Saat Bertemu Kamu (Romantic Scandal)

Saat Bertemu Kamu (Romantic Scandal)
Ketemu kamu


__ADS_3

“Joh... Joh... Perkoro Puspita kok bangkit kembali. Wes koyo Susana bangkit dari kubur.” keluh Paijo keesokan paginya sambil mengeringkan kulit ular sanca kembangnya di bawah cahaya matahari pukul setengah delapan.


Michelle yang mendengarnya sambil menjemur baju tidurnya ke halaman belakang rumah berdehem-dehem.


“Berkeluh kesah terus kamu ini.”


“Juoh...” Paijo beranjak lalu menyahut pakaian dinas kemesraan berwarna merah marun dengan bahan seperti jaring nelayan dan berenda di bagian tepinya dari tali kenur. “Mau jadi omongan sekampung kamu jemur lingerie di sini? Kenthir.”


Paijo memasukan lagi baju itu ke dalam ember hitam yang di tenteng Michelle.


“Jemur di kamar, di kipasi kipas angin.”


“Kenthir.” balas Michelle tak kalah semangat lalu menghentakkan kaki dan masuk ke dalam rumah.


Paijo meringis seraya menarik ekor ularnya yang hendak minggat dari pandangan matanya ke arah tempat yang dijadikan lokasi rewang para saudara dan tetangga.


“Ayo masuk similikiti, wes wayahe turu.”


Michelle semakin sebal mendengar nada manja yang diutarakan Paijo untuk ularnya.


Icel harus rayu dulu, giliran sama ular jadi perayu. Dasar mantan jomblo nggak laku.


“Pasti batin yang enggak-enggak.” tukas Paijo sembari memasukkan ular similikiti ke dalam bok yang sudah di lubangi kecil-kecilan di semua bagiannya dan menutupnya.


Michelle mendengus. “Udah deh sweetie, kamu urus pakaian tidurku terus mandi. Kita ke Polsek sekarang! Icel mau dandan.” ucap wanita itu sembari menyodorkan embernya.


Paijo tersentak kala ember itu menubruk perutnya. “Kemarin manja minta ampun, sekarang galak pol-polan. Aneh, wuu. Perempuan kok gampang berubah. Ra jelas.” ucapnya sambil menyampirkan pakaian tidur Michelle di samping jemuran kain Kusumonegoro sebelum menyahut handuk dan mandi.


Setengah jam kemudian, berada di sedan merahnya. Paijo ketar-ketir ketika jarak dengan Polsek tempat kian dekat.


“Nanti kamu di mobil dulu, beri aku kesempatan untuk mendengar Puspita mau atau tidak ketemu kamu.”


“Ketemu kamu aja dia pasti muntah.”


“Iyo muntah, aku njijiki soalnya.”


Michelle memanyunkan bibir lalu memeriksa penampilannya di kaca.


“Pipiku tambah gemuk kayaknya, kelihatan gemes daripada seksi.”


“Tak terima mau gemes apa seksi. Nggak usah khawatir.” balas Paijo sambil membelokkan mobilnya ke dalam parkiran Polsek. Dia menghela napas lalu menyentuh dadanya.

__ADS_1


“Kamu aja gimana Sel yang cari surat izin keramaian? Males aku.”


“Cium aku dulu sampai puas.”


“Malah nambah-nambahi kerjaan. Yowes sini dekatan.”


Michelle memanyunkan bibirnya yang di beri gincu model Korea style ke arah Paijo. Paijo pun memanyunkan bibirnya sebelum keduanya berciuman dengan mesra sekaligus menggelikan.


Komandan Wisnu membuka pintu Polsek seraya menonton mobil keren yang membuatnya berdecak kagum.


“Jarang-jarang wey ada mobil ginian mampir ke sini. Wong penting pasti.” Komandan Wisnu mendekat tanpa berpikir sang pemilik sudah keluar dari mobil.


Tak di sangka, saat ia menyentuh mobil itu seraya mengelusnya sampai di bagian kap mesin, kaca depan mobil yang tak segelap kaca-kaca yang lain membuat Komandan Wisnu menggebrak kap mesin dengan semangat.


Blak.... Blak... Blak...


“Turun kalian, mesum kok di depan Polsek. Nyali besar banget... Turun!” ucapnya mengagetkan Paijo dan Michelle yang langsung melepas pertautan bibir mereka.


Michelle mengusap bibirnya yang begitu basah sementara Paijo membelalakkan mata begitu juga komandan Wisnu.


“Juoh... malah dipergoki komandan.” katanya sembari menundukkan wajah.


“Turun, Jon. Emang dasarnya kamu ini bajingan yoh...” seru komandan Wisnu sembari menggebrak kap mobil.


“Buset...” Komandan Wisnu terperangah akan kecantikan wanita yang menantang tatapannya. “Siapa nama kamu cantik?”


“Nggak usah tanya-tanya siapa namaku. Mau kamu catat di buku laporan kan? Nggak perlu. Me, ke sini sudah ada keperluan yang lebih penting!” ucap Michelle ngegas.


“Silakan masuk kalau begitu. Monggo cah ayu.” Komandan Wisnu tersenyum sambil mempersilahkan tamunya ke arah pintu Polsek yang terbuka.


Paijo keluar dari mobil setelah membetulkan bajunya, ekspresi wajahnya, dan rambutnya yang di uyel-uyel Michelle.


“Baby...”


Michelle mendorong gemes bahu komandan Wisnu seraya merangkulkan tangannya ke lengan Paijo.


“Permisi komandan.” ucap Paijo dengan suara laki-lakinya yang berwibawa.


Komandan Wisnu mengelus bekas jemari Michelle. “Pantas saja Puspita diselingkuhi. Simpanan Paijo memang sesuatu banget!”


Dengan langkah tegap komandan Wisnu mengikuti sang pengantin yang menyita perhatian seluruh polisi yang bertugas.

__ADS_1


“Amankan Puspita!” ucap Bripka Miska lalu menengok ke lantai dua bersamaan dengan suara karet sepatu yang menuruni anak tangga.


Puspita terperangah melihat mantannya dan wanita yang langsung melambaikan tangan kepadanya. Langkahnya sampai berhenti di anak tangga. Ia membeku dengan mata yang bertambat pada Paijo yang tampak geli-geli gelisah.


“Puspita, hai...” seru Michelle.


Semua orang langsung waspada melihat drama cinta yang mendadak menghentikan segala kegiatan di Polsek tersebut.


“Puspita sini deh. Aku kasih tau.” rayu Michelle dengan manja.


Komandan Wisnu menggelengkan kepala di belakang pengantin itu. Paijo mengusap lehernya, jantungnya berdetak melebihi gebrakan double pedal. Semua orang juga langsung bertanya-tanya ada apa ini. Kenapa berani sekali pria yang memporak-porandakan hati rekan datang!


Puspita mengangkat hormatnya seraya menuruni anak tangga. Dia mengeluarkan pistol dari sarungnya dan meletakkan di depan Paijo. Tetapi komandan Wisnu dengan sigap meraihnya, mengamankan kondisi agar tidak melebar ke mana-mana.


“Ada yang bisa saya bantu?” tanya Puspita seraya menatap Paijo dan Michelle dengan sikap yang diusahakan biasa. Dia sudah mendengar selentingan kabar yang berkaitan dengan keluarga mantan tunangannya dan dia sudah menyiapkan diri sewaktu-waktu kejadian yang tidak diharapkannya terjadi.


Michelle membalas hormat kepadanya seraya tersenyum sedih.


“Bapak nyuruh kami buat minta surat izin membuat keramaian biasa, mau nanggap Jathilan Minggu besok untuk acara ngunduh mantu. Boleh?”


“Tidak boleh.” seru Puspita lugas.


“Kok tidak boleh ta? Kenapa? Kamu dendam sama saya? Iya.” rengek Michelle sembari menggoyangkan lengan Paijo saat Puspita mengiyakan tegas banget.


“Sweetie, rayu Puspita sweetie... Rayu sampai dapat.”


Paijo? Sweetie? Puspita menarik napas dan menahannya di dada. Mesra banget panggilannya. Suaranya lembut lagi. Pantes dia kecantol bule pirang.


Paijo meringis aneh sewaktu Michelle mendorongnya ke arah Puspita.


Untung sudah terdeteksi sejak dini sifat kenthir nya ini. Jadi pahamlah.


Paijo memberi hormat pada Puspita. “Selamat siang Puspita, selamat bertugas, dan mengemban tugas negara. Saya Paijo, ingin mengajakmu bicara.”


Puspita melebarkan mata sembari menatap Paijo yang nampak sangat berbeda. Wanginya, penampilannya dan caranya menatap. Susah hati ia tiba-tiba dan terpaksa ia menundukkan kepala.


Tambah ganteng suami orang.


Puspita mengangkat tatapannya seraya mengalihkan tatapan ke Michelle.


“Ke angkringan depan.” ucapnya seraya melangkah terlebih dahulu keluar Polsek.

__ADS_1


...----------------...


__ADS_2