
Hawa panas langsung menjalari sekujur tubuh Michelle keesokan harinya setelah semalam Prambudi berhasil menghalau satu wartawan paling unggul di kediaman mereka untuk menunda bincang-bincang hangat bersama putri kesayangan mereka.
Marisa memang memiliki sifat yang lucu, tanpa tedeng aling-aling, sikapnya yang seperti itu menurun deras pada diri Michelle. Kendati demikian, sikap Marisa yang lain juga tak luput memberikan satu daya magic yang mampu melumpuhkan lawan bicara sekali jadi. Paras menawan serta kerlingan nakalnya dulu melumpuhkan pertahanan Prambudi sampai ia mati-matian perlu mencari segala peluang usaha agar bisa menikahinya.
Tak heran, Prambudi yang mendengar penuturan langsung dari Kusumonegoro langsung yakin pikat putrinya melumpuhkan kesetiaan Paijo terhadap Puspita sekali jadi.
Entah siapa yang salah, dia tidak tahu. Prambudi hanya berharap putrinya dimuliakan oleh kenyataan baik dan Tuhan. Lain halnya dengan Marisa yang hanya mengerti putrinya melakukan perjalanan bisnis dan plesiran di Jogja terheran-heran anaknya menginginkan jodoh dari tanah Jogja.
“Sekarang mama mau tanya, kamu lama banget di Jogja sudah berapa pria yang menggodamu dan kau goda? Sudah ada yang dekat denganmu?”
Michelle komat-kamit dalam benak sembari memainkan gelang murahan lima ribu tiga yang Paijo beli di emperan toko Malioboro.
“Cuma satu kok, Ma. Temennya mas Dominic yang jadi guide aku di sana.”
Dominic dan Prambudi menarik napas seraya menahannya di dada lebih lama. Mata mereka saling melirik meski bibir tertutup rapat.
Marisa menatap sanak keluarganya dengan mata menyipit silau. ”Kamu berkencan dengan guide? Wow... siapa nama temanmu, Dom?” tanyanya sambil mengalihkan perhatiannya pada anak sulung yang berlagak santai.
Dominic mengembuskan napasnya dengan kesal. “Tanya Michelle langsung, mam. Aku ora reti kok!”
“Stop ngomong pakai bahasa Jawa sekarang. Mama malas translate sendiri!” sahut Marisa sambil menuding mulut Dominic.
“Jawab siapa guide itu? Sejauh mana kamu kencan dengan dia?”
Dominic mendorong bahu adiknya. “Jawab, Sel. Ojo meneng wae lah.”
__ADS_1
Michelle meringis aneh, alih-alih langsung menjawab dia meneguk kopi hitam yang membuat ibunya beriuh-iuh... Kopi dengan takaran yang slalu dia buat untuk Paijo itu rupa nampak ngeri. Serbuk kopinya mengendap di bawah.
“Are you sure, baby?” Michelle menunjuk kopi dalam gelas belimbing itu dengan ngeri.
“Enak.” Michelle membersihkan bibirnya dengan tisu. Makin tercenganglah wajah Marisa dan Prambudi. Bahkan tenggorokan mereka rasanya langsung ikut terasa pahit dan buru-buru teh manis hangat di depan mereka tandas seketika.
“Sekarang jawab siapa guide yang kencan denganmu dan bikin kamu lupa pulang?” desak Marisa.
“Paijo, sahabatnya mas Dominic. Absolutely.” Michelle tersenyum dengan bangga dan penuh cinta.
“Paijo yang kemarin waktu acara aqiqah Budiman bantuin mama ngabisin makan-makan terus beres-beres rumah?” sentak Marisa.
“He'em. Laki-laki sejati tidak malu beres-beres rumah!”
Marisa langsung pura-pura pingsan dan terbangun lagi.
Dua wanita itu mendadak keranjingan dengan pesona Paijo dan membuat Prambudi terbatuk-batuk.
“Dia lucu banget, Mam. Pekerjaan keras, humble, galak tapi gemes. Oh my God, mendadak aku rindu sama dia. Pengen di peluk” Michelle mendekap bantal sofa dan mencubitnya gemas-gemas sambil menatap bapaknya dan mengerling jail.
Melihat putrinya berbunga-bunga, Marisa melirik Dominic sambil menyentakkan dagunya ke pintu keluar menuju kolam renang.
“Mama mau interogasi siapa Paijo itu dari gambarmu! Cepat...”
Dominic mengacak-acak rambut Michelle setelah beranjak. “Kacau, cukk...”
__ADS_1
“Spill yang baik-baik mas, ASN, juragan sawah.” Michelle mengedip-edipkan matanya.
Sementara di depannya, Prambudi bersedekap dengan raut wajah yang hendak menginterupsi.
“Sudah putus dia dengan tunangannya?”
“Baru di tahap itu, Pa. Kemarin waktu aku pulang. Aku takut di tembak Puspita dan Paijo lebih memilihnya makanya aku kabur demi keselamatanku sendiri” Michelle meringis.
Bahu Prambudi melorot dan ia kehilangan semangat untuk pergi bekerja.
“Sudah main-main sejauh apa kamu sama Jonny?”
“Gak pernah main-main ya, Pa. Aku serius.”
“Sudah kawin kamu sama dia?” tanya Prambudi dengan intonasi serius.
“Kalau itu belum.” Michelle menggelengkan kepala dengan sikap lega. “Im still your little daughter, papa.”
Prambudi ngelus dada seraya mengucapkan kata selamet-selamet.
“Harus ada cinta yang tulus jika kamu mau membawa Paijo ke rumah ini, Icel. Ibumu jauh lebih selektif daripada papa!”
Michelle memalingkan wajah ke arah kolam renang, tempat Marisa menguliti hal-hal tentang Paijo dari Dominic.
“Semoga mas Dominic ngomong yang baik-baik, Pa. Nggak mau lepas dari Paijo aku, udah sayang.”
__ADS_1
Prambudi hanya mampu mengiyakan. Sekalipun di larang, putrinya yang sanggup berdikari itu pasti akan meninggalkan rumah dan hidup lepas darinya. Itu tidak mungkin terjadi. Bisa-bisa dia akan di usir dari kamar oleh Marisa. Mengerti kan alasannya?
...----------------...