sama. Matahari terbenam di kaki langit, di pinggir pantai yang sepi.
Paijo mencium kening Michelle. Lalu merebahkan diri di atas pasir.
“Saat bertemu kamu semua terasa realistis dan dramatis. Tetapi inilah kehidupan! Ada banyak pilihan dan semuanya slalu diiringi dua persoalan itu. Realistis dan dramatis.”
...----------------...
...Saat Bertemu Kamu ( Romantic Scandal ) Selesai....
Skavivi mengucapkan banyak terimakasih kepada teman-teman yang sudah membaca kisah ini sampai akhir. Sehat, bahagia, slalu dicukupkan segala kehidupan. Jangan lupa mampir di cerita skavivi yang baru dengan judul “Pernikahan Indah Tak Sempurna”
__ADS_1
^^^💚🙏^^^