Saat Bertemu Kamu (Romantic Scandal)

Saat Bertemu Kamu (Romantic Scandal)
Jewer terus


__ADS_3

Komandan Wisnu menatap Puspita yang sedang melamun di tempatnya bekerja setelah Paijo dan Michelle pergi.


“Kepikiran kangmas prabu Paijo, Pita?” tanya langsung sambil mengulurkan secangkir kopi susu.


“Kangmas prabu Paijo? Aneh banget.” protes Puspita sembari menyandarkan tubuhnya di sandaran kursi.


“Besok aku tidak ikut acara pengaman acara Jathilan itu. Komandan sudah mengerti alasannya!”


“Urusan itu aku mengerti. Tapi kamu yakin bahwa mereka tidak akan ke sini lagi? Aku melihat kesungguhan di mata wanita itu.”


”Oh udah lihat-lihat ke dalam matanya Michelle? Semua cowok sama ya, ada yang bening dikit langsung gerak cepat.”


Komandan Wisnu menghela napas. “Semua juga bakal tertuju pada dia, Pita. Realitanya memang wanita itu bening. Dalam hati kamu juga pasti mengagumi diam-diam istri Paijo tadi.”


Puspita mengangguk dengan pasrah. “Memang cantik dan dia menyukai Paijo dengan tulus.”


Komandan Wisnu tersenyum sembari menyelipkan pulpen ke saku baju dinasnya.


“Itu artinya kamu sudah harus memikirkan bagaimana menyenangkan dirimu dan hatimu. Paijo sudah melupakanmu secepat rudal luar negeri.”


Puspita melipat kedua tangannya seraya mengingat lagi batalnya pertunangannya dengan Paijo menjadi hari paling di sukai orang tuanya. Kendati demikian dari relung hatinya paling dalam masih belum ikhlas dia melanjutkan perjalanan cintanya dengan seseorang yang baru.


Puspita tersenyum kecil. “Yah, komandan... Apa boleh buat Paijo memang menyukai wanita yang bisa di manja-manja dan memanjakan sementara saya bawanya pistol.”


“Tapi aku suka.”


Tak cuma komandan Wisnu yang membelalakkan mata, Puspita pun sama sampai rekan kerja di sebelahnya, di sebelahnya lagi dan lagi semua tertuju pada komandan Wisnu.


“Komandan Wisnu suka sama Puspita guys, ada yang menyatakan perasaan ini. Bahaya... Bahaya siapa lima, Pus... Tembakan tak kasat mata akan menyerang jantung hati kamu.” seru Bripka Miska.


Puspita meraih secangkir kopi buatan komandan seraya berdiri.


“Sepertinya komandan sudah tau jawabannya.”


“Memangnya aku memberi pertanyaan apa, Pita?” ucap komandan Wisnu langsung.


Puspita berhenti melangkah sembari menolehkan kepala, ia menatap komandan Wisnu seraya tersenyum lebar.


“Tapi komandan sudah tahu maksudnya bukan?”


Bahu komandan Wisnu merosot tapi itu hanya sebentar, Puspita masih berada di jangkauannya dan masih banyak lagi tugas negara yang bisa di lakukan bersama. Masih banyak jalan menuju jatuh cinta bersama.


Komandan Wisnu mengangguk. “Santai, Pus. Aku pasti tunggu hatimu sembuh dan siap tak tembak pakai senapan mulutku dan kata-kata.”


Puspita melengos pergi seraya tersenyum lebar ketika menaiki anak tangga dan berhenti di depan meja panjang.


“Waktu dari Papua komandan bahkan sudah menunjukkan gejalanya. Dasar, berani juga bilangnya.”

__ADS_1


...***...


Keesokan harinya. Acara ngunduh mantu yang terlaksana pada hari Sabtu sukses besar. Keluarga Michelle yang datang dari Malang menerima jamuan dan sambutan dari keluarga besar Paijo dengan senang hati dan lapang dada.


Kesederhanaan keluarga itu menyita atensi Marisa yang pertama kali mengerti kehidupan asli Paijo dan Kusumonegoro yang kemarin waktu di Malang dan Bali tampak tidak suka-suka banget mengikuti acara itu, sedikit banyak dia mulai mengerti jika besan-besannya memang tidak menyukai kemeriahan namun sanggup mengusahakan pesta pernikahan yang indah di ingat dan enak di rasa.


“Apa kita harus merakyat juga, Pa?” tanya Marisa sambil mengaduk cendol dawet di gelasnya.


“Untuk setara dengan besan-besan tidak perlu merakyat juga mama, cukup rendah hati. Camkan itu.”


“Iya... Jadi kita ngirit dong, aduh, tabungan mama pasti meledek ini.” Marisa nampak bahagia tapi juga bingung sendiri akibatnya.


Uang banyak, pengeluaran tidak... Tambah kaya ini.


Prambudi mengangguk sambil menunggu giliran memakai kostum Jathilan sambil menyantap singkong goreng yang gurihnya bikin dia lupa daratan. Mulut bapak itu terus mengunyah sampai Marisa penasaran dengan rasanya. Dia mencomot singkong terakhir.


“Di mana Paijo menemukan makanan ini?” katanya kemudian.


Prambudi membuka penutup gelas sebelum meneguk teh hangatnya.


“Singkongnya panen dari sawah, bukan nemu mama. Terus di rebus pakai sedikit garam, sebelum di goreng di beri mentega. Enak.” Prambudi merenggangkan otot-otot lengannya sebelum berdiri.


“Mama mau touch up make up sendiri apa di make up perias?”


Marisa menyeruput es cendol dawetnya sampai pipinya kempot.


Prambudi cuma meringis lebar lalu mengambil giliran berganti kostum. Di lain tempat yang sedang meriah-meriahnya, Michelle dan Paijo sudah rapi jali dengan kostum seorang putri dan pangeran Jawa yang akan menyaksikan pesta Jathilan itu di singgasana pelaminannya.


Michelle berpose di depan Paijo, “Gimana sweetie? Aku terlihat cantik tidak?”


“Cantik banget, lebih cantik dari ibumu dan kakak iparmu.”


“Lambemu, Jon. Mentang-mentang muji istri terus bawa-bawa Rastanty segala.” seru Dominic tidak terima. “Istriku ini istriku yang cantik sekali!”


Paijo meringis seraya mengisap rokoknya. “Kalau aku bilang Rastanty cantik nanti kamu yang cemburu. Aku kudu piye jal?”


“Bola-bali Paijo mas, di ajak serius, bercanda, di ajak bercanda, serius. Cuma Icel yang mau pusing-pusing ngurus dia.” timpal Rastanty.


Michelle sendiri langsung dengan bangga menganggukkan kepala.


”Icel adalah wanita yang pantang menyerah. Tapi apa mungkin sekarang ini Puspita bakal datang, Jon?”


Paijo mengendikkan bahu. “Nggak datang ke sini besok kita datangi rumahnya atau kantornya. Nggak usah pusing.”


“Bener ya... Sebelum kita balik ke Malang, maaf Puspita harus ada di genggaman tangan.”


Paijo berdehem sembari menjangkau tangan Michelle dan mencium punggung tangannya.

__ADS_1


”Pokoknya apapun keinginanmu selagi itu bisa aku turuti akan aku laksanakan.” janji Paijo yang membuat Michelle bahagia sampai pria itu mendapatkan beberapa ciuman di pipi.


Dominic dan Rastanty terdiam sambil melempar lirikan tajam.


”Raja dan ratu Jathilan mending keluar aja sana, duduk-duduk santai di singgasana sambil menonton rakyat yang menonton acara.” ucap Dominic geli.


Michelle mengiyakan dengan menggandeng tangan Paijo, “Kita pantau Puspita datang tidak.”


“Kalau tidak?” tanya Paijo sambil sejenak menoleh.


Michelle mengedarkan pandangannya ke sekeliling rumah Paijo yang menjadi tempat absen para polisi jaga, preman kampung yang menjadi penjaga tambahan acara heboh nanti.


“Baru preman-preman doang ini. Padahal di sawah sudah ramai. Telepon Komandan Wisnu, sweetie.”


Betul, acara Jathilan di adakan di sawah yang habis mengalami masa panen kacang tanah. Bisa di bayangkan serunya pesta ngunduh mantu keluarga Paijo?


Paijo menghubungi komandan Wisnu setelah terjadi pertukaran informasi mengenai Puspita kemarin.


“Segera datang ke lokasi komandan.”


“Siap, laksanakan! Kami sedang dalam proses.”


Baru juga sepuluh menit Paijo mematikan sambungan teleponnya, empat motor dinas polisi tipe KLX berhenti di halaman rumahnya. Satu di antara mereka, ada Puspita yang memboncengkan komandan Wisnu.


Michelle bersorak seraya melambaikan tangannya. ”Kamu datang? Ikut jaga acara kita? Aaa... Puspita, hati kamu baik banget.”


Puspita menyunggingkan senyum seraya memberi hormat pada tuan rumah.


“Saya hanya melakukan tugas sebagai pengayom masyarakat.”


Paijo melirik mantan tunangannya yang nampak melihat rumahnya sekilas sebelum mengikuti komandannya menandatangani absensi kehadiran lalu menerima teh hangat dan snack box.


Moga-moga aja kamu nggak ingat yang sudah-sudah, Pus. Komandanmu udah kebelet dari lama pingin nikung kamu dari aku.


Puspita menangkap tatapan Paijo seraya melemparinya cabai hijau.


“Michelle, suamimu lirik-lirik aku!” serunya cepat.


Michelle yang baru berfoto-foto dengan gengnya Puspita mendengus seraya menjewer telinga Paijo.


“Matamu di kondisikan, Jon.”


“Iyo, sayang. Nggak sengaja lihat kok.”


“Halah, bohong itu dik, bohong. Paijo lihat-lihat Puspita sambil batin, kasian mantanku.” timpal Dominic yang membuat Paijo menerima jeweran lagi.


...----------------...

__ADS_1


__ADS_2