Saat Bertemu Kamu (Romantic Scandal)

Saat Bertemu Kamu (Romantic Scandal)
Sepetak Sawah


__ADS_3

Paijo melirik kertas di tangannya, lalu kepada Prambudi yang duduk di depannya, matanya menyipit melawan matahari pagi di bawah langit Surabaya yang cerah sekali.


Rombongan keluarga Prambudi Dwayne sudah berada emperan toko jalan raya Gubeng no.66, bubur ayam spensix ‘Bang Salim’.


Ruang terbuka itu membebaskan mereka untuk memilih duduk di lesehan alas tikar atau di kursi kayu.


“Bubur ayam ati ampela aja, Pak. Sama teh hangat.” pungkas Paijo, dia sangat lapar dan merasa kasian pada dirinya sendiri yang harus mengikuti keluarga konglomerat namun setengah waras itu dengan percaya diri.


“Pak? You call my husband, Pak?” sahut Marisa, dia menangkap lengan Prambudi lalu menatapnya geli.


“Kau mau punya anak mantu lagi rupanya, Mas. OMG, produk Jogja lagi."


Marisa berdecak-decak kagum sementara di hadapannya Paijo menghela napas perlahan, dengan rikuh ia merangkul pundak Michelle yang duduk di sampingnya.


Di bawah naungan pepohonan rindang, dan suara kendaraan yang berlalu lalang, sekilas kecemasan melintas di wajah Paijo. Perutnya tegang karena gelisah dan lapar. Namun pucuk di cinta kesempatan pun tiba.


“Tentu saja kalau Tante dan om setuju kami menikah.” ucap Paijo tiba-tiba hingga membuat bibir Michelle yang mengunyah sate telur puyuh ternganga.


Kepalanya menoleh ke arah Paijo perlahan-lahan. Michelle speechless dengan ucapan Paijo yang luar biasa berani dan mengejutkannya.


Alis Marisa terangkat. “Memangnya Paijo bersedia membahagiakan Michelle dan memaklumi kondisinya yang manja dan tidak bisa beres-beres rumah seperti kebanyakan wanita lainnya?”


“Saya bersedia.” Paijo mengangguk lugas, urusan gampang beres-beres rumah. Yang nggak mudah itu cuma jadi orang kaya seperti kalian.


“Tapi tidak semudah itu Paijo...” Marisa menegakkan tubuhnya lalu memanggil Reno yang duduk di lesehan bersama Dominic dan neneknya. Sementara di sisi lain, Rastanty menggendong Budiman yang di kelilingi wanita-wanita yang gemas pada putranya.

__ADS_1


“Ada apa, Ma?” tanya Reno setelah mendekat dengan membawa kursi plastik untuk tempat duduknya.


“Paijo ingin menikahi Michelle, bagaimana denganmu sebagai kakak yang belum menikah?”


“Memangnya mama setuju Michelle nikah sama Paijo? P-a-i-j-o, that so, ndeso...”


Michelle spontan menginjak kaki kakaknya. “Ngomong ndeso sekali lagi aku marah!”


“Ndeso... ndeso... ndeso... Paijo ndeso...”


Bukannya marah betulan Michelle justru terbahak sambil menepuk-nepuki lengan kakaknya.


“Jangan kayak gitu toh... Jangan memperjelas! Mbok bohong aja gitu, Paijo kuto, Paijo kuto.” ( Kuto : kota ) ucap Michelle sembari merengek.


Sebagai pria yang sedang di bahas-bahas kakak beradik yang berdebat secara blak-blakan mengenai dirinya Paijo hanya bisa memasang senyum pemandu acara-nya lagi sampai Marisa dan Prambudi yang melihatnya perlu melerai anak mereka.


Marisa menyandarkan kepalanya di bahu Prambudi yang ngemil kerupuk dengan santai. Penampilannya pun hanya menggunakan celana selutut dan kaos oblong berlabel buaya seperti anak-anaknya.


Prambudi mengulurkan sisa kerupuk di plastiknya untuk Paijo. Dengan santai Paijo melahap satu kerupuk itu sembari menatap waiters yang mengantar bubur pesanan mereka.


Sementara bubur sedang di sajikan, Marisa kembali serius. Ia menatap Reno yang bersiul menggoda waiters bertubuh mungil di sisinya.


“Kau harus cari bule seperti mama, murni.” Marisa mengetuk meja seperti seorang hakim. Tanda sudah di sahkan peraturan untuk Reno. Sementara untuk Paijo, Marisa perlu melihat kedua mata pria itu lalu kegenitan putrinya yang mendamba sebaik-baiknya pria Jogja itu.


“PNS, juragan sawah, cum laude, sudah piatu. Mama bisa menjadi ibu mertuamu asalkan maharnya satu petak sawah dan sepuluh ekor sapi. Jangan lupa pasangannya.”

__ADS_1


Semua kepala langsung tertuju pada Marisa yang bersedekap dengan wajah angkuh yang di buat-buat.


“Sapi sepuluh dan pasangannya buat apa, Ma? Ternak?” tanya Michelle heran.


“Yup... Nanti mama bisa pamer maharnya 20 ekor sapi. Keren.”


Michelle menoleh ke arah Paijo yang melongo mendengarnya.


“Gimana, Jon? Kamu sanggup kasih mahar itu buat Icel, buat hidup tenang masa aku?” Dalam suara Michelle terdengar harapan yang tinggi dan kekhawatiran yang berlebihan, suaranya tidak tenang. Takut Paijo tak sanggup memberikan mahar sebesar itu. Beban mendadak membesar di jantung hati Michelle.


Paijo membasahi bibirnya seraya berdehem. Dia membetulkan posisi duduknya yang mendadak di penuhi paku yang menusuk tulang.


“Tapi Tante memberi restu pada kami untuk menikah?” tanya Paijo dengan suara yang dipenuhi kegugupan dan keyakinan. Hari ini ditentukan nasibnya sendiri maju ke babak final liga pertarungan nasib rumah tangganya atau tidak.


Marisa menatap Prambudi seakan meminta persetujuan.


Prambudi menyeruput teh hangatnya sembari menatap keluarganya satu persatu. Semua tampak berbeda, menyukai kegemaran yang berbeda-beda pula.


“Tidak sempurna itu soal biasa dan banyak cara untuk menyempurnakan diri dan hidup selaras dengan keadaan kami atau kamu. Dan menyita kebahagiaan Michelle bukan keinginan bapak atau Marisa. Semua kami serahkan pada Paijo sanggup tidak memenuhi syarat dari kami.”


Bahu Paijo terhempas ke kursi rotan. Dia menengadahkan telapak tangannya, meminta Michelle untuk menggenggamnya dengan anggukan kepala saat istrinya yang terpukau bertanya untuk apa begitu?


“It's oke, isn't over.” ucap Paijo yang langsung mendapat pelukan spontan dari Michelle.


“Aku usahakan, walaupun harus jual sawah atau hutang.” bisiknya yang membuat Michelle tetap bahagia dalam pelukannya.

__ADS_1


...----------------...


__ADS_2