
Dari dalam bangunan kelurahan bercat coklat muda, Paijo mengamati mobil Michelle menjauh dari tempatnya bekerja sembari bernapas lega.
Antara senang dan sedih, Paijo malah ngeri membayangkan ‘ketahuan dan kebablasan’ yang akibatnya dapat mengubah nasibnya nanti.
Mari berpikir jernih, Jo.
Calon bojomu bukan sembarangan calon.
Pengeluaran besar, kantongmu pas-pasan.
Sadar. Cintamu pasti akan sepahit topi miring.
Paijo yang menjabat sebagai bendahara pembantu kelurahan berbalik seraya menyapa rekan sejawatnya.
Agus, dari bagian ketertiban dan keamanan menyapanya setelah tadi melihat kedatangan Paijo di luar pagar kelurahan.
“Tumben numpak mobil, Jo? Di antar siapa itu, aku lihat rambutnya pirang, kulitnya putih.” Agus menyenggol sikunya sembari menaik-turunkan alis.
“Michelle... adik temenku ngampus.” jawab Paijo sekenanya. Namun matanya sontak terlihat panik, kecemasan memenuhi hatinya saat beberapa rekan yang lain ikut mengerubunginya setelah Agus mengumumkan kabar yang sangat segar bagi bapak-bapak yang sudah mencecap rasanya memiliki uban lebat dan menggendong cucu.
“Kenalin ke kita-kitalah, Jo.” bujuk Agus dengan antusias. “Jarang-jarang lho ada yang temenan sama bule, apikan lagi sampai mau nganter kamu kerja. Ngeri-ngeri sedap itu pasti bule.”
Paijo tak bisa menyalahkan kecantikan Michelle, tapi untuk mengenalkannya pada garangan di depannya yang bernama Agus Sukoco dan bapak-bapak beristri dan beranak mana mungkin. Cari masalah.
Michelle milikku, eh... ngaku-ngaku.
Paijo menghidupkan cpu komputer sembari menghela napas. “Anaknya ke sini cuma piknik mas, nggak niat cari jodoh wong dia sudah punya gandengan. Orang Jogja jodohnya.” akunya tanpa ragu menggenapi penolakan itu lebih serius. Michelle akan menjadi simpanannya, pasti, sebelum urusannya dengan Puspita dan keluarga selesai.
Sudah begitu Michelle mimpi bersamanya dan keberadaan Agus Sukoco yang friendly dan jomblo ngenes + lebih muda dan... kulitnya terlihat coklat manis darinya akan mudah membuat Michelle berpaling.
Agus tak gentar. “Yo minimal kenalin ke kita-kita sambil ngopi-ngopi gitu di angkringan depan kelurahan.” bujuknya sepele, “Ya...? Bagi-bagi kenalan gitu biar kita punya pengalaman kenal sama bule, Jo!”
”Di Malioboro banyak mas, apa di Prawirotaman. Lusinan, tinggal di pilih.” Paijo menjawab dengan racau.
__ADS_1
Sensor bel berbunyi, semua orang kontan menoleh ke arah pintu masuk.
“Wih... ndoro bei Kusumonegoro rawuh kelurahan. Jiann... Salim sik ah...” Sekonyong-konyong pegawai kelurahan bergantian bersalaman dengan Kusumonegoro yang memakai busana abdi dalem tanpa alas kaki.
Bukan tanpa alasan Kusumonegoro di panggil ndoro bei, selain sudah sepuh dan menjadi abdi dalem, Kusumonegoro adalah juru kunci makam keramat di desanya.
Paijo menepuk kening dengan gulungan kertas. Bapak. Ia berdiri, menyambut bapaknya yang membawa fotokopian syarat nikah di map.
“Ada apa, Pak?” tanya Paijo setenang mungkin dengan bahasa Jawa krama.
Kusumonegoro menaruh mapnya di meja dengan wajah serius sekaligus mangkel. Bukannya semalam pulang, Paijo justru ikut menginap di oyo.
“Bapak mau urus nikahanmu dengan Michelle!”
Paijo ternganga lebar dengan dramatis. Secepat ini tanggung jawabnya? Woh... Edan iki, edan. Belum selesai masalah kemarin, datang masalah baru.
Melihat temannya seperti orang kesambet demit pohon duwet belakang kelurahan, Agus menonyor bahu Paijo. “Malah plonga-plongo lho... Di urus ini syarat nikahnya!”
Paijo menyahut map kuning dari tangan Agus yang hendak membukanya.
”Kita ngomong di luar, Pak.” Paijo menggandeng tangan bapaknya lembut, langkahnya pun mengikuti ritme bapaknya yang santun meski hatinya pingin ngegas terus.
Di pendopo kecil yang biasanya digunakan untuk leyeh-leyeh pengunjung kelurahan. Paijo masih ingat pesan ibunya sebelum wafat karena diabetes menahun yang di deritanya agar tidak gengsi memperhatikan bapaknya.
Paijo berjongkok di depan bapaknya yang mengatupkan bibir kuat-kuat. Masih sakit hati ia dengan laku anaknya yang tak mencerminkan suri tauladan yang berkali-kali dia ajarkan sejak kecil.
“Aku pasti tanggung jawab sepenuhnya, Pak. Tapi beri aku waktu, jangan ujug-ujug seperti ini. Malu nanti sendiri nanti kita.” Paijo menggeleng kecil. Bukan begitu caranya. “Ya... bapak tenang... Aku urus sendiri berkas-berkas pernikahanku setelah ketemu Dominic.”
Kusumonegoro menunjuk ke belakang, ke arah lapangan kelurahan yang saban sore digunakan untuk latihan sepak bola.
“Mobilnya di sana, nunggu kamu? Iya?” Kusumonegoro pindah menunjuk wajah Paijo sekarang.
“Di mana kalian semalam? Melanjutkan yang bapak lihat tadi malam?”
__ADS_1
Paijo menghela napas dengan kesabaran yang dipaksakan. ”Aku sudah nyuruh dia jalan-jalan dulu, Pak. Baru nanti ketemu lagi buat diskusi masalah kita tadi malam.” Ia menggeleng, “Di hotel, beda kamar. Nggak di lanjutkan, bapak.” Wong kita cuma pelukan ringan terus pisah, imbuhnya yang hanya bisa dalam hati.
Kusumonegoro melepas blangkonya, membuat Paijo urung tenang sebab tak pernah blangkon itu bapaknya lepaskan dengan mimik sedih seperti itu.
Kusumonegoro menatapnya dengan alis bertaut di bawah cakrawala pagi yang sejuk dan teduh.
“Ingat satu hal yang harus kamu camkan baik-baik, Jo.” Kusumonegoro memasang blangkon di kepala anaknya.
“Gajimu lebih kecil dari dua wanita itu yang berarti kamu bisa di kendalikan mereka.”
“Ngerti, Pak.” Paijo mengangguk dengan wajah murung. Mendadak teringat gajinya sendiri, gaji Puspita apalagi gaji Michelle. Tambah berdenyut-denyut kepalanya. Beda kasta. Beda aliran. Apalagi pengeluaran.
Kusumonegoro menatap anaknya penuh simpati seolah tahu apa yang dipikirkan anaknya.
“Jaman sekarang rumah tangga itu nggak sepenuhnya diisi cinta dan nafsu, Jo. Tapi duit...” Kusumonegoro menunjuk lapangan. “Perempuan itu bawanya mobil. Kamu cuma punya Honda kok ya punya harga diri buat bawa anak orang ke kamar. Gak malu kamu?"
”Enggak, Pak.” Paijo menggeleng, hanya saja ia langsung tersentak sendiri karena jawabannya. Paijo tersenyum kikuk. ”Dominic membumi, Bapak tahu. Adiknya pasti sama.”
“Terus Puspita?” timpal Kusumonegoro.
Gelagapan Paijo menjawab. “Puspita...” Kembali meraba hati, Paijo mengorek-ngorek beberapa momen yang ia habiskan dengan Puspita Anggraeni. Seorang bintara yang bekerja bagai kuda. Berambut cepak, tegas, memiliki senyum irit, tidak romantis tapi berusaha setia di tengah godaan para seniornya.
“Aku tidak bisa membandingkan keduanya, Pak.” ucap Paijo jujur.
Kusumonegoro menarik kedua sudut bibirnya, membentuk senyum prihatin.
“Pikir baik-baik sebelum nurutin nafsu!” Mengambil blangkon di kepala anaknya, Kusumonegoro berdiri seraya meninggalkan Paijo.
Di lapangan kelurahan, Michelle yang berusaha menghubungi Dominic sambil menyandarkan tubuhnya di badan mobil terkejut melihat kedatangan Kusumonegoro.
Gelagapan dia bersikap lalu melepaskan senyum dan mengibaskan rambutnya yang tergulung asal-asalan.
“Masuk, Pak. Masuk... Monggo.” Michelle membuka pintu mobil, Kusumonegoro duduk di jok mobil dengan posisi miring seraya menggosokkan kedua telapak kakinya yang kotor sebelum memijak interior mobil Michelle.
__ADS_1
...------------...