Saat Bertemu Kamu (Romantic Scandal)

Saat Bertemu Kamu (Romantic Scandal)
Haduh.


__ADS_3

Michelle dan Paijo nyengir bagai melihat gabungan antara komedi dan keseriusan yang sedang terjadi di depan mereka.


Marisa mengagumi keduanya dengan mata berseri-seri serupa menonton lukisan masterpiece dari penulis terkenal di museum seni.


Prambudi bersedekap sambil menjurengkan mata. Pikirnya mengembara memikirkan nasib putrinya kelak.


Di sisi lain, Kusumonegoro sibuk membelah kue tart coklat dan membagikan untuk keluarganya sebagai camilan nonton bareng pasangan itu dengan piring kertas di temani garpu plastik yang sudah di siapkan besannya.


“Ayo... Ayo di makan dulu, ndak luwe, bestie.” ucapnya sambil memotong kue tart paling besar dan membawanya ke depan televisi. Rupanya Kusumonegoro enggan seperti besannya yang berada di garis terdepan dalam meneror keharmonisan pengantin baru. Enggak ilok pikirnya, tapi bagi Marisa yang pandai merayu alangkah mudahnya memberi sekali-kali rayuan yang menggila dengan kalimat telak, ”nggak papa kali pak Kus, tidak berdosa kok. Hanya silahturahmi saja.”


Berhubung Kusumonegoro mewarisi ketidakmampuan menolak dan menggerutu terang-terangan dia setuju mengikuti kegilaan besannya hingga ia hanya bisa memutar bola mata berulang kali saat obrolan akhirnya terjadi.


Michelle menutup wajahnya dengan kedua tangan.


“Ajak mama pulang deh, Pa. Michelle sebel ih, kalian ganggu!”


“Betul kami mengganggu, Jo?” tanya Prambudi.


Paijo yang terkena manuver dari Prambudi tersentak samar seraya meringis semakin lebar.


Asem tenan. Baru jadi mantu resmi sehari sudah harus bersilat lidah.


Paijo menggeleng samar sambil berdecak gemas. “Enggaklah, Pak. Kita cuma lagi nyantai aja sambil nunggu waktu senja.”


“Memang ada apa waktu senja?” desak Prambudi.


“Matahari tenggelam, papa.” jawab Michelle. “Romantis.”

__ADS_1


“Bukannya waktu senja itu waktu hantu gentayangan, Jon?” sahut Kusumonegoro yang mengambil atensi semua orang dengan lirikan mata tajam.


Paijo mendengus dalam hati. Ndadak melu-melu, Pak. ( Tiba-tiba ikut-ikutan, Pak. )


Sementara Michelle melotot takjub. Jawab yang normal, Jon. Jawab yang rasional. Harapnya dalam hati sambil merangkul lengan Paijo. Lagi pula kenapa juga Paijo membahas waktu senja? Tidak ada alasan lain yang lebih romantis gitu?


“Yoo kalau mau melewati waktu senja cari tempat to, Pak. Nggak juga to mau romantis-romantisan di kuburan apalagi dengan maksud nungguin hantu gentayangan.” kata Paijo dengan nada senormal mungkin.


“Lalu definisi romantis menurut kalian ini apa, Sel?” serang Prambudi.


Michelle yang ganti mendapatkan serangan pertanyaan itu mangap meski bingung mengucapkan kalimat apa.


“Kok Icel, Pa?” protesnya kemudian.


Prambudi bersedekap sembari menghela napas. “Kamu sendiri tadi yang bilang romantis. Lupa?”


“Lupa-lupa ingat, soalnya Icel hanya ingat Paijo seorang.” ucapnya dengan ceria.


Hari ini tiba juga... princess papa mulai pindah ke lain hati. Baguslah, tanggung jawab lepas. Slamet-slamet. Lega, cukk.


“Sudah hitam, manis lagi. Mirip kecap papa, enak banget. Yummy...” puji Michelle dengan wajah berseri-seri.


Para pria langsung mengarahkan tatapannya ke arah Paijo dengan ekspresi jijayy... Paijo sendiri menyunggingkan senyum dengan terpaksa.


Entahlah ia harus bagaimana, kikuk iya, panik iya, sulit bernapas juga iya, bahkan rasanya bergerak pun seperti di awasi semua mata.


Paijo meringis. “Maap yoo.” ucapnya gugup.

__ADS_1


“Untung cuma Michelle yang tergila-gila padamu, Jon. Aku gitu wegah walaupun kamu mirip kecap.” sembur Dominic.


Dan sebagai superstar dadakan, Paijo dan Michelle iya-iya saja ditengah gempuran tatapan Marisa yang menelisik.


“Bagaimana semburannya, baby?”


“Semburan apa, Ma? Air shower?”


Marisa menatap suaminya, sorot matanya bertanya. Mungkinkah putrinya tidak paham semburan apa yang dia maksud.


“Semburan itu sayang... Itu...” Marisa mengedip-edipkan mata.


“Cookies tahu?” tanya Michelle dengan muka polos ke Paijo.


Paijo kontan menggeleng sambil memundurkan tubuhnya.


Belum di sembur di luar mbok, belum tahu dia.


Marisa menelengkan kepala, menyipit mata ke Paijo.


“Yakin tidak tahu? Ih, masa sih... Mama tidak percaya.”


“Di dalam, Mbok.” ucap Paijo malu.


Gubrak... Sengaja Kusumonegoro menjatuhkan kursi di sampingnya sampai atensi pada putranya pindah ke padanya.


”Maaf lho yo kesenggol. Sok... Sok... Di lanjutkan.” ucap Kusumonegoro sembari membetulkan kursinya. Dia meringis seraya kembali menonton televisi.

__ADS_1


Paijo menghela napas lega. Sementara Michelle masih berlagak plonga-plongo sambil menyandarkan kepalanya di bahu Paijo. Dia mengedip-edipkan matanya ke arah bapaknya. Prambudi memanyunkan bibirnya. Males. Punya cucu lagi, blesteran Jogja lagi, pesta lagi, keluar uang lagi. Uohh... Dia harus mengeluarkan taringnya untuk mengigit para investor dan klien agar semakin banyak uang yang mengalir ke kantong keturunannya.


...----------------...


__ADS_2