
“Cookies...” Michelle menusuk-nusuk punggung Paijo dengan jari telunjuknya saat pria itu rebahan tapi membelakanginya.
“Sayang... belum bobok kan?” bisik Michelle sambil mendekap tubuhnya. Napasnya yang harum tersebar sampai ke wajah Paijo.
Pria itu cuma berdehem, dia mangkel harus menggunakan baju tidur satin dengan celana pendek atas lutut yang terasa asing di kulitnya, bahkan warnanya yang biru langit membuat suasana hatinya ambyar.
Gara-gara mertua aku harus pake baju beginian. Risi...
“Makasih ya buat sapinya, Icel pikir kamu butuh waktu lama.”
“Bisa nggak bahas sapinya udah, Sel. Aku enek sapi terus... sapi terus.” ucap Paijo sedikit ngegas. Hari-harinya sudah di isi tentang sapi, mimpi pun isinya sapi-sapi... Sekarang kalau bahas sapi lagi, muntah dia.
Michelle mencium ceruk lehernya. “Kenapa? Kamu mumet ngurus mereka?”
“Muak aku, Sel. Dua Minggu aku cari sapi sejoli sampai Purworejo dan Klaten. Belum ngarit cari ramban, jadi sekarang plis nggak usah bahas sapi!”
“Iya deh.. nggak usah bahas sapi, bahas kita aja gimana? Aku kangen.” Michelle semakin mendekap Paijo sampai pria itu susah menarik napasnya.
“Santai, bentar lagi juga bareng-bareng terus.”
“Putri mau kan nemenin bapak di rumah?” Michelle melonggarkan pelukannya lalu menatap langit-langit kamarnya yang menggunakan lampu kristal untuk penerangan. Tiga lemari kaca menyimpan pelbagai tas koleksi, sepatu dan pakaiannya.
“Aku sebenarnya bisa mindahin tempat kerja sama pabrik di Jogja, tapi nggak bisa cepat.”
“Bapak cuma minta waktu tua nanti ada yang nemenin, sekarang masih sehat, masih bisa marah-marah, masih kerja juga wong sebagian harinya ada di Keraton. Jadi nggak usah di pikirin sekarang.” ucap Paijo setelah berbalik menatapnya.
“Kamu mikir fashion show besok aja.”
“Aku mikirin kamu, Jon. Makin ngeri aja kulitmu.” Michelle memanyunkan bibirnya sambil melepas satu persatu kancing baju tidurnya. “Main yuk.”
Paijo menatap Michelle sembari tersenyum kecut. “Aku capek. Besok aja yo...”
“Besok sibuk ikut mama cari baju pengantin. Sekarang aja, nggak tahan.” Michelle menatapnya dengan mata penuh binar harapan.
“Kamu kan tahu Jon, kita nggak boleh meninggikan sesuatu kecuali doa dan pengharapan. Harapanku cuma kamu dan doaku bisa bahagia sama kamu, keluargamu, keluargaku, karyawan-karyawanku... sapi-sapi itu dan calon anak-anak kita nanti...”
__ADS_1
Paijo tersenyum, namun selagi Michelle mencerocos banyak hal tentang doa dan harapannya yang masih panjang satu persatu kaki Paijo turun ke lantai.
Dia menyeringai lalu pergi ke arah pintu kamar. “Cari angin dulu ya, beb. Bye... Bye...”
Selagi Paijo memutar kunci, Michelle menjerit sambil melemparinya banyak.
“Cookies, sini kon!”
Paijo tertawa tanpa suara sembari keluar dari kamar.
“Khayalan tingkat tinggi, sulit untuk di realisasi.” gumamnya sembari mengancingkan kancing baju tidurnya.
“Mau ke mana, Jon?” tanya Dominic yang menimang-nimang Budiman di lantai dasar saat Paijo menuruni anak tangga.
“Cari angin. Sumpek aku di kekep adikmu terus.”
Dominic menyaksikan baju tidur sahabatnya sembari tersenyum lebar.
“Di suruh mama?”
“Mama, Jon. Mamakmu juga dia sekarang.” sahut Dominic dengan ekspresi badutnya.
“Geli aku manggil mama, rasanya aneh, mirip anak pungut aku. Beda skin, beda logat.”
“Halah lambemu, cukk. Mamak mertua jelas beda skin, beda logat. Terus gimana itu, jadinya mau mulai kapan kamu kerja di tempatku?”
“Habis ngurus nikahan lah, ribet banget aku lihat jadwal rundown acara yang ibumu atur. Ndasku ngelu. Belum masalah sapi itu, apa iya kalian mau beli lapangan nganggur buat kandang mereka?”
Dominic merenggangkan otot-ototnya yang kaku.
“Biar orang-orangnya mama dan papa yang ngurus, Jon. Nggak usah ikut pusing kamu.”
“Masalahnya aku di suruh cari ramban ibumu, Dom... Di sini cari ramban di mana aku? Mikir? Beli rokok aja aku bingung cari warung. Ini... Apa iyo aku mbabati suket tanggamu terus ngaku-ngaku tukang kebun?”
Dominic terbahak, muka badutnya semakin menjadi-jadi. Rastanty yang mendengarnya di kamar pun ikut tertawa.
__ADS_1
Dari lantai dua, Michelle menonton komedi yang sedang terjadi sambil mengepalkan tangan.
“Bukannya bikin istri ketawa malah jadi penghibur mas dombret... Dasar cookies.”
Terpogoh-pogoh dia turun ke bawah di saat Paijo asyik momong anak dengan Dominic yang menjelaskan pekerjaan yang akan Paijo urus nanti.
“Ntar cincin kawin kalian aku yang tanggung, anggap jadi hadiah pernikahan kalian dari aku sama Rastanty.” Dominic menepuk bahu Paijo. “Tapi titip Budiman, aku sama Rastanty mau goyang dombret sebentar di kamar.”
“Jancukk.” gumam Paijo sembari menoleh ke belakang, Michelle merenggangkan kedua tangannya. Memeluk Paijo dari belakang.
“Nggak perlu momong Budiman lah, momong aku aja, Jon.”
“Besok kalau udah resmi aku kasih sepuasmu... Sesukamu, sampai muntah-muntah pun terserah kamu.”
“Bener?”
“He'eh...” Paijo mengangguk. “Aku janji, tapi malam ini aku momong Budiman sebentar. Hasilnya lumayan.”
Michelle mencubit pinggang suaminya dengan gemes. “Ya udah ayo bawa aja ke kamar, kamu bisa momong dua-duanya sekaligus.” ucapnya manja.
Paijo memutar matanya jengah. “Buat kopi dulu sana sama susunya Budiman baru ngamar.”
“Siap cookies.” Michelle berbalik dengan gaya supermodel-nya ke arah dapur. Di belakangnya Paijo geleng-geleng kepala sembari membuntutinya.
“Bisa nggak kamu biasa aja, Sel. Gayamu ini lho bikin aku positif sayang sama kamu.”
“Halah-halah.” Michelle berbalik sambil mengibaskan rambutnya seraya menangkup kedua pipi Paijo dan mengecup keningnya.
“Kalau kamu positif aku negatif dong, nggak mau... Sudah jelas sumbu wanita itu positif, kamu negatif.”
Paijo berdehem sembari menaruh Budiman di kursi makan bayi. Paijo mendekat, memeluknya dari belakang saat Michelle menakar susu bubuk dengan sendok.
“Jelas negatif, belum tahu to kamu, garis negatif kalau vertikal gimana bentuknya?”
Michelle mengigit bibirnya dengan wajah yang merona. Tetapi meski mulutnya diam, pinggulnya terangkat menyentuh si Jonny yang diam di tempat.
__ADS_1
...----------------...