
Tiga bulan setelah party after wedding, Bali.
Menggunakan sedan merah yang Paijo dapatkan dari door prize akal-akalan Michelle saat acara party after wedding ia pulang kampung halaman dengan istri yang menuntut banyak perubahan dalam penampilan setelah menjadi anggota eksklusif Prambudi Dwayne.
Memang tidak ada perubahan yang signifikan dari Paijo yang pegawai kelurahan dan jajaran keluarga konglomerat itu. Celananya masih ngampret full body, kemejanya masih suka model polosan, sepatunya pun masih pantofel. Bedanya hanya di mereknya saja. Dari lokal pride ke brand internasional.
“Mau ke kontrakan atau ke rumah bapak, Sel?” tanya Paijo saat berhenti di perempatan jalan.
“Itu rumah kita, sweetie. Icel beli.”
“Oooh.... jadi bohong kamu kemarin? Iyo...”
“Iyolah, mosok ora.” ( Iyalah, masak enggak ) Michelle meringis sembari membelai lengan suaminya.
“Kita ke kontrakan saja. Ambil barang-barang berharga terus kita open kontrak deh. Biar bapak yang urus. Tapi mau nggak ea...” ucap Michelle sembari mengetuk-ngetuk dagunya dengan ibu jari.
“Mending kita ke rumah bapak dululah, aku kangen kamarku dan ularku.”
“Halah, kamarmu mambu. Ularmu iteng.” seloroh Michelle seraya menutup wajahnya saat Paijo memegangi sabuk celananya.
“Iteng-iteng ngene tiap hari mbok cari we.” (Hitam-hitam begini setiap hari kamu cari kan )
Michelle tergelak seraya tersenyum aneh sembari menatap pemandangan sekeliling. Mereka sedang berada di perempatan titik 0 kilometer Yogyakarta yang terletak di pusat kota gudeg itu.
“Ke Jogja lagi aku jadi ingat Puspita, sweetie. Dia apa kabar ya?”
__ADS_1
Paijo memalingkan wajah sembari menghela napas. Bohong jika ia tidak memikirkan nasib Puspita setelah putus dengannya. Terpikirkan dalam benaknya apakah Puspita sulit melanjutkan hidupnya setelah patah hati. Ataukah ia telah membuka hati. Diam-diam Paijo pun menanyakan kabarnya dalam hati.
“Sweetie, kamu udah nggak kontak sama dia? Apa geng polisinya?”
“Nomernya sudah aku blokir setelah keluar dari kelurahan.”
“Aaah... padahal Icel pingin ketemu dia. Mau minta maaf.”
“Ntar ketemu cemburu, nggak usah cari gara-garalah... Cewek kok sukanya banyak kerjaan.” rutuk Paijo seraya melajukan mobilnya.
Michelle meringis, dia menikmati pemandangan pusat kota sambil melihat-lihat suasana sore tempat yang di kelilingi sejarah budaya dan perjuangan itu.
“Tapi sungguh, Paijo. Icel mau minta maaf sama dia. Tulus.”
Michelle memanyunkan bibirnya. “Nggak setuju ya?”
“Bikin surat aja, nanti aku sampaikan.” pungkas Paijo untuk menghindari kesalahpahaman yang tambah pelik. Tetapi setelah melihat betapa kecewanya wajah sang istri, Paijo tetap membiarkannya sementara waktu sampai di rumah bapaknya.
Paijo membuka pintu mobil seraya mengulurkan tangannya untuk menyambut istrinya. Tetapi Michelle tetap bergeming.
“Sabar sek to, aku perlu cari informasi dia masih di Polsek atau tugas negara.” jelas Paijo yang menyita mata Michelle untuk meliriknya.
“Sungguh? Hatiku tidak tenang setelah pulang ke Jogja gara-gara menyakitinya.” katanya sedih. “Sweetie, aku perlu sekali minta maaf sama dia.”
Rewel.
__ADS_1
Paijo mengiyakan dengan anggukan meski dalam hati enggan sekali merelakan Puspita bertemu Michelle tapi jawaban Paijo yang di tunggu-tunggu istrinya yang nampak murung itu membuatnya keluar mobil dengan senyum lega.
Kusumonegoro keluar dari rumah lalu menyuruh mereka langsung masuk ke rumah daripada menjadi tontonan tetangga.
Michelle mencium punggung tangannya lalu merenggangkan otot-ototnya yang kaku setelah melewati perjalanan panjang.
“Berhubung kamu sudah datang, bapak langsung kasih kerjaan.” ucap Kusumonegoro.
Paijo menghela napas, lalu menghirup aroma rumahnya yang sedang beraroma tahu goreng. Adiknya sedang masak.
“Baru datang lho pak, ini langsung di jamu kerjaan.” keluh Paijo.
“Acara ngunduh mantu besok bapak jadi nanggap Jathilan. Sudah boking, kamu cari surat izin keramaian biasa di kepolisian!”
”Yeyy...” sorak Michelle yang mengagetkan Kusumonegoro bahkan Paijo sendiri yang rebahan di tikar. “Icel ikutan ya, Jon...”
Kusumonegoro berdehem-dehem.
“Icel ikut ya mas, sweetie, baby.”
Paijo mendengus lalu menutup wajahnya dengan lengan.
Michelle meringis sembari menatap Kusumonegoro yang menduga telah terjadi sesuatu pada kedua anaknya. Tapi dia bodo amat, sebab nanti malam mulai ada rewang yang akan di gelar di bedeng belakang rumah dan pemasangan tenda pengantin di halaman rumahnya besok pagi. Tidak mau ia buang-buang waktu hanya untuk menggubris mantunya yang tampak mulai gelisah itu.
...----------------...
__ADS_1