Saat Bertemu Kamu (Romantic Scandal)

Saat Bertemu Kamu (Romantic Scandal)
Ngambeks


__ADS_3

Baling-baling helikopter yang di tumpangi Kusumonegoro dan anaknya perlahan-lahan berhenti bergerak di landasan helipad suatu vila di kawasan Legian Bali sekitar pukul tujuh malam.


Menggunakan jaket kulit dan topi hitam serta kaki jenjang yang terbungkus jins ketat, Michelle keluar dari helikopter terlebih dahulu sebelum meraih cucu Kusumonegoro yang girang bukan main bisa naik pesawat cilik.


Paijo turun, membantu Kusumonegoro yang kelihatan keliyengan dan pucat alih-alih bahagia tiada tara keinginannya sudah mantunya turuti naik helikopter.


“Makin tak sayang-sayang kamu sudah bikin keluargaku seneng. Makasih ya, baby.” ucap Paijo kikuk seraya mencium pipi istrinya demi manja-manja, tetapi bonusnya kepalanya malah di balas dorongan tangan ponakannya.


“Pakdhe mambu.”


“Mambu-mambu mbahmu.”


“Ngomong opo, Jon!” celetuk Kusumonegoro.


Michelle terbahak sambil membetulkan posisi gendongan ponakan laki-laki yang nampak nempel sekali punya budhe sekeren Michelle.


“Sampean mambu ta, Mas? Mambu prengus?”


Co-pilot yang mendengar bahasa Jawa Malangan itu nyengir sembari menutup pintu helikopter setelah semua tamu yang ‘berbeda’ dari biasanya keluar.


Seumur-umur sering bawa tamu bule, belum pernah ada yang nyantol sama beta. Kurang keren apa aku ni?


Paijo mendengus sembari mengikuti langkah Michelle menuju mobil buggy yang menjemput mereka sebagai kendaraan menuju vila untuk pesta besok malam.


“Prengus-prengus gini yoo kamu kekep setiap hari. Gitu kok ngece.” gumam Paijo.


Michelle melirik tajam ke arahnya seraya menjulurkan lidah.


“Emang enak jadi cowok ambigu.”


“Ambigu piye?”

__ADS_1


“Ribut... Ribut...” timpal Kusumonegoro setengah mangkel. “Bapak mumet ini. Wes cukup!”


Michelle meringis melihat betapa jengkel dan bingungnya Paijo sekarang sampai pria itu lebih memilih membuang muka, menonton vila yang teduh dan asri di sepanjang jalur mobil buggy yang mereka lewati.


Aku kerjain kamu, Sweetie.


Di sisi lain, dalam hati Paijo menggerutu. “Ambigu gimana to maksudnya? Aku sudah nggak macam-macam lho. Masih di tuduh aneh-aneh.”


Mobil buggy yang bergerak lamban berhenti di vila nomer 15. Pegawai hotel yang menyopiri keluarga itu turun seraya mengambil tas-tas ransel yang berisi pakaian ganti.


“Silakan, Puan dan Tuan.”


Pintu dengan ukiran khas Bali di dorong pergi vila. Michelle berdecak sambil melihat-lihat suasana.


“Persiapan untuk wedding party besok malam sudah?”


“Semua dekorasi di lakukan besok pagi, Nona. Jadi sementara tempat ini di persiapan, akan ada tour untuk pengantin dan bonus vila sebelah dari pak Richard.”


“Ya, Pak Richard. Beliau akan berkunjung besok malam.”


“Oh my God.” Michelle berdecak kagum. “Sampaikan terima kasih padanya. Saya akan menunggunya dengan senang hati.”


Pegawai vila itu tersenyum sembari meletakkan barang-barangnya ke sebuah sofa.


“Makan malam akan di antar satu jam lagi. Saya permisi, Puan dan Tuan. Selamat beristirahat.”


Paijo mengantar pegawai vila itu keluar dari ruang tamu seraya mengaku hendak merokok di luar sebentar.


Michelle mencebikkan bibir. “Paling-paling dia mau tanya Richard siapa. Hihi...”


“Tapi jangan sering begitu. Nanti ribet sendiri kamu.” Kusumonegoro menasihati. “Belum pernah to kamu lihat Paijo marah?”

__ADS_1


“Icel cuma pingin tahu, Pak. Mas Paijo cemburu tidak kalau ada yang dekat-dekat istrinya. Selama ini nggak pernah dia bilang cinta sama Icel.” akunya dengan sedih.


Kusumonegoro menghela napas. “Yang penting nanti kamu sabar ngadepin Paijo yang cemburu.”


“Siap.” Michelle pindah ke dekat jendela, ia mengintip Paijo yang membagi rokoknya ke pegawai vila yang memakai pakaian adat Bali.


“Siapa Richard, Bli?” tanya Paijo sembari duduk di bangku mobil buggy.


“Teman, Nona. Pemilik vila ini.”


“Oalah. Jadi tidak bayar dong ini sewa vila dan pesta pernikahan di sini? Atau pakai harga teman?”


Pegawai vila yang sudah mendapat kongkalikong dengan Michelle mengangguk.


“Semua gratis, Tuan. Karena nona anak manis kesayangan tuan Richard.”


“Alhamdulillah, mas. Semakin banyak teman baik Michelle semakin banyak hadiah. Senang lho aku dapat gratisan begitu. Uangku jadi utuh.”


Pegawai vila itu tersenyum dan mengangguk seraya mengisap rokoknya.


Paijo terbahak melihat betapa gelinya pria paruh baya itu seolah tahu ia tidak memiliki banyak uang. Muka ndeso-nya tidak bisa di ajak berdusta.


Asem tenan, habis ini aku akan berburu harta karun!


Paijo masuk ke vila, dia mendapati Michelle melepas jaket kulitnya sembari tersenyum seolah tidak mengetahui apa yang terjadi dan menganggap usahanya lancar.


Dan karena Paijo masih gething tidak punya duit banyak seperti Richard atau istrinya, ia meneruskan acara merokoknya di kursi santai di dekat kolam renang sambil melihat langit Bali yang di penuhi bintang-bintang.


Michelle mengintip. “Frustasi nggak ya, sweetie? Aduh...”


...----------------...

__ADS_1


...----------------...


__ADS_2