
“Baby, apa kamu tidur nyenyak?” tanya Michelle sambil menepuk-nepuk lengannya. Berjam-jam ia menunggu Paijo yang party sendiri di bar sampai cemas, namun setelah datang Paijo langsung tidur dengan posisi tengkurap tanpa memberinya ciuman selamat malam atau pelukan.
Michelle mendengus. Paijo yang menghabiskan waktu di bar vila sampai tengah malam dengan mencicipi minuman-minuman berkelas sudah bablas menuju dunia mimpi yang indah berwarna.
Michelle menggoyangkan lengannya, berusaha membangunkan Paijo yang membuat misinya jadi serba salah.
“Sweetie, aku tadi keluar vila cuma beli jamu tolak angin buat bapak sama koyo, bukan ke mana-mana apalagi ketemu Richard. No, sweetie. Icel juga beli popok bayi sama jajanan, nggak aneh-aneh.” jelas Michelle dengan suara parau sementara mana mungkin Paijo terbangun bahkan sampai esok hari.
Ketegangan menjalani tubuh Michelle. Ia mengguncang lengan Paijo dengan kuat-kuat sampai pria itu menggeram singkat dan terlelap lagi.
Tak berhasil membuat suaminya terbangun. Michelle menghubungi Dominic yang menetap di Banyuwangi sebelum melakukan penyebrangan di selat Bali besok siang. Tetapi hal yang sama dia rasakan, tidak ada bala bantuan untuk mencari tahu cara merayu Paijo.
Michelle meletakkan ponselnya di nakas, dengan mata yang terus mengedip-edip di bawah lampu taman, ia memilih memeluk suaminya dan mengusahakan untuk terlelap.
“Jangan sampai Richard benar-benar sandiwara. Gaswat, baby.”
Keesokan harinya, Michelle yang tak bisa bangun terbangun lebih dulu dan masih mendapati Paijo masih terlelap bahkan ngorok.
“Sweetie, bangun yuk. Kita punya acara hari ini.” ucapnya lembut merayu.
Kendati sudah semangat 45 membangunkan suaminya, Paijo yang sudah bertekad untuk tidak menerima hadiah dari Richard ingin membiarkan hadiah itu berlalu tanpa cerita dan kenangan. Makanya mabuk adalah jalan pintas paling mudah daripada bersandiwara.
”Ya sudah, kalau capek banget Icel biarin aja. Icel keluar deh.” Michelle menciumi pipi Paijo seraya mengendus aroma yang dia ketahui sangat. Ia mengendus sebal sembari mencubit kedua pipi Paijo.
“Mabuk kamu, Jon.. Joh... Tiwas aku sudah khawatir semalaman. Jancuuk kon.”
__ADS_1
Wanita itu bergerak mundur dari ranjang seraya mengganti gaun tidurnya dengan pakaian olahraga.
“Joging dulu, Pak. Sarapannya nanti di antar ke sini.” ucapnya pada Kusumonegoro sembari jalan di tempat.
Kusumonegoro yang baru melinting rokok kreteknya di kursi kayu mengangguk. “Ati-ati.”
Michelle berdehem seraya mempercepat langkahnya keluar vila. Dia melakukan pemanasan sementara waktu sebelum bergerak meninggalkan vila menuju pantai.
Wanita itu menikmati matahari terbit dan semilir angin dengan beryoga dan ketika sedang namaste sembari memejamkan mata bahunya di sentuh seseorang.
“Sweetie.” ucap Michelle dengan semangat sembari menoleh. Kelopak mata wanita itu melebar seketika. “Richard?”
“Hai sweetie... Gimana malam pertamanya?” Richard yang kebule-bulean dengan badan atletis tanpa kaus membuat Michelle meringis. Semua ototnya terlihat menonjol dan hidup duduk di samping Michelle.
Michelle yang mendengarnya tak kuasa terbahak. “Serius?”
“Serius, aku yang nemenin sampai nganter dia ke vila. Katanya biar kaya mendadak.”
“Ah, sweetie.” Hati Michelle mendadak trenyuh. “Dia mungkin malu jadi suamiku.”
“Mau gimana lagi?” Richard mengambil batu pantai seraya melemparnya ke pantai. “Orang yang nggak tau dia suamimu pasti cuma akan di anggap sopir sama orang awan. Ubah penampilannya. Larang dia pakai sendal jepit!”
Michelle menarik sudut bibirnya. “Nggak bisa, mas Dominic larang aku atur Paijo. Istrinya pernah protes nggak suka barang mahal apalagi harus hedon.”
“Up to you, sweetie. Tapi nanti malam jadi?”
__ADS_1
Michelle nampak berpikir keras lalu menggeleng. “Beda misi.” Wanita itu meringis perlahan seraya menjelaskannya perubahan rencananya.
Richard menggeleng sambil menatap takjub wajah wanita itu. “Kau benar-benar akan menguasainya, Cel.”
“Yah... Aku ingin menguasai apa yang aku inginkan agar nyaman dan jangan pergi.” Michelle menepuk-nepuk telapak tangannya yang kotor oleh pasir pantai.
“Balik? Udah sejam aku keliaran.” ucapnya sambil berdiri.
“Aku jamin suamimu belum bangun.” Richard mengikuti Michelle berjalan ke arah vila sembari merenggangkan otot-otot lengan dan punggungnya.
Keduanya berada di jalan setapak berkonblok di tengah vila sambil mengobrol-ngobrol perihal acara nanti dan dekorasi pesta sebelum bergeming ketika Paijo keluar dari vila sembari merenggangkan tubuhnya yang ngilu.
“Pagi, sayang.” kata Paijo dengan muka kusut sambil berjalan ke arahnya. Batin Paijo bergumam pria semalam ketika menatap Richard.
“Pagi juga sweetie.” Michelle hendak mencium pipinya, tetapi Paijo menahan kedua lengannya dengan kepala yang meneleng ke arah Richard. Paijo yang belum mengenal jika itu Richard menaruh curiga.
“Habis olahraga berdua anda dan istri saya?”
Michelle menggeleng. “Tidak sweetie, dia...”
Richard mengangguk sambil mengangkat tangan. “Saya menemukannya tadi di pantai sedang melamun, jadi saya antar kembali dan anda... tampan sekali.”
Paijo menyunggingkan senyum dengan aneh seraya mundur teratur dan masuk ke kamarnya dan mengunci pintunya.
...----------------...
__ADS_1