Saat Bertemu Kamu (Romantic Scandal)

Saat Bertemu Kamu (Romantic Scandal)
Jengah


__ADS_3

Esok harinya... Paijo bergeming sambil menyaksikan wajah istrinya yang masih terlelap dalam keadaan telanjang.


Cantik dan natural, rambutnya yang acak-acakan bahkan iler yang tak akan wanita itu sadari saking lelahnya mencetak putra-putri penerus bangsa membuat Paijo tersenyum.


“Kalau sampai dia tahu aku lihat ilernya, pasti dia nggak bakal ngaku. Foto sek...”


Paijo meraih ponselnya dan terkaget sendiri melihat jam berapa ia bangun.


“Edan... jam 11. Ngalah-ngalahi kebo turu.” Paijo meringis senang sambil membayangkan kembali bagaimana malam tadi terlewatkan dengan fantastis. Keperjakaan hilang, Michelle senang dan tuman, ia pun sama.


Malam pertama yang terjadi terus berulang sampai pagi menjelang, sampai Michelle ahli dalam menciumi kejantanannya tanpa tersentuh gigi.


Sebagai pria yang sudah lama menanti wanita yang memujanya tanpa cela Paijo betul-betul beruntung memiliki wanita sekenthir Michelle dan ia akan bertekad membalas kekenthiran wanita itu dengan kekenthiran yang sama agar selaras.


Paijo mengabadikan wajah istrinya sebelum berselfie ria. Meski aneh dan mengatakan dirinya seperti kecoa yang hinggap di porselen putih, Paijo akan bertekad bodoh amat.


Setelah mengabadikan momen langka, Paijo meraih dagu Michelle. Menggerakkannya sampai bibir sensual itu terbuka dan kelopak matanya membuka perlahan.


“Cookies, ganggu...” ucap Michelle dengan serak.


“Udah jam 11, Sel. Makan siang.”


“Ya ampun.” Wanita itu bangkit dan menjerit setelah selimut yang menutupi tubuhnya merosot, menampilkan *********** yang penuh mahakarya Paijo semalaman.


”Oh my Gosh... Wow...” Michelle berdecak takjub.


Paijo menjawil pucuknya seraya memelintirnya dengan iseng.


“Aww... Perih, Jo... Lagi, lagi biar semangat.” bujuk Michelle sembari menegakkan tubuhnya dan menguap.


Kendati masih lelah dan kembali gerah. Setiap sentuhan jemari Paijo membawa Michelle ke titik dahaga. Terulang lagi siklus yang sama seperti semalam sebelum keduanya pindah ke kamar mandi.

__ADS_1


Michelle melepas bulu mata palsunya di depan cermin oval dengan Paijo yang memegangi pinggulnya. Rupanya penyatuan mereka masih berlanjut namun kali ini Michelle lebih memilih melihat bagaimana ekspresi Paijo saat mendesaknya.


Detik demi detik berjalan. Kegiatan itu kian lama kian menakjubkan. Paijo menatap wanitanya lewat cermin.


Mata Michelle mengelap dengan mulut ternganga. Ia melepas desahann panjang sewaktu ia mendesaknya berulang kali lebih dalam dan cepat sampai lutut keduanya terasa lemas sebelum kembali benih penerus bangsa dan trah mereka Paijo semburkan.


“Enak?” bisik Paijo di cuping telinga istrinya sebelum mengigit gemas cupingnya.


Michelle mencengkeram tepi wastafel sembari mengangguk dengan napas yang tak beraturan.


“Mantap sekali, Jonny. Wuh...” Michelle mengibaskan rambutnya yang lepek di dadanya ke belakang seraya berbalik.


“Kamu membangun aku terus, sweetie.” Wanita itu naik ke cor-coran wastafel yang berlapis granit seraya melingkar kakinya ke kaki Paijo.


Matanya sekilas menatap si Jonny yang basah dan hangat seraya mendongak.


Michelle tersenyum gemas. “Bagus banget besar. Bikin aku ketakutan, takut keenakan.”


“Nanti malam lagi yoo, sekarang kita mandi terus makan. Jujur aku butuh makan sama kopi.”


“Sama banget, aku butuh makan biar kuat lihat kamu.” Michelle menurunkan kakinya sambil nyengir. “Lama-lama pegel juga, nanti kita spa yuk sama relaksasi.”


Paijo terjebak dalam masalah baru. Spa? Relaksasi? Biasanya juga dia cukup minum jamu tolak linu sambil pakai minyak urut. Bersama Michelle rupanya ia harus merasakan beragam variasi baru yang lebih modern.


Sore harinya, gabungan antara serangkaian aktivitas ringan dan tidur-tiduran sang mempelai harus terganggu kala telepon dari Marisa yang mengatakan bahwa sebentar lagi ia akan berkunjung ke kamar.


Paijo gegas membereskan pakaian mereka yang baru ia kumpulkan di pojokan ke dalam keranjang sementara gaun pengantin ia gantungkan di dekat kamar mandi. Ia pula membereskan dan mengelusi sarung bantal dan seprai yang kusut biar lumayan rapi.


“Lihat sapu nggak, Sel?”


“Nggak ada cookies, ini bukan rumah tau...”

__ADS_1


Di sisi lain, tepatnya di depan cermin. Michelle sendiri langsung membubuhkan foundation, concealer, dan semua alas bedak yang bisa menutupi bercak-bercak merah di dada dan beberapa titik di lehernya dengan terburu-buru.


“Jo... Lihat deh mana yang kelihatan kontras?”


Yungalah... Paijo membuang putung rokok ke tempat sampah, tisu dan berbagai bungkus makanan yang mereka pesan sebelum menengok leher dan dada Michelle yang nampak terlihat kontras dengan kulit aslinya.


“Mending kamu pakai kaosku, Sel.” kata Paijo sambil berkacak pinggang. “Pupurmu kebanyakan warna, jadi plonteng.”


“Kurang rata ya... Aduh mama... ngapain sih pakai acara berkunjung segala. Ganggu... huh...” gerutunya sembari melepas gaun musim panasnya.


Paijo pun harus segera terbiasa melihat Michelle dengan santai berjalan setengah telanjang untuk mengambil kausnya dan rok kotak-kotak dengan kain tartan di koper.


Tak lama yang tidak diharapkan untuk sementara waktu datang. Michelle dan Paijo saling menggenggam kedua tangan dan saling bertatapan.


“Kita hadapi mama dengan senyum bahagia, ceria walau kantung mata tidak bisa di ajak bohong.” ucap Michelle.


Paijo menarik napas dalam-dalam dan mengembuskannya.


“Aku yakin mbokmu tanya-tanya suatu yang nggak normal!”


“He...” Michelle menyunggingkan senyum lebar. Keduanya melangkah ke arah pintu yang terus di ketuk dari luar dengan bergeser perlahan-lahan tanpa melepas genggaman tangan.


Mencoba sabar, Paijo berdoa dalam hati agar tetap waras. Terlebih saat pintu terbuka, rombongan keluarganya masuk tanpa basa-basi sambil bertepuk tangan dan menghidupkan terompet lidah dibarengi petasan kertas ulang tahun.


Paijo mematung, Michelle nyengir. Mereka saling melirik di tengah suasana yang meriah dan tak terduga itu selama beberapa menit sebelum lengan mereka di tarik Marisa untuk merayakan hari jadi pelepasan keperjakaan dan keperawanan itu dengan meniup lilin dan bercumbu mesra.


“Punya cucu... Punya cucu...”


Kusumonegoro meniup terompet lidah sambil memejamkan mata. Jengah.


...----------------...

__ADS_1


__ADS_2