
Keesokan harinya. Suara kolam riuh dengan suara kecipak dan jebar-jebur wanita berbikini dan pria-pria berkolor pantai di rumah Prambudi Dwayne. Keluarga luar negeri Marisa masih ilir mudik di rumah itu dengan santai.
“Bapak sakit po?” tanya Paijo setelah keluarga besar bahagia nan sejahtera itu memutuskan kembali ke rumah setelah melewati makan malam yang romantis di hotel berbintang.
Meringkuk di kamar, Paijo yang terusik saat bapaknya enggan bergabung di halaman belakang untuk barbeque-an menemukan bapaknya serupa orang meriang.
Kusumonegoro semakin menyembunyikan tubuhnya di bawah selimut meski mulutnya masih menyesap rokok kretek.
Paijo menaruh makan dan secangkir teh hangat ke meja.
“Yo kalau sakit itu rokoknya stop dulu... Baunya sampai ke mana-mana. Takut ganggu.” Paijo mengingatkan.
Kusumonegoro memejamkan matanya. Ngantuk iya, bosan iya, pingin pulang juga iya. Berada di balik megahnya rumah itu membuatnya ngelu sendiri. Pegel-pegel. Tapi besannya itu masih mencegahnya dan keluarga kecil putrinya dengan segala bujuk rayu agar ikut pesta after wedding di Bali.
“Bapak mabuk, Jon. Belum-belum apa sudah pusing.”
Hati Paijo mendadak tergelitik sesuatu. Bapaknya mabuk laut, naik kapal serupa bencana lokal baginya.
“Kan bisa minum ctm. Apa mau naik pesawat?”
“Helikopter gimana, Jon?” Kusumonegoro nyengir. “Mertuamu itu kan rada-rada sableng, pasti bisalah kirim bapak ke Bali pakai pesawat.” ucapnya setengah lirih.
Badannya yang membungkuk semakin bungkuk saat berbisik ke putranya.
“Lumayan, sekali-kali. Pumpung lagi banyak saudara. Gengsi masih di pertahankan.”
__ADS_1
“Yo nggak gitu, Pak.” Paijo mengusap kupingnya yang panas. “Yang lain saja naik bus, bapak naik pesawat. Apa itu nggak aneh?” keluh Paijo. Mendadak ikut pusing.
“Kamu usahakan untuk bapak lah, bapak aja kemarin juga usahakan untuk kamu.”
“Walah... Pak... Pak... Aji mumpung!” Paijo beranjak dari kursi sembari menghela napas. “Aku cari Icel dulu. Bapak keluar ajalah, nggak enak sama mereka.”
“Males, Jon. Mata bapak panas.”
“Halah, ngomong aja kalau nggak kuat lihat isinya.” seloroh Paijo sembari melesat cepat keluar kamar saat bapaknya ngedumel.
“Kenapa sweetie?” tanya Michelle yang mendapati suaminya cengengesan.
Paijo mencomot kue yang dibawa Michelle.
“Bapak, em...” Paijo berdecak, lumayan ragu namun usahanya tetap lanjut. “Bapak pingin naik helikopter atau pesawat waktu ke Bali. Mabuk laut.”
“Matanya panas, ngeri lihat saudaramu.”
Michelle semakin tertawa. “Aku cariin tiket deh buat bapak. Adikmu mau sekalian?”
“Nggak enak aku, saudaramu pada naik bus.” aku Paijo jujur.
“Nggak masalah sweetie, mereka naik bus karena mau plesiran dan lihat pemandangan lain sebelum ke Bali. Nggak bakal jadi masalah kok. Easy, baby.” kata Michelle santai, lalu mengernyitkan dahi dan berpikir keras.
“Bapak mabuk laut, tapi nggak mabuk udara? Bener? Gelombang di atas kadang lumayan lho. Mending kita naik mobil, nanti aku sewa helikopter buat nyebrang aja. Gimana?” tawar Michelle yang langsung di setujui Paijo.
__ADS_1
“Maaf ya, wong ndeso, keseringan di darat.”
Michelle memanyunkan bibirnya seraya mencium pipi Paijo sembari menyingkirkan nampan yang ia bawa.
Paijo tersenyum. Harus biasa di sosor di sembarang tempat.
“Mau di darat, di laut, di udara, Icel tetap mau sama Paijo.”
Senyuman di bibir Paijo makin merekah, dia mengangguk lalu menatap Michelle yang nampak memakai celemek.
“Udah sibuk kamu? Udah nggak sakit badanmu?”
“Cuma ngilu-ngilu dikit.” bisik Michelle takut ada yang dengar. “Nanti boleh nggak Icel di sembur di luar?”
Paijo menyunggingkan senyum dengan aneh. Ingin menolaknya, tetapi mana bisa. Pengantin anyar!
Alhasil Paijo mengangguk. “Kita sama-sama gila ya...” ucapnya setengah bercanda.
“Nggak papa yang penting kamu super membanggakan.” Michelle batal mengantar kue buatannya, dia menaruh nampannya di meja seraya menggandeng lengan Paijo.
“Kita ke kamar aja yuk, siap-siap buat ke Bali.”
Alasan.
Paijo menggubris ajakan Michelle dengan senyuman. Lagi-lagi memang hanya senyuman yang bisa ia berikan karena bagaimana pun meski status sosial tidak pernah di singgung, dia merasa nurut saja dengan si kaya akan menaruhnya pada posisi aman.
__ADS_1
...----------------...